Hadiah Universary

Hadiah Universary
9


__ADS_3

''Sia-sia aku membeli makanan itu, ujungnya juga kau muntahin,'' dumel Reno yang samar-samar masih bisa di dengar oleh Clara.


''Jadi kamu ikhlas?'' kesal Clara pada Reno.


''Bukan begitu,'' ujar Reno yang menatap Clara tampak marah padanya.


Clara menangis mendengar perkataan Reno. Dirinya yang sedang sensitif merasa seperti tak penting. Clara lari masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.


Reno yang melihat hanya geleng-geleng kepala. Menyesal rasanya kenapa sekarang malah jadi hidup bersama Clara. Setiap pagi tidak pernah di siapkan sarapan. Malah di omelin. Dia jadi teringat Hanum yang tiap pagi selalu membangunkannya dan sudah menyiapkan sarapan pagi di meja makan.


Perlahan Reno menarik bungkusan sisa nasi bungkus yang Clara makan masih tersisa separuh itu. Di suapkannya ke dalam mulut dengan mata berkaca-kaca.


Rasa tak tertelan dan ingin muntah karena selama ini dia tidak pernah makan makanan sisa. Mengingat dirinya saat ini susah mencari uang hanya untuk sekedar makan saja membuat batinnya teriris perih. Akhirnya dengan susah payah dia menelan nasi tersebut agar perutnya tidak lapar lagi.


Sementara itu di dalam kamar, Clara tengah berdandan rapi karena merasa tubuhnya sudah mendingan. Wanita itu akan pergi ke sebuah tempat di mana dia kemarin bekerja.


Masker dan kaca mata hitam telah bertengger cantik di hidungnya. Rambut yang di biarkan tergerai menambah kesan kemolekan tubuhnya.


Clara keluar dari dalam kamar membuat Reno menatap aneh kearahnya. Dia menghampiri Reno yang baru saja selesai makan. Di lihatnya bekas makanan yang tadi sudah beres.


''Mas, anterin aku pergi,'' pinta Clara.


''Kamu mau ke mana?'' tanya Reno.


''Ke kantor.'' Clara melenggang mendahului Reno.


Reno sejenak bingung kantor apa yang di maksud oleh wanita itu padanya. Tapi langkahnya mengekori Clara yang ada di depannya.


''Jangan banyak tanya. Anter aja ke kantor kita kemarin,'' ucap Clara mengingatkan.


Tanpa banyak tanya lagi akhirnya Reno mengantar Clara ke perusahaan milik Hanum tempatnya pernah bermain gila sekaligus menghkhianati sang istri.


Banyak pertanyaan muncul di kepala Reno apa tujuan Clara ingin datang ke kantor itu. Teringat mereka di usir dan di seret keluar dari tempat itu sungguh memalukan.

__ADS_1


Tapi sepertinya Clara tidak punya malu dan dia berniat datang ke sana ingin menemui Hanum.


Setibanya di sana Reno menghentikan motor maticnya di bawah pohon agak jauh dari pintu masuk. Membuat Clara bersuara.


''Mas, kok berhenti di sini!'' ucap Clara tak terima.


''Nanti ketahuan kalau masuk ke dalam,'' ucap Reno memberi alasan.


''Tapi aku nggak mau capek jalan ke dalam sana jauh, potel nanti kaki aku yang cantik ini,'' ujar Clara kesal.


Dengan terpaksa Reno menuruti kemauan Clara dan mengantar ke dalam. Beruntung tempatnya sedang sepi karena jam istirahat sudah habis jadi otomatis para pekerja sudah sibuk di ruangannya masing-masing.


Clara memasuki ruangan lobby dan langsung bertemu scurity yang berjaga. Dengan amplop coklat yang Clara pegang dia berbicara sopan dan meyakinkan agar dia bisa masuk.


''Maaf, ada keperluan apa mbak kemari? Tanya sang scurity.


''Ah, begini pak, saya di telepon oleh pak Bram untuk datang langsung ke kantor ini untuk mengikuti interview pribadi. Pak Bram sendiri yang menghubungi tadi selepas jam makan siang,'' ucap Clara meyakinkan. Dia pun meraih ponselnya di dalam tas untuk menunjukkan sebuah bukti pada pak scurity tersebut.


'Scurity itu menghubungi nomor ruangan Bram dan yang menjawabnya adalah sang asistennya, yaitu Meta.


'Halo,' sapa Meta


'Maaf Bu, pak Bramnya ada?' tanya sang scurity.


'Tidak ada di ruangan, ada apa pak?' tanya Meta lagi.


'Ini katanya ada yang mau interview langsung di suruh pak Bram, apa benar?' pak Scurity itu kembali memastikan.


Meta yang teringat akan ucapan Bram untuk mencari penggant dirinya pun terpikir ke sana langsung. Tapi Bram belum memberinya kabar jika hari ini ada yang ingin datang, mungkin belum sempat karena habis makan siang. Pikir Meta.


'Ya pak suruh langsung ke atas ya,' titah Meta.


'Baik bu,'

__ADS_1


Pak scurity itu pun percaya dan mempersilahkan wanita yang memakai masker itu. Karena kaca matanya sudah di buka, jadi tidak terlalu mencurigakan.


''Maaf mbak, maskernya silahkan di buka,'' pinta sang scurity.


''Ah nanti saya buka pas tatap buka, karena lagi flu pak,'' bohong Clara.


''Ya sudah, silahkan lewat sini,'' ucap pak Scurity sekaigus memberi arahan lewat mana saja untuk Clara menuju ke ruangan interview yang di maksud.


Karena Clara sangat hapal dia pun melenggang santai menuju ke ruangan di mana dia bisa bertemu langsung dengan Hanum di ruangan direktur utama.


Clara sudah menyiapkan sebuah Rencana untuk bisa mendapatkan uang banyak dari Hanum hari ini. Dengan senyum iblis Clara menyusuri lorong koridor menuju ke ruangan di mana dia pernah memadu kasih bersama Reno.


Di ruangan itu pula bayangan dirinya di seret keluar dengan paksa pun muncul membayang di pelupuk matanya. Rasa tak terima itu kembali muncul membuat perasaan Clara menggebu-gebu untuk segera bertemu dengan Hanum.


Sebelum tiba, dia bertemu dengan Meta yang kebetulan ingin mengantar berkas ke ruangan Hanum dia pun berpura-pura kembali dan bertanya pada Meta.


''Maaf, Mbak, saya mau interview sama pak Bram. Di mana ya ruangannya,'' tanyanya dengan ramah.


''Oh, sebentar ya mbak saya panggilkan dulu beliau di dalam.'' Meta segera menuju ke ruangan Hanum membuat Clara mengerutkan keningnya.


Ruangan Bram kan bukan di sini, kenapa Meta malah memanggilkannya ke dalam sana.


Clara duduk di kursi tunggu yang sudah di siapkan dekat ruangan Hanum. Dia duduk menanti sosok yang akan keluar dari dalam ruangan direktur utama tersebut.


Sementara itu, Meta yang baru saja menaruh berkas di atas meja asisten direktur pun langsung menyampaikan jika ada tamu yang menunggunya.


''Maaf Pak Bram, ada teman bapak yang mau interview, beliau sudah menunggu di luar,'' ucap Meta memberitahu.


Seketika itu juga tangan Bram langsung berhenti mengetik dari atas keyboardnya karena heran atas apa yang di sebutkan oleh Meta.


''Siapa kamu bilang, teman?'' kata Bram mengulangi pendengarannya yang mungkin salah. Dia sendiri tidak ada menginformasikan pada temannya jika sedang membuka lowongan. Tapi mengapa ada yang mengaku orang itu adalah temannya yang ingin di interview hari ini.


Meta langsung gugup karena raut Bram yang sangat serius dan seperti sedang tidak menyuruh siapa-siapa untuk datang ke ruangannya.

__ADS_1


''Iya, Pak. Maaf itu orangnya sudah menunggu di luar,'' ucap Meta takut-takut.


__ADS_2