Hadiah Universary

Hadiah Universary
10


__ADS_3

Bram yang memang tidak membuat janji dengan siapa pun langsung menegaskan pada Meta untuk menolak seseorang yang mengaku adalah temannya.


''Usir saja dia.'' Bram tanpa ada rasa penasaran sedikit pun langsung membuat keputusan itu.


''Tapi, Pak,—''


''Usirlah dengan caramu. Sedangkan orang yang sudah memasukkan lamaran saja ada prosedurnya, ini kok asal mengaku saja,'' ucap Bram dengan ketus.


Meta pun dengan sangat tidak enak hati pergi keluar untuk menjalankan perintah dari Bram. Sementara pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang kini menjadi double itu. Tapi dia sendiri tidak mempermasalahkan sampai dia benar-benar menemukan yang tepat.


Bram sudah di hadapkan dengan setumpuk berkas dari calon pelamar kerja di kantornya. Hanum memintanya untuk menyeleksi mana yang tepat untuk di panggil mengikuti interview.


Sedangkan Meta keluar dari ruangan Bram dan menutup pintunya dengan pelan. Dia kembali menemui seseorang yang mengaku adalah teman dari atasannya tersebut untuk mengusir wanita itu.


Begitu melihat Meta keluar dari dalam ruangan, Clara langsung berdiri lalu sedikit merapikan penampilannya. Dia sangat yakin jika Meta akan segera menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruangan Bram.


Dengan penuh semangat Clara langsung gegas mendekati Meta yang wajahnya sedikit pias.


''Langsung masuk ke dalam kan, Mbak?'' tanya Clara dengan PeDe maksimal. Beberapa kali dia mencoba merapikan penampilannya yang sebenarnya baik-baik saja. Ini adalah triknya yang dia yakini akan membuahkan hasil.


''Maaf, Mbak. Tapi pak Bramnya sedang sangat sibuk dan belum menerima calon pelamar untuk di interview,'' ucap Meta sopan.


Mata Clara sontak langsung mendelik mendengar pernyataan dari Meta.


'Ini tidak boleh sia-sia kedatanganku yang tinggal selangkah lagi,' gumam Clara dalam hatinya.


''Ehm, kira-kira jam berapa pak Bram bisa melakukan interview ya, Mbak?'' tanya Clara kemudian.


''Maaf, Kak. Untuk saat ini belum bisa, mungkin di lain waktu. Silahkan Mbak tinggalkan saja berkas lamaran yang anda bawa sebagai bukti dan kami juga mudah menghubungi nanti jika akan di panggil,'' terang Meta.

__ADS_1


Merasa di tolak secara halus, Clara pun memutar otak agar keinginannya hari ini bisa segera terwujud. Sepertinya cara yang dia lalukan saat ini tidak akan berhasil.


''Apa bu Hanum juga ada di dalam?'' tanya Clara masih dengan suara lembut dan sopan santun. Dia harus berhasil dengan misinya, dengan cara halus atau pun paksaan jika terus-terusan di tolak.


''Kalau tidak bisa dengan pak Bram, apa boleh buat. Ijinkan saya untuk bisa bertemu langsung dengan beliau,'' pinta Clara dengan paksaan.


''Maaf, Mbak. Untuk bertemu dengan bu Hanum mbaknya harus membuat janji terlebih dahulu, silahkan tinggalkan berkas anda. Kami akan menghubungi nanti jika sudah ada perintah!'' ujar Meta dengan tegas.


''Minggir!'' Clara menepis bahu Meta setengah mendorongnya membuat tubuh wanita itu sedikit oleng.


Clara langsung melangkah dengan cepat menuju ke pintu. Tapi Meta langsung gerak cepat untuk menahan pergerakan wanita itu karena dia takut akan di marahi oleh Bram kalau tidak berhasil mengusir wanita bernama Clara ini.


''Stop!'' tahan Meta menarik tas yang Clara kenakan. Dia berusaha menghalangi langkah Clara.


''Apa sih!'' ucap Clara tak terima. Dia memaksa masuk begitu mendorong tubuh Meta dan berhasil membuka pintu.


Meta masih berusaha menghalangi langkah Clara yang sudah berhasil masuk ke dalam ruangan. Sontak sosok yang sedang bekerja serius menatap layar monitor fokusnya teralihkan karena ada keributan di depannya.


Tatapan mata Bram langsung memicing begitu melihat sosok wanita yang kini tengah berdiri di hadapannya sambil mengibaskan rambut panjangnya.


Dari sorot mata yang di pancarkan Clara di balik masker yang dia kenakan, Bram seperti mengenalinya.


''Tinggalkan ruangan ini,'' titah Bram pada Meta yang berdiri di pojokan sambil memilin tangannya karena rasa takut yang melanda.


Mendengar ucapan Bram, Meta pun langsung mengangkat kepala untuk memastikan jika atasannya itu tidak marah padanya. Meski dari raut wajah pria itu terlihat ingin menelan seseorang. Meta pun langsung ngacir meninggalkan ruangan sambil membungkuk hormat.


Dengan tatapan tajam, Bram menatap Clara yang tentu sangat di kenalnya. Meski wanita itu belum membuka masker penyamarannya, Bram hapal dengan gerak tubuh serta tatapan mata yang tak asing.


''Masih punya muka kau datang ke kantor ini?'' ucap Bram dengan nada dingin. Dia menerka pasti ada tujuan tertentu saat wanita itu menunjukkan muka kembali.

__ADS_1


''Hmm, kau memang punya ingatan yang tajam ya, Bram. Aku tidak ingin buang-buang waktu untuk berbicara denganmu. Mana Hanum, aku mau memberi kabar baik padanya,'' ucap Clara dengan sombongnya.


Dengan nada sumbangnya, seolah dia sudah sering bertemu dengan Hanum. Padahal dia baru bertemu saat hari memalukan waktu itu. Tapi sepertinya Clara memang sudah hilang urat malunya maka dia memiliki keberanian untuk datang ke kantor ini.


"Keluar kau dari sini. Dia tidak akan mau bertemu dengan orang sepertimu!'' ucap Bram.


''Tidak mau! Aku ingin bertemu dengannya,'' paksa Clara.


''Kau mau keluar sendiri atau kembali di seret seperti waktu itu, hah?'' ancam Bram tanpa memperdulikan permintaan Clara.


Namun sepertinya ancaman Bram tidak berlaku bagi Clara. Dia mengabaikan begitu saja dan berjalan santai untuk masuk ke ruangan Hanum.


Bram menghalangi langkah Clara dengan kaki kirinya menghadang pintu ruangan Hanum. Dia pun langsung menghubungi keamanan karena tidak mau membuang energinya untuk mengusir wanita bandel itu.


''Hanum! Hanum!'' seru Clara dari luar pintu. Tangannya menggedor-gedor pintu itu dengan kencang karena tidak sabar ingin bertemu dengan sang pemilik perusahaan.


Hanum yang sedang berada di dalam ruangan pribadinya pun tak mendengar teriakan dari Clara. Tepat saat Clara berteriak, Hanum tengah menggunakan earphone. Wanita itu sedang menikmati lagu-lagu penghibur untuk menemaninya bekerja.


Clara terus-terusan berteriak memanggil Hanum akan tetapi tak ada sahutan sama sekali dari dalam ruangan.


Bram tersenyum miring melihat kelakuan Clara yang menurutnya aneh dan tak punya otak itu. Scurity pun segera masuk ke dalam ruangan begitu mendapat perintah dari Bram.


''Bawa dia dan pastikan jangan sampai kembali ke sini lagi!'' titah Bram.


''Baik, Pak,'' sahut kedua orang bagian keamanan tersebut yang kemudian langsung mencekal lengan Clara untuk di seret keluar.


''Bram! Apa-apaan ini, aku ingin bertemu dengan Hanum. Dia harus tahu kalau aku ini sedang hamil anaknya Reno.'' Clara berteriak kencang karena tubuhnya sudah berhasil di geret oleh scurity keluar dari ruangan.


''Apa peduliku? Kau mau hamil anak siapa itu bukan urusanku,'' ujar Bram santai.

__ADS_1


''Brengsek kau Bram. Lihat saja, aku akan kembali lagi untuk menemui Hanum!'' pekik Clara yang sudah tidak lagi di dengar oleh Bram.


Suara Clara mengundang perhatian staff lain dan mengganggu katifitas mereka. Beruntungnya kondisi langsung cepat stabil berkat bantuan sang keamanan.


__ADS_2