
Bab 21
Reno dengan amat sangat terpaksa membereskan rumah tersebut sebisanya, karena dia juga tidak terbiasa beres-beres rumah. Biasa pembantu atau pun juga Hanum yang rajin mengerjakan pekerjaan rumah.
Lagi-lagi harus terpikirkan tentang Hanum, Reno segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia ingin segera selesai dan berisitirahat.
Ketika malam tiba, perut pria yang tengah memakai kaos oblong warna coklat di padu celana pendek selutut itu berbunyi sangat nyaring. Padahal dia sedang sibuk mengotak atik ponsel genggamnya.
"Clara," panggil Reno.
Pria itu keluar dari kamar menuju ke ruang depan di mana tadi ada Clara di sana yang sibuk menikmati buah mangga muda. Namun kini batang hidung wanita itu sudah tidak tampak lagi.
Reno mengulang kembali memanggil Clara sembari mencari keberadaan wanita itu. Akan tetapi, sesampainya di depan dia tidak melihat keberadaan Clara.
Lelaki itu mengusap perutnya yang terus berbunyi. Dia pun memutuskan untuk ke dapur dan membuka tudung saji yang ternyata kosong tidak ada makanan sama sekali.
"Haiss, ngapain aja sih kerjaan wanita itu. Di kasih duit buat belanja tapi meja makan kosong," kesal Reno yang menutup kembali tudung saji itu dengan kasar.
Penghasilannya sehari-hari yang tidak menentu memaksanya harus mengambil sisa-sisa uang tabungan yang dia miliki untuk di berikan pada Clara karena dia memikirkan ada bayi yang sedang bertumbuh di dalam rahim wanita itu dan harus terpenuhi nutrisinya meski apa adanya. Namun sepertinya Clara mementingkan dirinya sendiri dan mengabaikan Reno.
Reno mengusap kasar rambutnya karena kepalanya terasa pening. Reno pun keluar menuju ke teras depan. Dia duduk di sana sembari membawa segelas air putih yang dia ambil dari dalam kulkas. Dia pun mendaratkan bokongnya di kursi dan menyandarkan punggung mencari posisi nyaman.
Tatapan Reno langsung tertuju ke arah seberang jalam di mana ada penjual bakso keliling di daerah kontrakannya. Dia melihat seorang wanita yang tengah asyik menikmati makanan hangat di sana.
__ADS_1
Reno mempertajam penglihatannya yang ternyata itu adalah Clara. Wanita itu sedang asyik menikmati semangkok bakso mamang gerobak di pinggir jalan.
"Hoo, ternyata dia enak-enakan makan bakso di sana. Aku di rumah cuma minum air putih untuk mengganjal lapar."
Langkah lebar Reno lancarkan untuk menyusul Clara yang tak memperdulikannya. Dia pun segera menghampiri Clara yang baru saja menghirup kuah dari mangkok tersebut.
Sluruuuppp ahhhh
Graauukkk
Suara sendawa yang Clara keluarkan terdengar begitu nyaring pertanda dia sangat kekenyangan.
"Sudah ya, Neng?" tanya si tukang bakso pada Clara di saat Reno berdiri tepat di hadapannya.
Reno tak menyahut, dia melihat tumpukan mangkok yang terdiri lima buah mangkok tertumpuk bekas bakso tepat di hadapan Clara.
"Kamu nggak nambah?" sarkas Reno yang tatapannya tertuju pada tumpukan mangkok.
"Ini mbaknya sudah habis 6 mangkok bakso, Mas. Takut nanti mabok bakso kalau kebanyakan," tukas kang bakso pada Reno.
"Oh ya, Masnya juga mau makan ya, silahkan duduk, Mas," lanjut kang bakso yang baru sadar jika dia sedang ada pembeli selain Clara.
"Saya kenyang, terimakasih tawarannya." Reno mendadak kenyang begitu mendapati Clara yang makan seperti orang kesurupan.
__ADS_1
Reno segera membalik badan hendak pergi meninggalkan Clara yang sejak kedatangannya hanya diam menatap ke arah dirinya.
"Mas," ucap Clara lagi di saat Reno mulai melangkah menjauh.
Reno pun menghentikan langkah kakinya tanpa membalik posisi tubuhnya ke arah sumber suara dan juga tidak mengeluarkan jawaban dari panggilan yang Clara seruka. Padanya. Tiba-tiba perasaan Reno menjadi tidak enak.
"Mas, bayarin baksoku ya, aku nggak bawa duit. Tadi langsung aja lari pas liat mang baksonya lewat," pinta Clara dengan suara manjanya. Tangannya pun tidak tinggal diam dan menggelayut manja di lengan pria itu.
Ingin sekali Reno meluapkan emosinya pada wanita di sisinya itu kalau saja sedang tidak di jalan umum. Dia juga tidak membawa dompet.
"Neng, buruan atuh uang baksonya. Saya mau lanjut keliling lagi," seru kang bakso yang ternyata sudah selesai beres-beres.
"Bentar!" sahut Clara.
"Mas, cepetan duitnya. 150 ribu doang kok, nggak mahal." Clara menengadahkan tangannya di depan Reno.
Seketika mata Reno langsung membulat mendengar jumlah yang harus di bayar olehnya.
"Kang, tunggu sebentar, saya ambil dompet dulu di rumah."
Reno langsung menyeret tangan Clara untuk pulang ke rumah mereka dengan tergesa-gesa.
"Jangan kabur loh, Mas!" teriak si kang bakso mengingatkan pembelinya itu.
__ADS_1