
''Hati-hati ya, Mas,''
Ucap Hanum pada Reno yang tengah masuk ke dalam mobil. Pagi-pagi sekali pria itu sudah bergegas untuk berangkat ke kantor, sampai-sampai Hanum yang ingin membuatkan sarapan pagi pun di tolaknya.
''Mas, ini masih jam 6 loh. Apa sepagi ini meeting bersama client kamu itu?'' tanya Hanum heran.
Reno yang sedang merapikan jas kerjanya pun menoleh pada Hanum dan mengatakan sekali lagi bahwa clientnya sangat penting.
''Iya, ini penting.''
''Sarapan dulu ya, biar aku siapkan sebentar,'' tawar Hanum.
''Tidak usah. Aku nanti sarapan di kantor aja,''
Reno langsung meraih tas kerjanya dari tangan Hanum begitu mereka sudah tiba di depan rumah. Mobil Reno pun langsung melaju hanya dengan warming up beberapa detik.
''Apa yang sedang kamu kejar di luar sana, mas. Tapi tidak apa-apa lah. Untuk saat ini aku lebih baik berpura-pura bodoh saja agar apa yang sedang ingin di lakukan oleh mas Reno akan menjadi bumerang baginya,''
Ujar Hanum seraya menatap kepergian mobil yang Reno kendarai meninggalkan halaman rumah mereka yang cukup luas.
Hanum kembali masuk ke dalam dan segera masuk ke dalam kamar lalu dia pun meraih ponselnya. Sesuatu yang belum sempat dia buka kemarin akan di buka sekarang karena rasa penasarannya sudah sangat tinggi. Hatinya sudah sangat yakin dan mantap untuk melihat adegan apa saja yang mungkin akan kembali melukai hati Hanum.
Wanita itu menghirup udara sebanyak-banyaknya yang kemudian dia hembuskan dengan perlahan. Lalu jemari lentiknya menekan tanda putar rekaman yang mana menampilkan sebuah ruangan kerja yaitu ruang direktur utama yang dulu dia tempati dan sekarang beralih menjadi sang suami yang menduduki singgasananya.
__ADS_1
Tampak seorang gadis masuk ke dalam ruangan tersebut mengenakan pakaian kurang bahan dan menampilkan setiap lekuk tubuhnya yang mirip gitar spanyol itu.
Awalnya Hanum masih santai melihatnya, tapi setelah menit demi menit karena adegan semakin panas hati Hanum terasa terbakar. Mana kala Reno membalas setiap sentuhan yang gadis itu terapkan pada tubuh atletis Reno.
Tubuh berbidang itu di jamah dengan lembut oleh gadis yang di sebut sebagai sekretaris oleh Reno dan pria itu begitu memuja. Seolah dia itu adalah pria lajang yang hidup tanpa beban.
Mata Hanum terasa menghangat dan tanpa terasa ternyata air matanya telah meleleh membasahi pipi mulusnya. Rongga pernapasan Hanum terasa menyempit dan sulit untuk menghirup ogsigen dari luar hingga dia menepuk-nepuk da danya.
''Tega sekali kamu mengkhianati pernikahan kita mas. Kejam sekali kamu menodai pernikahan kita dengan cara seperti ini. Kamu menodai kepercayaanku. Mengotori ruang kerjaku dengan kelakuan bejadmu!'' maki Hanum tak bisa tertahan lagi. Buku-buku tangan Hanum mengepal dengan sangat kuat karena rasa emosi itu sangat memuncak.
Ingin sekali dia datang langsung ke kantor dan melabrak apa yang sudah di perbuat oleh Reno dan mencakar wajah wanita itu dengan sepuas hati. Namun Hanum kembali berpikir dan tidak ingin mengotori tangannya untuk wanita itu atau juga lelaki brengsek seperti Reno.
Hanum menutup layar ponselnya yang sejak tadi video yang di putarnya telah habis. Samar-sama dia mendengar suara pintu kamarnya di ketuk dan bi Mimi memanggilnya dengan pelan.
''Non, ada tamu,'' ucap bi Mimi memberitahu.
Namun Hanum tidak sempat lagi karena terdesak dan dia hanya memoles bedak tabur dan di tepuk-tepuk ke pipinya. Dia pun segera keluar untuk melihat siapa gerangan tamu yang tengah berkunjung ke rumahnya pagi-pagi.
''Hanum,'' sapa seorang wanita yang sangat dia kenali begitu Hanum keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.
Seketika tubuh Hanum mematung begitu melihat kedua orang tuanya dan mertuanya sedang duduk manis di kursi tamu. Dengan terpaksa Hanum mengulas senyum kaku dan segera mecium punggung tangan mereka satu persatu secara bergantian.
Raut keheranan terbit dari wajah mereka yang melihat Hanum tak seperti biasanya. Tapi yang tidak tahan dan langsung bersuara adalah ibunya Hanum.
__ADS_1
''Sayang, kamu kenapa, Nak?'' tanya bu Winda penuh selidik. Beliau merasa putrinya tidak baik-baik saja.
''Tidak apa-apa kok, Ma. Cuma lagi kurang enak badan saja,'' ujar Hanum.
''Hanum, maaf ya kami datang mendadak dan tidak mengabari kalian dulu, karena kami ingin memberi kejutan.'' Bu Atma menimpali. Mertua Hanum itu menatap sendu melihat wajah menantunya yang tampak sehabis menangis. Bukannya beliau tidak tahu jika menantunya itu baru saja berbohong. Pasti rumah tangga anak dan mantunya itu sedang ada masalah.
''Maksud kami datang ke sini itu mau membicarakan soal hari peringatan pernikahan kalian yang sebentar lagi memasuki satu tahun. Seperti tradisi di keluarga kita,'' ujar papanya Reno.
Hanum lagi-lagi di buat terkesiap dengan maksud kedatangan mereka. Dia tidak berfikir bahwa ingin merayakan acara itu bersama keluarga besar. Tapi sedetik kemudian Hanum tersenyum tulus mendengar usulan dari mertuanya.
Sepertinya kedua orang tua itu sudah sepakat dan ingin meminta pendapat pada anak-anak mereka untuk membuat acara itu menjadi lebih meriah. Mengingat mereka adalah orang yang memiliki banyak relasi serta sekaligus bisa meminta doa.
''Terimakasih, Pa sudah mengingat hari bahagia kami. Tapi Hanum sudah memiliki rencana sendiri,'' ucap Hanum.
''Sebaiknya kita rayakan saja di kantor kamu Nak. Bisa ajak para staff kamu sekalian,'' usul bu Winda.
''Tapi, Mama ingin tahu dulu. Kamu sedang menyembunyikan sesuatu kan?'' tanya bu Winda dengan tatapan memicing. Hatinya sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasaran.
Bukan maksud ingin mencampuri urusan rumah tangga sang anak. Tapi hati ibu mana yang tidak tercubit bila melihat wajah sedih putrinya terpatri begitu nyata di hadapannya. Apalagi hati seorang ibu tidak bisa di bohongi sedikit pun.
Sementara dua pria paruh baya yang usianya hampir sama itu juga mengangguk sebagai persetujuan agar Hanum mau berbagi cerita kesedihannya. Siapa tahu mereka bisa membantu memberikan solusi yang baik untuk kedepannya.
Namun hati Hanum masih meragu untuk bercerita. Dia tidak ingin masalah ini di ketahui oleh keluarga besarnya, tapi di sisi lain dia juga tidak ingin tersakiti lebih banyak lagi.
__ADS_1
Bu Atma meraih tangan Hanum untuk memberikan kekuatan agar Hanum tidak perlu ragu. Mereka ada untuknya dan Hanum tidak perlu khawatir.
Cukup lama Hanum berpikir dan akhirnya dia pun membuat keputusan. Hanum mengangguk pelan agar lebih kuat lagi.