
Bab 1
Mulai berubah
Pagi hari, Hanum baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya yang akan berangkat ke kantor. Usai menata dua piring nasi goreng udang sosis di atas meja, dia pergi menuju ke dalam kamar untuk mandi sekaligus membangunkan Reno. Setelah itu, dia menyiapkan pakaian kerja sang suami.
"Mas, bangun, hari sudah pagi," ucap Hanum dengan lembut. Dia mengusap rahang tegas suaminya agar terbangun. Tak butuh waktu lama, Reno menggeliat dan membuka kedua mata. Tatapannya tertuju pada sang istri yang sudah tampil cantik dengan senyum mempesona.
"Aku mandi dulu, Han," ucap Reno datar.
Hanum hanya bisa memandang punggung tegap Reno dengan tatapan sendu. Biasanya ketika bangun pagi Reno selalu memberikan kecupan selamat pagi tanpa peduli dirinya sudah mandi atau belum. Hanum selalu menerima dirinya apa adanya tanpa banyak komentar semisal belum gosok gigi dan lain-lain.
Beberapa minggu ini sikap suaminya berubah drastis. Dia tidak lagi romantis seperti dulu saat baru menikah. Urusan kantor lebih di prioritaskan ketimbang rumah tangganya yang sebentar lagi akan memasuki usia satu tahun. Yaitu, tepat di tanggal dua puluh lima januari. Tersisa beberapa hari lagi perayaan Universarry pernikahan mereka akan tiba.
Tak berapa lama kemudian, Reno sudah selesai dengan aktifitas mandinya dan langsung mengenakan pakaian yang sudah di siapkan oleh istrinya. Hanum dengan sigap langsung membantu memasangkan dasi dan merapikan kerah baju. Sementara itu, tangan Reno sibuk mengotak atik ponsel sambil terseyum-senyum. Tanpa sengaja, Hanum membaca sekilas isi pesan balasan yang di kirim oleh Reno ke seseorang yang bernama Clara.
Hati hanum terasa teriris begitu ucapan perhatian pada seseorang di seberang sana tertangkap oleh kedua mata Hanum pada layar ponsel suaminya. Namun wanita itu segera mengalihkan tatap matanya agar tak terlihat oleh Reno jika dia tak sengaja membaca pesan itu.
"Aku sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu, Mas. Ayo! Kita sarapan bersama," ajak Hanum. Dia tetap menampilkan senyum terbaiknya seperti biasa.
__ADS_1
Tanpa membalas ajakan istrinya, Reno mengekori langkah Hanum menuju ke ruang makan. Mereka sarapan bersama dalam diam. Usai makan, Reno langsung beranjak tanpa sepatah kata pun pada Hanum. Namun, sebagai istri yang berbakti pada suami, Hanum dengan sigap membawakan tas kerja Reno dan mengantarnya hingga ke teras depan. Dia juga menyalami tangan sang suami dengan takzim.
Harapan untuk mendapat ciuman di kening pupus sudah. Suami yang begitu dia cintai kini sudah sangat berubah menjadi cuek terkadang dingin bagai es batu. Seketika itu juga membuat mata Hanum langsung berkaca-kaca tanpa Reno ketahui.
Reno langsung masuk ke dalam mobilnya dan meluncur menuju kantor dengan wajah yang berseri-seri. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan gadis pujaan hati yang tak lain dan tak bukan adalah sekretaris pribadinya yang baru di rekrut dua bulan.
Melihat mobil suaminya sudah keluar dari pintu gerbang, Hanum pun kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan beres-beres rumah. Meski sudah ada pembantu yang mengerjakan semua itu, tapi Hanum tetap ikut serta memegang benda apa saja yang ingin dia rapikan.
Dengan hati yang getir, bulir bening itu tanpa perlu ijin lagi untuk membanjiri pipi mulus Hanum yang terawat dan bersih mempesona.
''Non, kenapa?'' tanya bi Mimi yang sejak tadi memperhatikan Hanum beberapa kali menyeka pipinya yang basah.
''Kalau begitu istirahat saja, Non. Ini kan sudah menjadi tugas Bibi. Non tidak perlu setiap hari repot dan capek seperti ini, nanti malah saya jadi makan gaji buta,'' kekeh bi Mimi mencoba menghibur sang majikan dengan selorohnya.
Hanum hanya bisa memberikan senyum palsu penuh keterpaksaan agar tidak terlihat kesedihannya yang begitu dalam. Dia pun kemudian menyudahi pekerjaannya yang belum beres dan di ambil alih dengan segera oleh bi Mimi.
''Saya istirahat dulu ke kamar ya, Bi. Maaf ini saya tinggal gitu aja,'' ucap Hanum.
Wanita itu melangkah masuk menuju ke kamar miliknya dan mengunci pintu itu dengan rapat. Hanum memilih duduk di tepian ranjang dan menyandarkan tubuhnya dengan lesu. Dia pun sedang memikirkan cara terbaik untuk membongkar kelakuan suaminya selama ini di belakangnya.
__ADS_1
Sementara itu,
Sesampainya di kantor, Clara sudah menunggu Reno di dalam ruangan dengan pakaian minim kurang bahan dan sangat seksi mencetak lekuk tubuhnya. Begitu Reno tiba, Clara langsung berhambur ke dalam pelukan Reno dengan tingkah manjanya.
Reno menatap Clara dengan tatapan memuja. Kedua insan tersebut langsung saling melepas rindu dengan berciuuman penuh gairraah.
**
Sore hari, Hanum menunggu kepulangan Reno di ruang televisi sembari menikmati secangkir teh melati. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Namun, belum ada tanda-tanda kepulangan Reno ke rumah mereka. Karena dia sudah menaruh curiga akan sikap Reno beberapa waktu lalu. Dia pun menghubungi orang kepercayaannya di perusahaan Petro Kimia yang saat ini dia percayakan pada Reno untuk menjalankannya.
Hanum menghubungi Bram selaku manager keuangan dan juga orang yang paling bisa di percaya di perusahaan tersebut. Dia meminta bukti rekaman CCTV kantor khususnya ruangan direktur utama. Tak butuh waktu lama, Hanum sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan.
Hanum hendak membuka rekaman yang di kirim oleh Bram padanya. Namun, belum sempat dia membuka file tersebut, Reno sudah muncul di ambang pintu. Hanum menyambut kepulangan Reno dengan seulas senyum seperti biasa. Raut sedih itu telah dia sembunyikan agar tetap terlihat baik-baik saja di mata Reno, lalu Hanum pun meraih tas kerja sang suami.
Hanum pun menyiapkan air hangat untuk Reno mandi dan tak lupa dia juga menyajikan secangkir kopi seperti biasanya membuat Reno biasa saja. Sebisa mungkin Hanum menahan letupan kemarahan karena sikap dingin Reno dan juga sikap cueknya itu.
Reno melepas pakaian yang dia kenakan begitu saja dan melemparnya ke dalam keranjang khusus pakaian kotor. Setelah itu, langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa menyadari ada sisa jejak gadis yang telah membuatnya tergila-gila.
Hanum melihat bekas noda lipstik di baju kemeja putih yang baru saja Reno lempar ke dalam keranjang membuat Hanum langsung di serang rasa penasaran.
__ADS_1
Hanum langsung mendekat ke arah keranjang dan meraih baju tersebut. Dia mengusap noda merah berbentuk bibir seorang wanita pada baju suaminya. Hati Hanum begitu sakit mendapati bukti itu sudah beberapa kali. Tak bisa di pungkiri lagi, tanpa terasa pelupuk matanya pun telah mengembun dan meneteskan air mata.