Hadiah Universary

Hadiah Universary
8


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, kini Hanum sudah mulai aktif untuk kembali bekerja di perusahaan. Dirinya tengah memeriksa banyak dokumen penting untuk kontrak kerja sama dengan perusahaan lain.


''Permisi, Bu,'' sapa Bram setelah mengetuk pintu ruangan Hanum. Karena pintu tersebut tidak di tutup oleh wanita itu jadi siapa yang datang langsung kelihatan batang hidungnya.


''Masuk, Bram.'' Hanum memerintah Bram untuk masuk ke ruangan.


Dengan gaya maskulin Bram memasuki ruangan Hanum dengan membawa berkas data-data soal biaya barang pengiriman serta pembelian untuk Hanum periksa.


Aroma wangi menghampiri indra penciuman Hanum saat pria itu berdiri tepat di hadapannya. Wangi yang sama seperti dulu tak pernah ada yang berubah dari temannya itu.


''Bram, dari dulu kalau di tempat kerja kamu selalu memanggilku dengan sebutan 'Bu', seperti sudah tua saja aku ini,'' canda Hanum di tengah kesibukannya.


Bram pun menarik kursi dan duduk berhadapan langsung. Karena dia harus menerangkan soal perincian pengeluaran biaya transportasi dan lain-lain pada bosnya.


''Aku harus profesional, apa kamu merasa tidak nyaman dengan panggilan itu?'' tanya Bram.


''Kurang, tapi baiklah. Aku suka yang profesional dalam bekerja,'' ujar Hanum.


''Baiklah, Bu, ini ada sesuatu yang perlu saya jelaskan dengan rinci soal pengiriman barang ke pulau jawa,'' ucap Bram. Pria itu mulai menjelaskan dengan terperinci dan tampak Hanum mengangguk-anggukkan kepala memahami setiap detailnya.


Berlanjut memeriksa berkas yang lain karena begitu banyak pekerjaan menumpuk karena sempat terbengkalai karena masalah kemarin. Bram yang memang selalu cekatan dan pekerjaannya banyak pun masih menyempatkan diri untuk membantu Hanum mengerjakan beberapa dokumen penting.


Hingga waktu memasuki siang, perut mereka mulai terasa lapar dan beruntungnya tinggal sedikit lagi pekerjaan itu akan selesai.


''Bram, maaf aku sudah merepotkan kamu untuk ini,'' kata Hanum.


''Tidak masalah, pekerjaanku tidak banyak hari ini. Jadi aku bisa meluangkan waktu sebentar untuk membantumu karena belum ada asisten,'' ujar Bram santai.


''Oh iya, ngomong-ngomong soal asisten apa kamu sudah menemukannya?'' tanya Hanum.


''Belum, mencari yang pas dengan kriteria Ibu sedikit sulit. Tapi aku akan selalu bersedia membantu ibu jika itu di perkenankan,'' saran Bram pada Hanum.


''Hmm, aku mau saja, tapi pekerjaanmu akan terbengkalai nantinya,'' ujar Hanum


''Aku punya rekomendasi sebagai penggantiku jika aku kerepotan nanti, dia bisa di andalkan juga,'' kata Bram.

__ADS_1


''Ide bagus, siapa?'' tanya Hanum penasaran.


''Meta,'' beritahu Bram.


Hanum sangat tahu juga soal kinerja wanita itu yang berada satu ruangan bersama Bram. Mereka memang orang-orang kepercayaan Hanum.


''Kalau begitu, kamu saja yang jadi asistenku dan tugasmu menjadi beralih. Mencari pengganti Meta kalau begitu, itu lebih mudah bukan?'' tanya Hanum memastikan.


Bram mengangguk karena memang benar adanya. Mereka pun menyudahi pekerjaan itu karena tepat waktunya jam makan siang, pekerjaan pun selesai.


''Terimakasih atas bantuanmu Bram, sebagai ucapan terimasih aku akan mentraktirmu makan siang,'' kata Hanum.


''Baiklah, aku akan ikut saja,'' kata Bram.


***


Bram dan juga Hanum tengah menuju ke sebuah restoran terkenal di dekat kantor mereka. Suasa siang ini cukup ramai dengan pengunjung. Hanum mereservasi privat room agar tidak bising. Wanita itu memang tidak terlalu suka keramaian.


Bram sudah sangat paham jika Hanum tidak menyukai keramaian. Maka dari itu sejak tadi dia hanya mengekori apa yang di tentukan oleh wanita cantik itu.


Namun saat mereka keluar dari restoran itu ada sepasang mata yang memperhatikannya dari halaman parkir motor. Seseorang itu berpakaian rompi khas tukang ojek dengan wajah berjambang tipis dan kaca mata bulat bertengger di hidungnya. Pria itu memicing kala memperhatikan Hanum bersama Bram menuju ke mobil.


Pria itu melihat Hanum di bukakan pintu oleh pria yang sangat ia kenal dan setelah itu Bramlah yang membawa mobil Hanum meluncur ke jalan raya.


Tangan pria itu mengepal kuat begitu melihat mantan istrinya dekat dengan pria lain.


''Baru sebentar saja kau kembali ke kantor sudah berani dekat dengan pria lain,'' dengus Reno kesal.


Ya, pria berjambang tipis itu adalah Reno mantan suami Hanum. Kini profesinya menjadi tukang ojek dengan sisa uang tabungan yang dia miliki untuk membeli motor. Karena semua kartu yang menyangkut perusahaan sudah Hanum block dan Reno tidak bisa berkutik.


Pria itu tak kuasa mendengar caci dan makian dari Clara karena hasil dari perbuatannya kini gadis itu tengah berbadan dua. Reno yang mulanya tidak terima dan menyuruh untuk menggugurkan saja dengan terpaksa harus bertanggung jawab karena sebuah ancaman.


sebelumnya,


''Mas, aku hamil!'' Clara melempar sebuah alat tes pack ke hadapan Reno.

__ADS_1


''Kenapa bisa? Ini tidak boleh terjadi!'' kesal Reno.


''Aku mau kau bertanggung jawab,'' pinta Clara.


''Tidak, aku tidak memiliki apa-apa untuk menghidupi bayi itu nantinya. Kau gugurkan saja,'' ucap Reno dengan enteng.


''Apa kau bilang, Mas. Dasar pria brengsek. Tau enaknya saja, aku mau kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak aku akan lapor ke polisi kalau kau sudah memperkosaku dan kau di penjara!'' ancam Clara dengan bengis.


Mendengar itu Reno pun dengan terpaksa menyetujui untuk menikahi Clara untuk bukti tanggungjawabnya. Kini dia harus mencari penghasilan dengan cara mengojek online.


Kedua orang tua Reno sudah tidak ingin melihat muka Reno lagi jika dia menjadi sosok pria yang pengecut dan tak bertanggungjawab atas perbuatan yang dia lakukan.


Reno pun memutuskan untuk pulang karena hari ini cukup sepi penumpang. Dia akan menunggu orderan saja dari rumahnya.


Setibanya di rumah, Clara sudah menunggunya dengan wajah yang cemberut. Wanita itu tampak pucat karena habis muntah-muntah karena keseringan mual.


''Kenapa lama sekali pulangnya, aku lapar. Mana makanan?'' pinta Clara dengan kesal.


''Ini, kita bagi dua. Aku juga lapar,'' kata Reno menyerahkan sebungkus nasi padang yang dia beli di simpang dekat kontrakan mereka.


''Mana cukup kalau bagi dua, aku kan berdua. Kamu beli lagi saja,'' dengus Clara yang merampas bungkusan nasi itu.


Reno mendengus kesal melihat tingkah Clara yang sangat menyebalkan menurutnya. Banyak sekali permintaan wanita itu yang terkadang membuatnya muak.


Clara segera membuka bungkusan itu dan langsung memakannya dengan rakus. Perutnya sangat terasa lapar karena semua isinya sudah habis dia keluarkan.


''Mas, tolong air minum,'' pinta Clara. Kini moodnya luamayan membaik karena mendapatkan yang dia butuhkan.


''Ckk!'' decak Reno.


Dengan terpaksa Reno pun pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum. Lalu di berikan pada Clara, yang segera di teguknya karena sangat kehausan.


Lalu semenit kemudian, Clara merasakan mual kembali.


''Huweekk!''

__ADS_1


__ADS_2