Hadiah Universary

Hadiah Universary
29


__ADS_3

Bab 29


Bianglala adalah permainan pertama yang di pilih oleh Hanum. Usai membeli tiket, mereka pun ikut antrian untuk masuk.


"Bram, kita ini seperti anak kecil kalau begini," ujar Hanum.


Posisi mereka mengantri di antara para kumpulan anak-anak sekolah tingkat dasar tanpa mereka sadari sebelumnya.


"Eh, iya juga ya." Bram menoleh ke kiri dan kanan yang ternyata para orang dewasa ada di sebelah kiri. Karena sedari tadi, Bram hanya fokus ingin berada di samping Hanum tanpa ingin berjauhan dan tidak ingin juga ada pasang mata yang menatap kecantikan Hanum di muka umum.


"Pindah dong, kan harusnya di sebelah sana," tunjuk Hanum.


"Ya sudah ayo kita pindah."


Bram langsung segera mencari posisi karena sudah mulai giliran mereka untuk naik ke bianglala tersebut.


"Hanum, apa kamu tidak takut naik permainan ini?" tanya Bram. Dia sendiri merasakan hawa takut ketika benda itu akan di mulai berputar dan naik ke atas.


"tidak dong. Malah seru," seru Hanum antusias.


Kini mereka duduk saling berhadapan dan bianglala itu mulai bergerak perlahan naik ke atas.


Tangan kekar Bram mulai berpegangan pada sisi tempat yang dia duduki dan keringat jagung mulai menetes di pelipisnya. Namun dia tetap berusaha menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.


"Bram, kamu kenapa? Kok pucet gitu?" tanya Hanum khawatir.

__ADS_1


Wajah pria itu tampak pucat pasi di sertai keringat dingin membanjiri keningnya. Berkali-kali dia menyeka keringat itu dengan talapak tangannya. Dia juga menahan gejolak dalam perutnya yang terasa seperti di aduk-aduk.


"Ng–nggak apa-apa," jawab Bram terbata.


"Tapi kamu pucat, pasti kamu takut. Bukannya dulu juga kamu pernah seperti ini," tukas Hanum.


Hingga permainan itu berakhir dan para penumpang mulai turun. Bram tampak oleng-ketika akan turun dan Hanum segera membantunya.


"Hueek!"


Bram segera berlari menuju ke arah toilet yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya saat ini. Hanum tampak cemas melihat pria itu begitu menderita. Bukannya senang ketika menaiki wahana yang telah menjadi pilihan. Akan tetapi, justru membuat salah satu menjadi sakit.


"Ku pikir dia sudah tidak mabuk bianglala. Ternyata masih sama," gumam Hanum.


Wanita itu berdiri di dekat toilet menunggu Bram keluar dari sana. Mata Hanum terus menatap setiap orang yang keluar dari tempat khusus itu dan berharap Bram segera menghampirinya.


Tak lama kemudian, akhirnya Bram pun keluar dengan tubuh yang lemas berjalan menghampiri Hanum.


"Maaf, Hanum," lirih Bram yang merasa tidak enak dan juga malu karena dia terlihat lemah.


"Udah enakan? Yuk ke mobil, nanti aku kasih minyak angin biar enakan."


Hanum menuntun Bram karena takut jika dia terjatuh. Bram menatap lengan kanannya yang di genggam oleh Hanum dengan penuh perhatian itu membuat sudut bibirnya tersenyum bahagia.


"Kamu tetap sama, selalu perhatian seperti dulu." Br berujar dalam hatinya.

__ADS_1


"Nih, oles pake ini bagian leher sama perut kamu."


Setibanya di mobil, Hanum memberikan Bram sebotol minyak angin yang selalu dia sediakan di dalam tas kecilnya.


"Boleh bantuin aku mengoles minyaknya?" pinta Bram dengan wajah butuh di kasihani.


Mata Hanum langsung melotot pada permintaan Bram barusan. Jika dia membantu, pasti secara langsung akan menyentuh bahkan juga melihat tubuh bagian dalam pria itu.


"Buruan masuk, oles sendiri."


Hanum segera mendorong tubuh Bram agar masuk ke dalam mobil sedangkan dirinya menunggu di luar. Karena Hanum tidak ingin melihat pemandangan yang tidak seharusnya dia lihat.


Bram lagi-lagi tersenyum simpul karena melihat ekspresi Hanum yang tampak merona diiringi kesal.


"Udah, sini masuk."


Pintu mobil terbuka dan Bram mempersilahkan Hanum untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Biar aku aja yang nyetir, nanti kamu kenapa-napa. Pasti masih pusing kan itu kepala?" tanya Hanum yang penuh perhatian.


Hati Bram seperti sedang berbunga-bunga karena mendapat perhatian dari wanita yang dia sukai.


"Ya udah kalau kamu maksa, aku keluar dan kamu yang nyetir," kata Bram dengan senang hati.


Hanum telah menunggu di depan pintu dan Bram pun keluar, saat akan bergantian masuk tiba-tiba Hanum tersandung batu yang kebetulan ada di bawah dekat kaki dan tubuhnya terhuyung menubruk tubuh Bram hingga terjatuh bersandarkan mobil.

__ADS_1


Tepat di saat itu pula, sepasang mata tengah menatap ke arah mereka dan membuat wajah seseorang itu seketika menjadi memerah.


"Sialan, berani-beraninya dia nyentuh Hanum!"


__ADS_2