Hadiah Universary

Hadiah Universary
23


__ADS_3

Bab 23


***


Hanum pagi ini berdandan sangat cantik sekali, tujuannya yaitu ke kantor. Meski lelah, dia harus tetap semangat demi melanjutkan hidupnya.


Sarapan pagi telah tersaji di atas meja makan serta dua orang telah menunggunya di ruang makan. Begitu Hanum keluar dari kamarnya dia heran melihat kehadiran orang tersebut.


"Ma, Pa, kapan sampai? Kok nggak ngabarin Hanum?" tanya Hanum pada kedua mantan mertuanya.


Mantan mertua Hanum tengah bertandang ke rumah pagi-pagi sekali, karena mereka masih berhubungan baik maka bi Mimi pun mempersilahkan menunggu Tuan rumah di meja makan saja.


Setengah jam yang lalu ketika bi Mimi sedang menyiapkan sarapan terdengar suara ketukan pintu membuat ia harus menghentikan aktifitasnya sejenak lalu pergi ke depan untuk membukakan pintu bagi sang tamu. Begitu berhasil membuka pintu asiaten rumah tangga itu sedikit kaget karena kedatangan pak Pram dan juga bu Atma berdiri di depan pintu dengan menampilkan senyum ramah padanya.


"Pagi, Bi. Hanumnya ada kan?" sapa bu Atma begitu wajah bi Mimi muncul di depan pintu.


"Eh pagi nyonya, iya ada. Tapi maaf pagi-pagi begini apa ada perlu sama non Hanum?" tanya bi Mimi dengan sopan.


"Iya, maafkan kedatangan kami yang pagi-pagi buta seperti ini. Kami mau memberi kejutan untuk Hanum. Boleh ya, Bi?" lanjut bu Atma mengutarakan niat dan tujuannya.


"Iya silahkan nyonya," bi Mimi pun mempersilahkan masuk kedua tamunya dan kedua orang tua Reno memberikan kode pada bibi itu untuk tidak memberi tahu pada Hanum langsung.


"Bi, jangan bilang sama Hanum ya, Bibi lanjut saja bekerja. Kami menunggu di meja makan," ujar bu Atma lagi.


Bi Mimi mengangguk paham dengan permintaan bu Atma. Dia pun segera pergi ke dapur untuk melanjutkan kembali kegiatan memasaknya yang sempat tertunda.


Hanum memang tidak pernah melarang orang tua Reno untuk datang ke rumahnya. Karena dia sudah menganggap seperti orang tuanya sendiri. Hubungan mereka pada keluarga Hanum pun tetap terjaga dengan baik meski anak-anak mereka sudah tidak bersatu lagi.


*

__ADS_1


"Baru saja sampai kok, sayang. Kamu udah mau ke kantor ya cantik sekali," puji wanita itu.


"Hanum, maafkan kami yang datang pagi buta seperti ini ya," ujar bu Atma lagi.


"Nggak apa-apa Ma, ayo kita sarapan dulu." Hanum mengajak kedua orang tua di hadapannya untuk sarapan terlebih dahulu. Dia segera menyajikan nasi beserta lauk ke piring masing-masing mantan mertuanya itu.


Pak Pram dan bu Atma tersenyum hangat pada Hanum. Meski sudah tidak memiliki hubungan dengan putra mereka, tapi Hanum masih bersikap lembut seperti dulu. Tidak ada yang berubah dari perlakuan Hanum pada keduanya.


Mereka pun sarapan terlebih dahulu sebelum memulai membicarakan hal penting yang sudah di rencakan.


Pak Pram dan juga bu Atma berniat untuk mengajak kerjasama Hanum untuk mengembangkan bisnis baru yang di miliki oleh pak Pram yaitu di bidang kuliner.


Orang tua Reno memilih membicarakan soal bisnis secara kekeluargaan yang mereka inginkan jika ingin suatu usaha itu berjalan dengan lancar dan sukses. Keyakinan itu sangat kuat dan di yakini akan berhasil berkembang dengan baik nantinya.


Usai menyantap sarapan, mereka pun pindah tempat di mana suasana pagi yang begitu cerah dan sangat menyegarkan begitu cocok untuk mengobrol.


Ketiga orang itu mulai duduk dan membahas tentang bisnis yang akan mereka jalani. Pak Pram memulai penjelasan dan meminta masukan dari dua wanita yang duduk bersisian.


Hanum pun mengangguk setuju setelah kesepakan itu berhasil di buat untuk memulai bisnis baru tersebut.


"Terimakasih ya Hanum, kamu memang wanita yang sangat baik. Jasa-jasa keluarga kamu tidak akan pernah kami lupakan," ucap bu Atma dengan haru.


"Mama nggak perlu ngomong seperti itu, kan sudah dari dulu kita memang saling support dalam hal apa pun," sanggah Hanum.


"Sekali lagi terimakasih ya nak Hanum, kami pamit dulu. Untuk kelanjutkannya nanti kita bisa bertemu langsung di lokasi ya," sambung pak Pram.


"Iya Pa," jawab Hanum santai.


Hanum memang masih memanggil dua orang tua itu dengan sebutan mama dan papa. Dia tidak ingin mengubah panggilan itu meski sudah tidak lagi menjadi menantu di keluarga Pramudja. Bagi Hanum, panggilan itu adalah panggilan sayang yang sudah melekat seperti orang tua kandungnya sendiri.

__ADS_1


Pak Pram dan bu Atma pun pergi setelah berpamitan pada Hanum. Tidak sekali pun mereka menyinggung persoalan Reno di hadapan Hanum. Meski kedatangan Reno tempo hari telah mengisyaratkan jika ada hal penting mengenai hubungan mereka yang telah kandas.


Hanum pun bergegas pergi menuju ke kantornya untuk meeting pagi bersama para staff. Meeting rutin yang di jalankan khusus di hari tertentu saja.


Waktu pun terus berputar dan tak terasa hari sudah sore, Hanum membereskan berkas-berkasnya di atas meja yang masih tampak berserekan.


"Bram, tolong bereskan mejaku ya, sisa dikit lagi soalnya lagi buru-buru nih," titah Hanum begitu keluar dari ruang kerjanya yang melewati meja Bram.


"Baik, Bu," sahut Bram.


"Eh, tunggu!" panggil Bram pada Hanum yang sudah mencapai di ujung pintu keluar.


"Ada apa?" tanya Hanum penasaran.


"Sudah beberapa bulan ini kita sibuk mengurus pekerjaan. Bagaimana kalau kita pergi keluar bersama untuk bersenang-senang, ya.. Hitung-hitung mendinginkan pikiran," usul Bram yang sudah lama ingin mengajak Hanum untuk pergi berdua.


"Nanti aku pikirkan, sekarang aku sedang ada urusan," kata Hanum.


"Saya tunggu ya bu Hanum," goda Bram dengan mengerlingkan sebelah matanya.


Hanum hanya membalas dengan memutar bola matanya karena malas. Bram terkadang serius soal pekerjaan, terkadang juga suka bercanda, tapi kadang juga sangat perhatian. Memang teman kerja yang pas untuk Hanum.


Wanita itu pun segera pergi meninggalkan kantor. Dalam perjalanan pulang, Hanum mendapat notifikasi pesan dari bu Atma yang mengatakan untuk mampir ke rumahnya setelah pulang dari bekerja.


Tanpa Ragu, Hanum pun memacu mobilnya menuju ke arah rumah mantan mertuanya. Karena dia merasa itu ada hal penting yang mungkin akan di bahas atau sekedar untuk main, dia tidak mempermasalahkannya.


Begitu Hanum tiba di depan pekarangan rumah bu Atma, dia melihat sebuah sepeda motor yang terparkir di sana. Sepertinya dia pernah melihat motor itu yang mirip dengan kendaraan seseorang.


"Apa itu motornya Reno?" gumam Hanum yang tiba-tiba menjadi ragu untuk turun dari dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2