Hadiah Universary

Hadiah Universary
30


__ADS_3

Bab 30


"Mas, mana kembaliannya? Malah bengong, sih!" seru ibu penumpang yang barusan Reno turunkan di depan pintu masuk pasar malam. Wanita itu menengadahkan tangannya menunggu uang kembalian dari ongkos mengojeknya.


Reno berdecak kesal karena baru saja melihat kebersamaan Hanum dengan Bram yang tampak begitu dekat membuat hatinya terasa panas. Akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Nih!"


Reno memberikan kembalian itu dengan sewot membuat si ibu-ibu mengomel bersamaan meninggalkan Reno.


"Dasar gelok!"


Reno tak memperdulikan umpatan dari penumpangnya, tatapan matanya hanya tertuju pada satu titik yaitu mobil berwarna putih yang kini telah berjalan keluar dari area parkir lalu melewati dirinya.


"Kamu liatin apa?"


Tanya Hanum pada Bram yang sampai menoleh kebelakang ketika Hanum sibuk fokus untuk menyebrangi jalan.


"Oh nggak ada, cuma salah liat aja."

__ADS_1


Bram melihat keberadaan Reno. Dia bisa membaca ekspresi kesal di wajah pria itu ketika dia malah mengejeknya ketika tadi bersitatap dari balik kaca yang terbuka.


Hanum mengantarkan Bram hingga sampai di rumahnya. Lalu dia pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya sendiri.


"Bram, aku pulang. Nih kuncinya." Hanum menyerahkan kunci mobil milik pria itu ke tangannya.


"Kamu pulangnya gimana, biar aku anter aja ya," saran Bram saat melihat jika sekarang ini hari sudah mulai larut.


"Pesen taksi, kamu istirahat saja." Hanum menjawab dengan santai.


"Biar aku antar saja, aku takut nanti kamu kenapa-napa," khawatir Bram pada wanita cantik di hadapannya ini.


Bram hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "aku udah baikan. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Aku akan anter kamu pulang, seperti tadi aku yang jemput kamu buat pergi,"


Bram langsung kembali membukakan pintu dan meminta Hanhm untuk masuk kembali ke mobil, kali ini Hanum tidak duduk di kursi kemudi dan Bram langsung memacu mobilnya kembali menuju jalan raya.


"Kamu ini aneh," omel Hanum.


"Bosku yang cantik ini di larang pulang sendirian apa lagi ini udah jam sebelas malam. Bahaya!" rayu Bram.

__ADS_1


"Halah, aku udah terbiasa sendiri. Aman-aman aja tuh!" elak Hanum.


"Kalau begitu mulai besok biar saya antar jemput kamu biar nggak sendirian lagi," kata Bram penuh percaya diri.


"Memangnya kamu supir?" ejek Hanum.


"Nggak apa kalau penumpangnya itu kamu," balas Bram.


"Udah deh, nggak usah ngegombal. Aku udah kebal," kekeh Hanum.


"Aku serius Hanum, aku akan siap siaga kapan pun dan di mana pun untuk kamu," ujar Bram dengan sungguh-sungguh. Hanum menatap mata pria itu untuk mencari kebohongan di sana, tapi tidak menemukannya.


Hanum terdiam sejenak hingga kini mereka tiba di rumah Hanum. Wanita itu turun lebih dulu ketika Bram hendak membukakan pintu untuknya.


"Makasih Bram, sampai jumpa besok. Hati-hati pulangnya," kata Hanum. Wanita itu langsung melebarkan langkahnya untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Apa aku ada salah bicara, kenapa Hanum malah diam saja."


Bram menjambak rambutnya ketika dia mencoba mengingat kembali ucapannya tadi. Tapi dia merasa tidak ada yang salah dwngan kata-katanya.

__ADS_1


"mungkin dia sedang memikirkan kesungguhanku padanya," gumam Bram.


__ADS_2