
''Aku ingin membantumu, Mas. Biar kamu tidak merasa sendirian. Masih ada aku yang bisa kamu andalkan,'' terang Hanum.
''Tidak perlu Hanum, sudahlah, ayo istirahat. Hari sudah semakin larut,'' tukas Reno.
''Kenapa sih mas kamu kok seperti tidak ingin aku datang ke kantor. Memangnya ada apa, apa kamu menyembunyikan sesuatu?'' tutur Hanum. Air muka Reno tampak berubah. Namun sejenak kemudian dia pun mengelak dengan alasan lelah dan ingin berisitirahat.
''Tidak ada apa-apa, memangnya aku menyembukan apa darimu, Han. Sudahlah, aku capek mau istirahat,''
Hanum pun tidak akan menyerah begitu saja, dia sudah mempersiapkan untuk hari esok. Karena Reno benar-benar melupakan hari bahagia yang sesungguhnya. Maka Hanumlah yang akan membuatkan surprize untuk sang suami pengkhianat itu.
...***...
Hari ini adalah hari peringatan pernikahan Hanum dan Reno. Hanum sudah mempersiapkan hadiah yang akan membuat Reno menyesal atas perbuatannya.
Pagi ini, Hanum meminta pada Reno untuk ikut pergi ke kantor. Mereka berdebat karena Reno melarang sang istri agar tidak perlu repot-repot datang ke perusahaan.
"Mas, aku sudah lama tidak ke kantor. Boleh, ya, kalau aku ikut!" pinta Hanum dengan lembut. Karena usahanya semalam belum juga membuahkan hasil.
"Kamu tidak perlu ikut ke kantor. Semua sudah aku urus dengan baik, Han!" Tutur Reno tidak senang akan permintaan Hanum.
"Tapi, .... " ucap Hanum terputus.
"Apa kau tidak mempercayaiku sebagai suamimu?!" bentak Reno.
"Mas, aku hanya ingin berkunjung ke perusahaanku sendiri. Kenapa kamu melarang? apa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku?" tuding Hanum. Reno terlihat gelagapan. Namun, dengan cepat dia menguasai diri.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Selama ini aku fokus dan bisa memajukan perusahaan dengan sangat baikkan?" ujar Reno sedikit menurunkan intonasinya.
"Sudahlah! Kamu di rumah saja, aku ada rapat pagi ini." Ucap Reno. Setelah itu, meninggalkan Hanum begitu saja.
"Tunggu, Mas!" Kejar Hanum. Reno menghentikan langkahnya dan memperhatikan sang istri yang mendekat. Hanum meraih tangan Reno lalu mencium sejenak. Air matanya mengalir begitu saja tanpa permisi. Melihat hal itu, Reno pun terheran. Namun, dia tak perduli apapun yang Hanum pikirkan.
__ADS_1
Reno menarik kepala Hanum dan mengecup keningnya sekilas. Setelah itu, Reno langsung pergi bersama mobil kesayangannya.
"Ini adalah kecupan terakhir yang aku dapatkan darimu, Mas. Hari ini adalah hari terakhir kebersamaan kita. Aku sudah mempersiapkan kejutan yang spesial untukmu." Lirih Hanum. Tatapannya tertuju pada punggung mobil Reno yang menghilang dari pandangan.
Hanum memutar kembali rekaman Cctv yang di berikan oleh Bram semalam. Meski dia tahu video tersebut mencabik-cabik batinnya, dia melihat Reno bersama seorang wanita yang bertubuh seksi dan sangat menggoda kaum adam. Penampilan wanita tersebut sangat jauh di banding dirinya yang lebih menyukai kesederhanaan. Tampak jelas sekali bahwa Reno sangat mendamba tubuh gadis yang baru Hanum ketahui adalah sekretaris pribadi Reno.
Hanum menutup layar ponselnya dan meraih bingkai foto pernikahan mereka. Tampak senyum kebahagiaan pada gambar di genggamannya. Namun, semua itu hanya bersifat sementara. Hanum menghapus lelehan air mata di pipinya dengan kasar.
Ternyata sulit untuk menahan rasa sesak yang ada di dada. Hanum akan pergi ke kantor untuk memastikan langsung apa yang dia lihat dari video. Dia memoles wajahnya dengan sangat cantik untuk menutupi mata yang sembab. Tak lupa juga tas kecil yang selalu menjadi andalannya sebagai penunjang penampilan Hanum.
**
Hanum tiba di kantor dan langsung menuju ruangan direktur utama. Para staff di sana pun langsung memberi salam pada Hanum ketika mereka berpaspasan.
Sebelum dia masuk, Hanum bertemu dengan salah satu staf dan menanyakan perihal keberadaan Reno pada orang tersebut.
''Apakah pak Reno ada di dalam?'' tanya Hanum.
Sejenak Hanum mengamati pintu ruangan direktur utama itu dengan saksama. Dia pun berdoa dalam hati agar bisa menghadapi sesuatu di dalam sana dengan tegar.
Setelah mendapat informasi yang dia inginkan, Hanum langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Hanum meneliti ruang kerja yang kosong tiada penghuninya. Namun, dari dalam ruang pribadi Reno, dia mendengar suara racauan. Jantung Hanum berdegup dengan sangat kencang kala mendengar suara sang lelaki menyerukan nama Clara dan juga membandingkan bahwa gadis tersebut lebih hebat dalam bergoyang.
Langkah seribu bayangan pun Hanum lancarkan dan langsung membuka pintu ruang pribadi Reno yang ternyata tidak di kunci. Mata Hanum terbelalak melihat pemandangan mesum di tepi ranjang. Posisi yang sangat hot dari dua insan yang sedang terbakar api gairah.
Reno sangat terkejut saat melihat Hanum tiba-tiba muncul di ambang pintu. Dia merutuki kebodohannya yang lupa mengunci pintu. Buru-buru dua insan tersebut menutup tubuh dengan meraih kain yang ada. Hanum maju beberapa langkah dan melayangkan tangannya ke pipi mulus Reno lalu beralih ke pipi cantik milik Clara.
Plakk
Plakk
__ADS_1
"Biadab kalian berdua!" bentak Hanum dan menatap nyalang ke arah keduanya. "Ini yang kamu bilang fokus memajukan perusahaan, Mas!" kecam Hanum.
"Hanum, aku bisa jelaskan tentang ini semua!" mohon Reno.
"Heh! Kau wanita ******. Sudah puas atau belum bermain-mainnya? Apakah masih ingin nambah?" seru Hanum dengan sinis. Tangannya menaikkan dagu Clara dengan jari telunjuknya.
"Hanum! Jangan katakan hal seperti itu lagi," bela Reno.
"Woah!" Hanum bertepuk tangan memberi apresiasi pada suaminya yang membela wanita perusak rumah tangga mereka di hadapannya langsung. " Kamu memang luar biasa, Reno!" ucap Hanum tanpa memakai kata mas.
Hanum melangkah keluar dari ruang pribadi Reno. Sementara itu, dengan sigap Reno dan juga Clara meraih pakaian mereka yang berserakan di lantai lalu mengenakannya dengan sembarang.
"Hanum, tunggu!" kejar Reno. Dia meninggalkan Clara yang masih sibuk merapikan pakaian serta rambutnya yang acak-acakan.
Saat Reno sampai di luar ruang kerjanya, dia melihat sudah ada mertua dan juga kedua orang tuanya. Mereka menatap dengan tatapan jijik pada Reno. Dia langsung tertunduk malu. Tanpa di sangka, sebuah kepalan tangan mendarat di perut Reno dengan bertubi-tubi.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Ayah Hanum menghajar Reno tanpa ampun. Beliau sangat kecewa dengan kelakuan menantu yang dulu pernah dia banggakan. Setelah puas mengahajar Reno, ayah Hanum mendekap sang putri yang terisak dan menenangkannya.
"Mama kecewa sama kamu, Reno!"
Plak!
Mama Reno menampar pipi sang anak yang sedang meringis menahan sakit akibat bogeman dari mertuanya.
Beberapa menit kemudian, semua hening. Semua mata tertuju ke arah Reno yang meringis menahan sakit. Hanum mengeluarkan suara setelah menenangkan diri.
__ADS_1
"Apakah kamu ingat tentang hari ini, Mas?" tanya Hanum dengan sekuat hati untuk bisa tenang.