
"Iihhhh. Jangan tarik tangan aku kayak gini dong, Mas. Sakit tau!" sentak Clara begitu mereka tiba di depan pintu rumah.
Clara mengusap-usap tangannya yang barusan di cengkram kuat oleh Reno hingga sampai di rumah.
"Kamu bayar sendiri bakso yang tadi kamu makan." Reno langsung saja berlalu tanpa memperdulikan Clara.
"Eh, Mas. Tunggu, minta duitnya dulu," teriak Clara berusaha mengejar Reno ke dalam rumah.
"Duit kan udah aku kasih. Pake itu aja lah," balas Reno kesal.
Clara hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal karena dengan terpaksa harus mengeluarkan uang di dalam dompetnya yang sengaja ia simpan untuk belanja kepentingan pribadinya keesokan harinya.
"Awas kamu mas, tunggu pembalasanku." sungut Clara. Dia pun segera kembali keluar dengan uang yang pas-pasan untuk bayar baksonya.
Clara berteriak memanggil abang penjual bakso tersebut untuk menjemput uang yang akan dia bayarkan. Sedangkan dia sendiri malas untuk menghampiri ke sana karena lelah melangkah yang luamayan jauh dari pekarangan rumahnya.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar, Reno berkacak pinggang dengan tangan sebelahnya lalu tangan yang satu lagi mengacak rambut penuh emosional. Kesal sekali rasanya, karena rasa lapar itu kembali melanda.
Seseorang yang sedang di landa rasa lapar biasanya ada yang emosian, tidak konsentrasi jika sedang melakukan sesuatu, bahkan jika memiliki suatu penyakit seperti sakit lambung maka tubuhnya akan gemetaran. Seperti yang saat iniReno alami yaitu emosian, dia pun langsung menyambar dompetnya yang ada di atas meja kamar beserta kunci motor.
"Mas, mau ke mana? Ikut!" panggil Clara begitu melihat Reno memasang jaket bersiap untuk pergi.
Reno tidak peduli dengan rengekan Clara dan terus melanjutkan apa yang ingin dia lakukan. Lalu Clara pun dengan gerakan cepat menyusul Reno dan langsung naik ke motor.
"Mau ngapain kamu?" ketus Reno.
Pria itu tetap melajukan kendaraannya meski dengan hati yang mendongkol.
"Kamu mau ke mana Mas, pergi kok nyelonong aja nggak pamit sama aku," sambung Clara lagi dan hanya keheningan yang dia dapatkan karena Reno acuh tak acuh.
Reno hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia tidak tahu lagi harus marah atau harus diam saja menghadapi sikap Clara yang semakin hari semakin menambah daftar kekesalan Reno padanya.
__ADS_1
Setelah dua menit perjalanan dari rumah, Reno menghentikan motornya tepat di warung pinggir jalan.
"Ngapain berhenti di sini, aku kira kamu mau ajak aku ke restoran yang dekat simpang empat lampu merah," ujar Clara yang masih berbicara sendiri karena Reno enggan menjawab setiap pertanyaan yang Clara lontarkan.
Usai membeli yang Reno butuhkan dia pun langsung segera kembali mengendarai motornya untuk balik ke rumah. Dia tidak perduli sama sekali dengan Clara yang duduk di belakangnya selalu berceloteh ini dan itu yang semakin membuatnya ingin meninggalkan wanita itu di pinggir jalan.
Langakah Clara mengekor di belakang Reno yang menuju ke dapur dan membuka kantong kresek hitam yang membungkus belanjaannya tadi.
Clara duduk di kursi meja makan memperhatikan Reno yang sedang sibuk memasak sesuatu di atas kompor. Tak lama dia pun menguap hingga beberapa kali karena kondisi perutnya yang sangat kekenyangan tadi. Lalu dia pun merebahkan kepalanya berbantalkan lengan di atas meja tersebut.
Reno langsung membawa makanan yang sudah selesai dia masak beberapa menit dan sudah matang. Pria itu hanya memasak mie instan dengan tambahan telur sebagai menu makan malamnya hari ini.
Clara telah mendengkur dengan keras di atas meja makan tersebut membuat Reno menatap ke arah wanita itu.
" Dasar wanita," keluh Reno seraya menggeleng pelan. Lalu memilih untuk menyantap makanannya karena sudah menderita lapar yang akut.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Reno sudah selesai dengan makan malamnya yang kelewat jamnya.
"Punya istri tapi berasa bujangan." desis Reno begitu dia selesai dengan ritual makannya.