
Bab 26
Reno menyapa orang tuanya dengan ramah dan sopan. Lalu kemudian bergabung bersama di ruangan tersebut.
"Kenapa wajahmu di tekuk?" tanya bu Atma seraya mengelus kepala putranya. Sudah seperti anak kecil yang butuh kasih sayang dari emaknya.
Reno menggeleng pelan, membuat bu Atma tahu sebab apa yang telah membuat Reno tampak muram.
"Kamu bertemu Hanum?" tanya bu Atma.
Pria itu hanya diam saja membuat mamanya mencubit lengan Reno hingga memekik karena sakitnya cubitan yang bu Atma berikan.
"Aww! Sakit, Ma," keluh Reno diiringi ringisan kecil menahan sakit.
"Bagaimana rasanya hidup tanpa Hanum, Ren?" timpal bu Winda yang sejak tadi hanya menyimak.
"Hampa, Ma. Hidup Reno sepi, hatiku serasa kosong." Reno menatap dengan iba pada bu Winda mantan mertuanya.
Bu Winda mengulas senyum tipis mendengar keluhan dari Reno. Wajar saja bila Reno merasakan semua itu. Karena selama ini Reno adalah pria yang paling beruntung mendapatkan Hanum. Namun sayanganya dia menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di berikan.
Hanum yang selalu baik dan menurut, selalu berusaha menjadi istri yang baik dan juga patuh. Dia juga selalu menjadikan Reno pria satu-satunya yang di cintai oleh hanum.
"Kamu menyesalkan?" sambung bu Winda lagi.
"Sangat, Ma. Reno sangat-sangat menyesal telah mengkhianati Hanum. Apakah Reno tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua?" tanya Reno dengan suara paraunya menahan rasa sesal.
"Kamu sekarang harus belajar mendidik istri kamu yang sekarang, jadilah pria yang bertanggungjawab seutuhnya. Apalagi kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." Bu Winda menasehati Reno dengan sabar. Tidak ada rasa dendam dan juga marah meski dia tahu jika anak dari sahabatnya itu telah menyakiti putrinya sendiri. Karena ia pun telah menganggap seperti anak sendiri.
__ADS_1
"Jangan tanyakan soal kesempatan kedua, Nak. Kesalahanmu saja masih belum bisa kamu perbaiki." sambung bu Atma.
"Ma, Reno kok seperti di hakimi ya setelah mengatakan kejujuran ini," ujar Reno yang dirinya merasa terpojok. Padahal naehat dari kedua orang tua itu adalah pacuan untuk dirinya agar tidak menjadi pria yang lemah dengan keadaan.
"Kami tidak menghakimi kamu, Reno. Tapi itu harusnya menjadi pengingat untuk kamu agar sadar diri. Sesuatu yang telah di sia-siakan itu akan sulit kamu gapai lagi." Bu Winda lanjut lagi menasehati Reno.
Mereka terus lanjut berbicara serius serta diiringi perdebatan kecil yang mewarnai cerita malam mereka. Ya, hari sudah malam.
Wejangan demi wejangan telah Reno terima dengan lapang hati. Dia hanya perlu berubah menjadi lebih baik dan bersyukur dengan apa yang sudah menjadi takdirnya saat ini.
Reno pun berpamitan pulang serentak juga dengan mamanya Hanum. Mereka membubarkan diri dan pulang ke kediaman masing-masing.
Lalu, Reno pun tiba di rumah kontrakannya. Sebuah pesan masuk di notifikasi ponsel pria itu dan dia pun segera membukanya. Saat dia tahu pesan yang dia baca itu adalah dari seseorang yang dia kenal.
Raut kecewa lagi-lagi tergambar di wajah Reno. Sudahlah kusut menjadi tambah kusut begitu dia mendapat pesan penolakan dari Rahman.
Tangan Reno mengepal kuat begitu selesai membaca pesan tersebut. Dia tahu siapa orang yang di maksud oleh Rahman.
"Ternyata kau mau menghalangiku," gumam Reno dengan tatapan tajam memikirkan nama seseorang itu.
Suara sepatu high heels memasuki ruang tamu. Reno langsung menoleh menatap sumber suara yang di hasilkan dari bunyi sendal milik Clara. Wanita itu mengenakan pakaian seksinya. Perutnya memang belum terlali membuncit karena baru berusia 3 bulan. Clara memang sudah tidak lagi muntah-muntah seperti bulan kemarin.
Kini malahan Clara sangat berambisi dengan makan. Meski makan dengan porsi yang banyak tidak membuat tubuhnya menjadi lebih berisi seperti wanita hamil pada umumnya.
"Dari mana kamu?" tanya Reno mencegah langkah Clara yang ingin masuk ke dalam kamar.
"Habis dari luar cari hiburan. Enak aja kamu yang seharian ini keluar. Aku bete di rumah," sanggah Clara.
__ADS_1
Reno hanya bisa mendengus mendengar jawaban dari Clara. Tiap Reno pulang tidak pernah mendapatkan sambutan yang baik, bahkan secangkir kopi pun tidak tersedia untuknya.
"Mana kopi untukku?" tuntut Reno.
"Aku capek, kamu buat sendiri aja." Clara langsung melenggang masuk ke dalam kamar dan tidak peduli dengan perintah Reno yang ingin di buatkan secangkir kopi panas.
Bukan kopi panas yang Reno dapatkan dari Clara, melainkan hati dan juga batinnya yang memanas karena sikap wanita itu yang semena-semena sebagai seorang istri.
Tubuh Reno menjadi lemas seketika menghadapi sikap Clara. Tidak pernah lagi perlakuan manis seperti waktu di kantor kala itu.
Reno segera berangkat ke kantor dan menolah sarapan yang di siapkan oleh Hanum demi bisa sarapan berdua bersama Clara.
"Mas sarapan di kantor aja, ada meeting penting pagi ini," kata Reno begitu Hanum menawarkan sarapan pagi untuknya.
Tampak senyum tulus Hanum yang mencoba mengerti soal kesibukannya mengurus kantor. Meski Reno hanya berbohong dengan alasan itu Hanum tetap percaya padanya.
Begitu tiba di kantor, Reno di sambut dengan riang oleh Clara. Secangkir kopi dan juga menu sarapan yang katanya itu adalah hasil masakannya sendiri.
"Mas, kamu belom sarapan kan, ini aku masakin kamu capcay ekstra telur puyuh. Semoga kamu suka ya," kata Clara yang membukakan kotak bekal yang dia siapkan untuk Reno sarapan. Pria itu tersenyum lebar dan senang menikmati makanan yang di bawakan oleh sekretarisnya itu. Dia makan dengan begitu lahap dan kata-kata pujian itu terus terlontar dari bibir Reno membuat wajah Clara bersemu merah.
"Kamu itu udah cantik, baik, pinter masak lagi. Idaman aku banget," seloroh Reno seraya mencubit mesra pipi Clara yang memerah karena pujian manis yang di berikan oleh Reno.
"Makasih, Mas. Kamu bisa aja! oh ya Mas, besok sudah waktunya jatuh tempo aku bayar kontrakan..."
"Mas akan transfer, kamu tenang aja," sambar Reno dengan cepat padahal Clara belum selesai berbicara.
"Aaa, kamu baik banget. Makasih banyak ya Mas Reno. Jadi makin cinta deh sama kamu," ujar Clara. Tak lupa dia mengecup pipi Reno dengan begitu manjanya.
__ADS_1
Kala itu Reno di buat melambung oleh perlakuan manis Clara hingga dia lupa diri. Pelukan hangat dan mesra yang Clara persembahkan hanyalah bualan semu yang menjerumuskan dirinya ke jenjang yang salah hingga menjebak perasaannya ke lembah penyesalan.