
Hanum mencengkram kuat baju yang terkena noda lipstick tersebut dengan emosi yang tertahan. Bibirnya mengetat dan giginya saling beradu menahan untuk tidak berteriak dan memaki meluapkan kekesalan.
''Awas saja kamu mas, kamu sudah menyalakan api dalam rumah ini,'' lirih Hanum penuh teka teki. Wanita itu perlahan mulai menyusun rencana.
Setelah meluapkan kekesalannya, Hanum melempar dengan kasar pakaian itu kembali ke dalam keranjang semula.
Jemari lentik Hanum menyeka air mata yang tak sengaja membumbung di pelupuk mata. Dia masih akan tetap seperti biasa seolah tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.
Reno keluar dari dalam kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya. Lalu pria itu meraih pakaian yang baru saja Hanum siapkan di tepi ranjang seperti biasa. Lagi-lagi wanita itu harus tergores hatinya saat menatap setitik noda merah keunguan di bagian leher sang suami. Seketika itu juga mata Hanum langsung kembali nanar tanpa bisa di sembunyikan lagi.
Melihat tatapan Hanum yang tampak berbeda, Reno pun menyadarinya dan mendekat pada sang istri seraya bertanya, '' kamu kenapa?'' heran Reno.
Saat itu juga Hanum sedikit tersentak karena tatapan itu tertuju pada leher Reno yang ada bekas tanda kemerahan tersebut. Sadar kemana arah mata Hanum melihat, Reno pun mengusap bagian leher yang sejak tadi di tatap oleh istrinya.
Hanum menggeleng pelan dan meraih handuk yang Reno pegang sejak selesai mengenakan pakaian ganti.
''Ini bekas di gigit semut tadi di kantor. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh,'' ujar Reno menegaskan tentang apa yang menjadi pusat perhatian Hanum.
Hanum tersenyum kecut, '' aku nggak nanya.'' Hanum langsung ke ruang khusus meletakkan handuk dan tak perduli saat ini tampak salah tingkah.
''Ckk!''
Reno sedikit snewen mendengar ucapan Hanum. Tapi rasa kesal pria itu langsung lenyap seketika begitu mendengar sebuah notofikasi pesan dari ponsel miliknya.
Tak lain dan tak bukan pesan itu adalah dari sekretarisnya di kantor. Clara mengiriminya pesan ucapan terimakasih atas hadiah yang Reno berikan siang tadi.
__ADS_1
Reno tampak senyum-senyum dan jarinya lincah mengetik pesan balasan untuk sang sekretaris yang mungkin sedang menanti balasan pesan darinya.
Melihat suaminya lagi-lagi asik dengan dunianya, Hanum pun keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam. Tak ada niatan untuk menanyakan ada apa gerangan seperti sedang gembira dengan satu hal.
Dulu Reno selalu membagi kisah kesehariannya di kantor pada Hanum. Tentang kejadian apa saja yang di lakukan oleh Reno sejak tiba di kantor hingga waktunya untuk pulang ke rumah. Mereka pasti akan menghabiskan waktu dengan bercengkrama bersama yang selalu membuat hati Hanum bahagia.
Akan tetapi kini semua tidak lagi sama. Beberapa bulan ini Reno sudah tidak lagi terbuka seperti biasanya. Pernah hari itu Hanum bertanya pada Reno kenapa sikapnya berubah yang sering senyum-senyum sendiri ketika pulang dari kerja. Bahkan di pagi hari sebelum berangkat juga pria itu melakukan hal yang sama.
Namun jawaban yang di berikan oleh Reno tak dapat membuat hati Hanum percaya oleh bualan sang suami.
''Mas, makan malam sudah diap.''
Hanum kembali ke kamar setelah selesai menyiapkan makan malam di meja makan. Dia masih melihat Reno seperti orang yang sedang di mabuk cinta mirip dengan remaja yang sedang jatuh cinta.
Wanita itu hanya bisa menarik napas dengan sangat dalam dan menghembuskannya dengan sangat kasar untuk menahan rasa sesak yang menggumpal di dadaany.
[Mas makan malam dulu ya sayang, besok kita lanjut lagi]
Begitulah bunyi pesan Reno yang di kirim pada Clara dan langsung cepat di balas oleh Clara.
[Jangan terlalu dekat sama istri kamu ya mas. Apalagi mesra-mesraan, aku nggak mau ngasih jatah nanti di kantor!]
Ancam Clara pada Reno membuat pria itu semakin mengembangkan senyumnya karena senang melihat sang kekasih cemburu pada Hanum istrinya.
Sekian menit kemudian barulah Reno keluar dari kamar dan menyusul Hanum yang sudah menyelesaikan makan malamnya tanpa menunggu dirinya terlebih dahulu.
__ADS_1
''Kamu sudah selesai? Kenapa tidak menungguku,'' ucap Reno sekedar basa basi.
''Aku sudah sangat kelaparan. Karena tadi aku melihat kamu sedang sibuk, makanya aku duluan. Mungkin Mas tidak dengar kalau aku akan menunggumu di meja makan,'' balas Hanum panjang lebar berusaha sesantai mungkin.
Reno hanya mengangguk samar dan mulai makan makanan yang sudah mulai sedikit dingin karena terlalu lama di kamar menghabiskan waktu bertukar pesan pada sang sekretaris.
''Mas, besok aku ikut ke kantor ya. Aku mau kunjungan ke sana,'' pinta Hanum.
''Ngapain kamu repot-repot melakukan kunjungan segala, nggak perlu lah,'' ucap Reno dengan malas.
''Tapi, Mas—''
''Besok pagi aku ada meeting sama client penting. Biar nanti aku yang urus kalau ada apa-apa. Kamu cukup duduk manis saja di rumah dan menikmati waktumu tanpa memikirkan beban pekerjaan,'' tukas Reno dengan cepat.
Hanum kecewa mendengar larangan dari Reno. Padahal dia ingin memastikan sesuatu di sana. Tapi dia tidak perlu buru-buru karena semua bukti sudah ada di tangannya. Hanum hanya perlu melihat bukti yang secara nyata sembari menyiapkan mental dan hatinya agar tidak lagi rapuh menghadapi kenyataan yang akan hadir kedepannya.
Reno yang sudah selesai dengan makan malamnya pun bergegas meninggalkan meja makan dan menuju ke ruang kerjanya.
Hanum hanya bisa menatap Reno dengan tatapan getir karena sikap Reno yang tidak lagi hangat. Meski sesungguhnya Hanum sangat merindukan kehangatan itu, dia dengan terpaksa harus menguburnya dalam-dalam.
Cinta yang Hanum miliki memang sangat dalam pada Reno. Wanita itu mengingat momen romantisnya di awal pernikahan mereka tahun lalu. Meski hingga kini sudah hampir setahun mereka belum di beri keturunan, Hanum selalu sabar menantikan hari itu.
Tapi kini, entahlah. Rasanya dia sudah tidak ingin lagi berharap pada sebuah pelengkap kebahagiaan. Hanum memilih untuk menyelesaikan misi yang sudah mulai dia susun.
Tinggal menghitung hari saja perayaan universarry itu akan di langsungkan. Tapi jika Reno sendiri tidak mengingatnya, maka Hanumlah yang akan mengingatkan tepat di hari H sekaligus memberikan surprize pada pria itu.
__ADS_1
Hanum memilih untuk beristirahat ke dalam kamar usai membereskan sisa makan malam mereka. Sisa bersih-bersih saja yang tugas itu akan di kerjaan oleh bi Mimi.
''Kita tunggu tanggal mainnya ya, Mas,'' ucap Hanum dalam hati.