Hadiah Universary

Hadiah Universary
7


__ADS_3

Reno mengangkat kepalanya yang tertunduk. Perlahan, ia mencoba bangkit untuk menatap Hanum yang berdiri tegak di hadapannya.


Tatapan mata sendu penuh rasa bersalah dia persembahkan pada Hanum.


"Ya, aku ingat, Hanum!" jawab Reno dengan suara tercekat. "Hari ini adalah Universarry pernikahan kita." Lanjutnya.


"Bagus! Mulai detik ini, kita bercerai. Tinggalkan tempat ini!" perintah Hanum. Dia menghempaskan surat gugatan cerai di dada Reno.


"Hanum, aku khilaf! Tolong maafkan aku. Hanum, .... " Pinta Reno dengan suara memohon. Namun, Hanum lebih dulu memerintahkan security untuk menyeret mantan suaminya keluar. Tak lupa, gadis yang bersembunyi di balik pintu ikut di seret keluar.


"Selamat tinggal," ucap Hanum dengan senyum getir yang terbit di sudut bibirnya.


Hatinya berusaha untuk tegar agar tidak lagi mengeluarkan air mata. Akhirnya, dia bisa membalaskan rasa sakit hatinya dengan cara berpisah dengan Reno sekaligus mendepaknya dari kehidupan Hanum sendiri.


''Yang kuat ya sayang,'' ucap bu Winda. Merengkuh tubuh Hanum dalam dekapan hangatnya.


Sementara itu,


Di luar


Reno menghempaskan tangan sang security dengan kasar karena tidak terima tubuhnya di seret-seret.


''Lepaskan!'' sentak Reno.


''Pergi sana!'' usir sang security dengan mendorong tubuh Reno kuat dan pria itu jatuh ke tanah.


Tak lupa pula sang wanita yang sudah sangat berantakan itu juga terjatuh di sisi Reno. Mereka menghempaskan keduanya tanpa rasa belas kasihan sama sekali.


''Ayo, kita tinggalkan saja,'' usul sang security satunya yang bertubuh gempal.


''Ayo,'' dengus yang satunya lagi.


''Brengsek! Awas kalian.'' Reno memaki dengan kesal.


''Mas, bagaimana nasibku sekarang. Ini gara-gara kamu!'' kesal Clara. Mereka berdua pun sontak bersamaan berdiri kembali dan berusaha merapikan kembali pakaian mereka yang sudah compang camping.

__ADS_1


''Jadi kamu nyalahin aku, ayo kita ke kontrakan kamu dulu,'' ajak Reno. Dengan menahan malu keduanya pun langsung pergi menggunakan motor Clara. Tanpa memperdulikan tatapan bingung dari orang-orang kantor tersebut.


Setibanya di kontrakan Clara, Reno dan wanitanya kembali berdebat dan saling menyalahkan atas apa yang sudah terjadi.


''Ini semu gara-gara kamu, pasti kamu sudah membocorkan rahasia hubungan kita ini kan?'' maki Reno kesal.


''Bagaimana bisa aku membocorkan hubungan kita ini, sedangkan kita saja selalu bersama setiap hari. Bahkan saat malam pun sama,'' jawab Clara tak mau terima dengan tuduhan yang Reno layangkan untuknya.


''Lalu kenapa Hanum bisa menangkap basah saat kita sedang berdua?'' tanya Reno dengan heran. Sejenak dia mencoba berfikir dengan tenang untuk memahami semuanya.


''Mungkin dari cctv kantor. Kamu lupa kalau istri kamu itu sang pemilik perusahaan. Sampai sekarang kamu juga cuma janji-janji doang mau ngasih bagian buat aku,'' gerutu Clara.


''Kamu benar juga, pemikiran kamu memang cerdas,'' puji Reno.


''Kita harus selidiki bagian keuangan yang sekaligus orang kepercayaan Hanum. Pasti dia yang sudah memberitahu Hanum soal hubungan kita ini,'' tutur Reno.


Clara mengangguk setuju dengan ide yang Reno cetuskan. Sepertinya mereka akan menyusun rencana agar bisa mengintrogasi Bram. Orang bagian penting yang di beri kepercayaan penuh oleh Hanum.


***


''Iya, Ma. Hanum mau menenangkan diri.''


Hanum mencoba tetap menerbitkan senyumnya meski hati sedang terluka.


''Menurut Papa, kamu menginap saja di rumah. Mama sama Papa tidak tenang melihat kamu seperti ini,'' usul papanya Hanum.


''Iya, Pa,'' jawab Hanum menurut.


Demi melihat orang tuanya tenang, Hanum pun ikut serta bersama kedua orang tuanya pulang. Sementara bu Atma beserta suaminya sudah pulang duluan dengan rasa tak enak hati dan juga kecewa pada anak mereka.


Dalam perjalanan, Hanum hanya diam saja. Tatapannya kosong lurus ke depan tanpa berbicara sepatah kata pun.


Dia masih ingat dengan jelas, suara Reno yang membandingkan dirinya kurang ahli dalam memuaskan suami.


Mungkin saja itu adalah kesalahannya, tapi selama ini saat mereka melakukannya Reno selalu memberikan pujian jika dia memberikan yang terbaik. Tapi kenapa saat bersama wanita lain dia malah di jelakkan.

__ADS_1


Hanum menggelengkan pelan kepanya, dan hal itu pun tak luput dari perhatian kedua orang tuanya yang ada di dekatnya.


Jemari bu Winda pun mengusap lembut punggung tangan Hanum yang saling bertumpu untuk menyalurkan kekuatan.


''Ada Mama dan Papa juga yang akan selalu mendukung kamu,''


Bu Winda mencoba memberikan kekuatan untuk putri semata wayangnya itu. Hanum pun hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Keheningan pun kembali terjadi sepanjang perjalanan hingga tiba di kediaman orang tua Hanum.


''Ma, Pa, Hanum istirahat dulu ke kamar ya,'' pamit Hanum begitu mereka tiba di dalam rumah.


Mereka berdua pun hanya mengangguk mengiayakan ucapan Hanum dan menatap sang putri yang masuk ke dalam kamar.


Baru saja Hanum meletakkan tas kecilnya si atas nakas, dia mendengar suara ponselnya yang bergetar. Menandakan ada pesan masuk pada smartphone miliknya.


Meski malas, tapi Hanum pun meraihnya. Dia takut ada sesuatu yang penting dari kantornya dan ternyata benar. Bram mengiriminya pesan jika ada berkas penting yang harus segera di tanda tangani mengenai kontrak kerja sama.


Hanum pun langsung membalas pesan Bram jika dia besok akan langsung mengurus semuanya. Dia meminta pada Bram untuk membereskan ruangan miliknya dari sisa barang-barang Reno yang ada di sana.


Sesuai perintah yang Hanum berikan, Bram pun langsung mengerjakan tugasnya. Ruangan Reno, kini telah kembali menjadi ruangan milik Hanum seperti dulu.


''Bram, jangan lupa kamu singkirkan juga barang-barang milik wanita itu tanpa ada yang tersisa sedikit pun. Lalu carilah sekretaris baru untukku,''


Titah Hanum yang harus segera di laksanakan oleh Bram. Pria seumuran hanum itu menuruti semua perintah Hanum tanpa terkecuali.


Sosok Bram sendiri memang jarang muncul karena kesibukannya mengelola keuangan perusahaan yang sudah berdiri sejak lama. Hingga perusahaan itu maju pesat dan pindah kepemimpinan karena Hanum menikahi Reno kala itu.


Bram dan Hanum memang sudah kenal lama dan mereka merupakan teman dekat. Tapi Hanum tak lagi berdekatan dengan Bram sudah setahun lamanya sejak dirinya memutuskan untuk menikah.


Lalu kini Hanum telah berpisah dari Reno, apakah Bram akan kembali dekat dengan Hanum. Wanita mandiri, baik tapi cukup pendiam itu?


Hanum memejamkan kedua matanya yang terasa sudah berat. Dia mulai mengantuk karena di saat seperti ini masih juga harus memikirkan perusahaan.


Tepat di satu tahun hari pernikahannya, saat itu pula harus di akhiri kebahagiaannya. Masih banyak impian yang belum bisa di wujudkan olehnya untuk masa depan.

__ADS_1


Hanum dan Reno bukan lagi sepasang suami istri. Kini semua hanya tinggal kenangan.


__ADS_2