
Bab 25
Hanum baru saja membasuh wajahnya di washtafell. Di tatapnya penampilan dirinya pada cermin, tampak gurat yang sulit di artikan. Antara sedih dan kecewa juga ada rasa kasihan terpatri di wajah cantiknya.
Hingga seseorang muncul di pantulan cermin yang saat ini tengah Hanum hadapi. Itu adalah wajah Reno. Wajah pria yang pernah mengisi hidupnya.
Reno tersenyum menatap wajah Hanum di dalam cermin. Langkahnya mendekat ke arah Hanum membuat wanita itu menoleh kebelakang untuk menolak kedatangan sang mantan.
Namun saat Hanum membalikkan tubuhnya dia tidak melihat siapa-siapa di sana. Kening Hanum pun berkerut saat sosok Reno tidak dia temukan di belakangnya.
"Apa aku berhalusinasi?" gumam Hanum bingung.
Meski sudah berusaha damai dengan masalalu, tapi kenapa bayangan itu sulit sekali di hapuskan dari pikirannya.
Hanum pun gegas keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri para orang tuanya yang sedang serius membicarakan soal pekerjaan.
__ADS_1
"Ma, Pa, Hanum pulang duluan ya. Badan rasanya pegel-pegel pengen cepet istirahat." Hanum menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan untuk membuktikan jika tubuhnya beneran lelah sehabis dari kantor. Alasan yang sangat tepat sekali karena memang Hanum baru saja pulang dari kantor.
"Nggak lanjut lagi ngobrol kayak tadi sayang?" tanya bu Atma yang belum rela Hanum akan pulang.
"Lain kali aja, Ma. Aku beneran pengen istirahat," kata Hanum lembut di sertai senyum tulusnya pada bu Atma.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, nak." bu Winda memeluk putrinya sejenak.
Setelah berpamitan, Hanum pun keluar dari rumah kediaman pak Pram. Mantan mertua yang sudah seperti orang tua kandungnya itu.
Sontak, Hanum terkejut dan menatap ke arah sumber seseorang itu.
"Hanum," sapa Reno. Pria itu melangkah mendekat pada Hanum membuat wanita cantik itu malah memundurkan langkah kakinya.
"Ren, jangan dekati aku. Aku mau pulang," ucap Hanum dan menghindari Reno.
__ADS_1
"Beri aku kesempatan sekali lagi, Hanum." Reno memohon dan berlutut di kaki Hanum. Rasa penyesalan itu terus menghantui diri pria itu.
Sudah untuk yang kesekian kalinya pria itu memohon pada Hanum membuat Hanum jengah. Reno terus memohon pada mantan istrinya agar di beri kesempatan yang terakhir kali untuk memperbaiki hubungan.
Hanum sangat enggan dan melanjutkan langkahnya kembali mendekati mobil miliknya. Reno menarik tangan Hanum dan kembali memohon seperti yang barusan dia lakukan.
"Reno, cukup! Aku lelah." Hanum menepis tangan Reno begitu saja dan segera masuk ke dalam mobilnya lalu memacu kendaraan miliknya dengan kecepatan tinggi.
"Hanum! Hanum!" teriak Reno dan tatapan matanya berubah menjadi berkaca-kaca karena sampai sekarang dia tidak berhasil merayu Hanum.
"Aku tidak akan menyerah sampai kamu mendapatkan penggantiku, Hanum." Reno terus melamun hingga lupa jika dia harus segera masuk ke dalam rumah. Di tatapnya arah jalanan yang tadi Hanum lewati. Hanum sudah sangat jauh bahkan mungkin sudah setengah perjanan.
Langkah kaki gontai itu telah tiba di ambang pintu yang memang terbuka lebar. Reno masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri kedua orang tuanya lalu kedua orang tua Hanum yaitu mantan mertua.
"Reno," suara bu Atma menggema sesaat setelah menatap kedatangan putranya.
__ADS_1