
Bab 16
"Mari, Bu silahkan," kata Bram mempersilahkan Hanum untuk keluar dari dalam mobil. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Hanum.
Hanum mengangguk lalu dia keluar berjalan mendahului Bram. Mereka pun segera masuk ke dalam gedung kantor cabang untuk meeting.
Di dalam ruangan khusus semua staff sudah duduk rapi. Mereka telah menanti kedatangan dari pemimpin utama mereka.
Hanum melangkah dengan anggun memasuki ruangan yang mana malah membuat para staff di sana tampak heran.
Tak ada yang menucapkan salam atau sejenisnya sebagai penyambutan. Mereka malah saling berbisik sambil menatap ke arah Hanum dan juga Bram.
"Ada apa dengan kalian. Kenapa semua hanya diam saja?" tukas Bram mewakili pertanyaan Hanum.
"Maaf, Pak. Bukankah yang seharusnya datang adalah pak Reno. Mengapa malah orang lain?" celetuk salah satu dari mereka. Yang mereka tahu pimpinan perusahaan pusat adalah Reno.
"Maka dari itu, meeting pagi ini akan kita bahas pemimpin yang sesungguhnya." Bram lagi-lagi bersuara dengan tegas sedangkan Hanum menempati kursinya.
__ADS_1
Meeting pun di mulai.
Hanum mulai memperkenalkan diri dan juga menerangkan inti-inti dari pembahasan mereka pagi ini untuk memajukan perusahaan mereka yang baru di resmikan tersebut.
Dia juga mempersilahkan untuk mengajukan pertanyaan bagi yang belum paham. Tapi sepertinya semua paham karena Hanum menjelaskan secara rinci poin-poin pentingnya.
"Baiklah, kalau begitu kita akhiri meeting pagi ini." Hanum menutup meeting dan kemudian bubar dari ruang tersebut.
"Kenapa harus Reno yang mereka harapkan untuk hadir di ruangan tadi," gumam Hanum.
"Kan Ibu tidak mengumumkan pergantian kepemimpinan. Mungkin mereka tidak memperhatikan juga nama yang tertulis di setiap lembar kontrak kerja," ujar Bram.
Hanum tampak memijit pelipisnya karena terasa pusing. Bayangan Reno selalu saja datang akhir-akhir ini membuat moodnya berantakan.
Helaan napas pun meluncur dengan sangat berat setelah Bram terdengar membela Reno. Membuat Hanum semakin tidak bersemangat.
"Kita langsung balik aja ke kantor setelah ini," tukas Hanum.
__ADS_1
"Iya," balas Bram.
Setelah selesai makan siang, Bram dan Hanum pun kembali ke kantor. Wanita itu tampak diam tidak bersemangat seperti biasanya. Hingga tiba di kantor dan mereka pun menempati ruang masing-masing.
**
"Mas, kamu mau ke mana?" tanya Clara yang melihat Reno berpakaian rapi pagi ini.
"Diam saja di rumah dan jangan banyak tanya," sahut Reno dengan dingin. Lama-lama Reno muak juga dengan sikap Clara yang selalu menuntut banyak hal sementara dirinya tidak memiliki finansial yang memadai. Penghasilan dari mengojek pun hanya lepas untuk makan sehari-hari.
"Mas, aku berhak tau. Aku ini istrimu!" bentak Clara yang tidak terima di acuhkan oleh Reno.
"Kau itu terlalu berisik Clara. Aku sedang berusaha untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Aku capek jadi tukang ojek, paham!" balas Reno yang tak kalah bengisnya. Pria itu segera menyambar jas yang sudah dia siapkan beserta kunci motornya.
Clara berdecak kesal tanpa ingin beranjak dari kamar meski hanya sekedar mengantar Reno sampai ke pintu depan.
"Cih! Begitu menjengkelkan, kamu beda jauh dari Hanum yang hormat pada suami," gerutu Reno yang kini sudah duduk di atas motornya dan siap untuk pergi.
__ADS_1