
"Siapa yang meminta kalian untuk memasak makanan seperti ini!" Sentak Rian pada semua pelayannya.
"Maaf tuan, tapi bukankah tuan sendiri yang meminta kami untuk membuatkan sup itu karena--"
"Buang semua makanan-makanan ini!" Sentak Rian lebih keras memotong ucapan pelayannya.
Dan dengan sangat takut pada akhirnya semua pelayan pun mulai mengambil kembali satu persatu makanan yang sudah tersaji.
"Tidak usah." Ujar Ziva dan Semua pelayan pun seketika terdiam dengan menatap padanya.
"A-aku hanya tidak menyukai ini, jadi sebaiknya ini saja yang kalian ambil dan yang lainnya biarkan tetap disini." Ziva memberikan semangkuk supnya pada salah seorang pelayan dihadapannya.
Pelayan itu pun hanya terdiam dengan menatap kearah Rian, mereka takut jika mengambil sup itu kembali dari tangan Ziva akan menimbulkan masalah baru bagi mereka semua.
"Ambilah dan biarkan yang lainnya disini aku akan memakannya, hum?" Ziva kembali menyodorkan mangkuk yang berisi sup tersebut.
Ditatapnya oleh pelayan itu Rian yang kemudian mengangguk dan akhirnya pelayan pun mengambil supnya kembali dari tangan Ziva.
"Sekarang kau duduk lah dan cepat makan." Rian menarik perlahan tangan Ziva dan gadis itu pun duduk kembali.
"Haah... hay makanan lezat bersiaplah kalian akan aku kurung didalam perutku ini." Kata Ziva yang kemudian langsung mengambil satu persatu makanan yang tersaji.
Melihat gadis yang sangat mirip dengan mendiang istrinya itu makan dengan lahapnya, Rian pun hanya diam dengan senyumannya sembari terus menatap wajah Ziva tanpa berkedip sedikit pun.
__ADS_1
"Dulu kau tidak selahap ini setiap kali makan Namira, tapi sekarang aku melihatmu dengan hal yang berbeda, aku berjanji apapun yang kau inginkan akan kupastikan semua akan terpenuhi dengan baik."
Rian terus saja bergumam dalam hatinya dengan terus menatap bagaimana wajah yang selama 3 tahun ini tidak bisa ia lihat kini bisa ia tatap dengan lebih nyata, bahkan sudah berada disisinya.
"Kau tidak makan?" Tanya Ziva saat menyadari jika dirinya ditatap oleh Rian disampingnya.
Seolah tidak menyadari jika Ziva tengah bertanya padanya, Rian masih saja diam dengan terus menatap Ziva seraya bibirnya yang masih tersenyum.
"Hey..." Ziva menepuk telapak tangannya dihadapan Rian dan seketika itu juga Rian pun tersadar dari lamunannya.
"Egh... iya kenapa?"
"Kenapa tidak makan?" Tanya Ziva yang dengan berani mendekatkan wajahnya tepat diwajah Rian.
Terlihat bagaimana Rian yang sedang tersipu saat ditatap oleh Ziva dengan sangat dekat, sampai membuatnya pergi lantaran tidak ingin pipinya yang terlihat merona itu nantinya akan jadi bahan tawaan untuk Ziva.
"Dasar aneh, menatapku sejak tadi tapi saat ku tanya malah pergi."
Setelah menghabiskan makanannya, Ziva masih duduk diruang makan seraya kembali berpikir bagaimana cara dia untuk bisa kabur dari Mansion Rian yang sangat besar bak istana tersebut.
Terlebih lagi dengan penjagaan disetiap sudut rumah yang membuat Ziva terkadang hampir menyerah untuk bisa kabur. Tapi bukan Ziva namanya jika ia tidak berusaha mencari berbagai cara agar apa yang diinginkannya bisa tercapai.
"Hey, siapa namamu?" Sapa Ziva pada Luna, pelayan yang tengah membereskan sisa makanan dimeja makan tersebut.
__ADS_1
"Aku?" Kata Luna dan Ziva pun mengangguk.
"Lihat ini." Luna menunjukkan namanya yang sudah ada di pakaiannya. "Oww... Luna." Kata Ziva dan Luna pun kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Ziva yang mulai menyusun rencana licik diotaknya pun kini mulai beraksi dengan halus. "Luna, apa kau tau siapa aku?"
"Aku tau, kau adalah calon istri dari tuan Rian bukan?"
"Apa? Calon istri? Apa pria gila itu yang mengatakan pada pelayannya ini jika aku adalah calon istrinya?" Gumam Ziva dalam hati.
"Ahh... kau benar, aku adalah calon istri tuan Rian. Sekarang karena aku adalah calon nyonyamu maka aku ingin kau menemaniku untuk berkeliling dirumah ini." Kata Ziva yang mencoba menipu Luna.
"Apa kau sudah meminta ijin pada tuan?" Tanya Luna yang takut jika sampai tidak ada ijin dari Rian maka akan menimbulkan masalah yang keruh bagi semua pelayan atau pun pekerja lainnya yang bekerja di Mansion.
"Tentu saja, kalau belum mendapat ijin darinya mana berani aku mengatakan ini padamu." Mendengar ucapan Ziva membuat Luna sedikit ragu, benar atau tidak yang diucapkan Ziva, jika tidak Luna sangat takut kalau nanti tuannya itu akan marah besar padanya.
"Ayo lah, apa yang kau pikirkan?" Ziva menarik tangan Luna dan membawanya pergi meninggalkan ruang makan.
"Tapi itu--"
"Sudah biarkan saja lagi pula banyak pelayan lain, apa kau mau kupecat?" Luna pun menggeleng dengan cepat.
"Kalau begitu ayo temani aku berkeliling." Dengan patuh Luna pun hanya bisa menuruti keinginan dari wanita yang ia tau jika itu adalah calon nyonya dari pemilik Mansion yang ia tinggali.
__ADS_1