Hadiah Universary

Hadiah Universary
18


__ADS_3

"Ini, ini hanya—" Reno ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Rahman. Tapi pria di hadapannya itu sangat tahu isi dari benda yang di pegang oleh Reno.


"Berikan pada saya," pinta Rahman.


Reno hendak menyimpan berkas lamaran miliknya ke balik jas, tapi Rahman langsung mengambilnya secara paksa dan membuka lembaran demi lembaran yang yang Reno tulis di dalam map tersebut.


"Bapak mau melamar kerja!" seru Rahman.


Tenggorokan Reno tiba-tiba seperti tercekat dan sulit mengeluarkan suara. Rasa malu datang menghampiri dirinya karena sebuah map tadi. Malah membuat status aslinya ketahuan oleh orang yang dia kenal.


"Bekerja di sini saja, Pak. Sebagai atasan kami lagi seperti dulu. Karena kinerja Bapak tidak dapat di ragukan, kebetulan di sini belum ada yang mengisi posisi itu dengan pasti karena apa-apa selalu di kontrol oleh atasan pusat." Rahman sangat padat menjelaskan maksudnya.


Ada secercah harapan dalam diri Reno hingga membuat wajah murungnya kini tampak bersemangat. Ini adalah perusahaan yang dulu hendak dia kembangkan, karena dia tau sekarang semua Hanum yang pegang. Tapi mantan istrinya itu sulit fokus pada beberapa cabang, maka lebih sering di pusat dan pasti akan menyuruh orang untuk mengontrolnya.


Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk dirinya bisa masuk lagi ke dalam kehidupan Hanum dan besar harapannya untuk bisa memperbaiki hubungan kembali dengan wanita itu. Benak Reno berpikir demikian.


"Bagaimana Pak Reno, apakah anda mau?" tanya Rahman yang mengulang kembali pertanyaannya sebab Reno malah melamun.

__ADS_1


"Ah iya, baiklah kalau begitu!" seru Reno yang segera membalas jabat tangan dari Rahman.


"Tapi, bagaimana bisa saya di terima di sini dan bagaimana jika nanti bos kalian tahu jika saya bekerja di sini?" tanya Reno dengan khawatir.


Rahman pun tampak berpikir dengan apa yang barusan Reno katakan. Pasti Hanum akan datang mengecek ke kantor. Tapi di satu sisi di kantor ini sangat mendesak membutuhkan seseorang yang bisa memimpin dengan baik.


"Nanti akan saya pikirkan, nomor Bapak masih yang lama kan, biar saya hubungi dulu bu Hanum dan membicarakan soal ini."


"Saya yakin dia akan langsung menolak ketika mendengar nama saya nantinya."


"Tapi bapak kan sangat butuh pekerjaan ini. Saya tahu itu," ucap Rahman dengan yakin.


"Bapak sebaiknya lakukan sesuatu untuk bisa kembali bekerja di perusahaan milik bu Hanum." saran Rahman.


"Baiklah, terimakasih."


Reno berpamitan pulang. Dia ingin melakukan sesuatu seperti yang di sarankan oleh Rahman. Selama dalam perjalanan pulang, Reno terus memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam perusahaan itu lagi.

__ADS_1


Namun Reno belum juga menemukan cara yang tepat, tanpa dia sadari ternyata Reno membawa kendaraannya menuju ke rumah orang tuanya.


Begitu motor itu berhenti tepat di halaman yang cukup luas dan sangat asri, Reno tertegun sejenak. Sejak masalah yang pernah dia timbulkan waktu itu, dia tidak di perbolehkan kembali oleh orang tuanya kecuali dia benar-benar sudah sadar secara keseluruhan.


Reno rindu kedua orang tuanya. Dia pun melangkahkan kakinya menuju ke arah rumah yang pintunya tertutup rapat.


Tangannya terayun untuk mengetuk pintu tersebut, akan tetapi belum sempat pintu itu di ketuk sudah lebih dulu terbuka.


Seorang wanita dengan pakaian rapi tampaknya sedang terburu-buru untuk pergi lalu di susul oleh seorang pria yang berpakaian formal dengan warna senada dengan sang wanita.


"Reno!" kejut sang wanita ketika melihat sosok Reno tengah berdiri di depan pintu dengan pakaian yang rapi pula.


"Mama," lirih Reno. Tanpa di minta, mata pria itu berkaca-kaca lalu segera memeluk tubuh ibunya dengan erat menyalurkan rasa rindunya.


Sejenak ibu Reno terharu melihat keadaan putranya tersebut. Tubuhnya tampak tak terawat, wajahnya kusam tapi pasih terlihat tampan. Tampak kumis yang baru habis di cukur itu membuat sang ibu mengusapnya pelan.


"Masuklah," ucapnya lembut.

__ADS_1


__ADS_2