
Bab 27
Fb On
Ada sebuah berkas yang telah tergolek di ataa meja Hanum dan itu entah kapan sampainya. Hanum membuka map berwarna biru tersebut dan melihat isinya yang ternyata berkas lamaran kerja dari seseorang. Hanum membaca sekilas tentang riwayat pekerjaan orang tersebut yang kemampuannya cukup bagus.
Nama Reno tertulis lengkap di sana, Hanum langsung berdehem dan menghela napas panjang sejenak untuk merilekskan tubuhnya.
Aku kasihan padamu mas, aku bukan wanita yang pendendam. Meski rasa sakit yang pernah kau torehkan masih sangat membekas di batinku. Tapi aku masih punya hati nurani. Perusahaan di wilayah X itu kamu yang mengurusnya dan kini sudah menjulang tinggi mulai merambah ke berbagai daerah perkembangannya.
Apa aku harus kembali menerimamu untuk memimpin perusahaanku? Toh kita tidak akan bertemu setiap hari. Siapa tahu bebanku bisa terbantu jika kamu yang mengurusnya.
Lamunan Hanum seorang diri di ruang kerjanya telah buyar ketika seseorang tengah mengetuk pintu ruangan miliknya.
"Masuk!" sahut Hanum sedikit berteriak.
Lalu masuklah seorang pria yang merupakan asistennya membawakan berkas laporan bulanan untuk pemeriksaan ulang.
Bram menatap lembaran yang sedang Hanum genggam di mejanya membuat pria itu semakin mendekat dan ingin melihat apa yang sedang Hanum pikirkan ketika membaca berkas tersebut.
__ADS_1
"Bu, ini berkas laporannya." Bram menyerahkannya di meja.
"Taruh saja dulu. Tolong sekalian kamu kirimkan email ke Rahman soal penerimaan manager di sana. Saya sudah menyetujuinya," titah Hanum pada Bram yang terus saja memperhatikan berkas lamaran tersebut. Saat terbaca nama Reno di sana dia pun langsung menyela ucapan Hanum.
"Maaf, Bu. Apa itu Reno mant–" ucapan Reno terhenti melihat Hanum langsung menganggukan kepala dengan sekali anggukan yang tampak tegas.
"Tapi, itu nantinya bisa kembali membuat masalah dalam hidup Ibu," ujar Bram seolah mengingatkan.
Hanum tampak berpikir mendengar perkataan Bram barusan.
"Biar saya saja yang akan bantu seleksi lagi, Ibu tidak perlu mengurus itu lagi. Serahkan saja pada saya." Bram memberikan kejelasan soal pengurusan hal tersebut. Hanum pun percaya pada Bram.
Bram pun kembali ke meja kerjanya untuk segera melakukan tugasnya yang sudah dia bicarakan tadi.
Maka email tersebut pun di kirim pada Rahman dan pria itu langsung segera mengirim pesan pada Reno soal penolakan itu.
"Biarkan aku yang selalu dekat dengan Hanum Reno. Kau urus saja wanita uler itu," kata Bram dalam hatinya. Senyum smirk terbit begitu saja di sudut bibirnya.
Bram dan Hanum pun makan siang bersama dan pria itu mencari kesempatan untuk bisa mengaja Hanum keluar berdua agar bisa menghilangkan stres karena pekerjaan. Meski awalnya Hanum menolak, lama kelamaan dia pun menerima ajakan Bram karena begitu banyaknya alasan dan rayuan Bram yang tidak bisa tolak. Setelah di pikir-pikir oleh Hanum, refreshing itu memang perlu.
__ADS_1
"Oke Bu, hari sabtu malam biar saya yang menjemput Ibu ke rumah, ya," saran Bram begitu kesepakatan terjalin.
"Biar saya bawa mobil sendiri, Bram. Kita bertemu langsung saja di restoran tempat janjian yang sudah kita atur," kata Hanum menolak halus tawaran dari Bram.
"Tidak usah menolak, kan tadi sudah bilang untuk refresh. Biarkan saya yang menjemput dan ibu tidak perlu capek menyetir." Bram terus meyakinkan Hanum hingga wanita itu pun menjadi pasrah.
**
Fb Off
Reno duduk di luar teras seorang diri dengan di temani secangkir kopi yang dia buat sendiri tadi. Yang dia lihat setelah selesai membuat kopi, Clara telah rebahan dengan cantik di atas tempat tidur dengan cemilan kentang di tangannya.
Pikiran Reno tertuju pada Bram. Dia sangat yakin jika yang menolak dirinya adalah pria itu. Dalam lamunan malamnya, Reno berusaha memikirkan cara agar bisa kembali masuk ke sana. Ingin sekali dia menunjukkan pada Hanum jika dia itu masih layak.
Reno mengirim pesan pada Hanum, meski jam menunjukkan pukul sebelas malam. Dia yakin jika Hanum belum tidur. Dia tahu dengan jelas jika wanita itu pasti sibuk di ruang kerjanya.
Hanum, kenapa kamu menolakku?
Pesan yang baru saja di kirim oleh Reno telah centang dua abu-abu. Dia pun dengan sabat menanti balasan dari Hanu..
__ADS_1