
Hanum tak bergeming, dia lanjut masuk ke dalam mobil dan tak ingin mendengar suara Reno. Meski suara itu terdengar menyayat hatinya. Hanum berusaha sekuat tenaga untuk tidak terenyuh dengan sikap pria itu.
''Hanum, aku minta maaf,'' pinta Reno penuh penyesalan.
''Tidak ada lagi yang perlu di maafkan. Semua sudah selesai,'' ucap Hanum dingin. Wanita itu enggan menatap wajah pria yang telah menorehkan luka pada hatinya.
''Hanum, aku ingin kita bisa berteman. Sesuai janji saat sidang perceraian kita waktu itu,'' ucap Reno lagi.
Sesungguhnya dia masih belum bisa terima dengan perceraiannya. Tapi dia tak bisa berbuat banyak waktu itu. Hingga keputusan Hanum yang sudah bulat terpaksa di penuhi karena dia memang sudah salah. Apalgi orang tuanya pun menyetujui hal itu.
''Aku akan pikirkan lagi soal kita bisa berteman atau tidak. Pergilah, jangan biarkan istri barumu menunggu terlalu lama,'' ujar Hanum.
Bibir wanita itu bergetar tak kuasa menahan kepingan memori menyakitkan yang usai menghilang dari ingatan. Meski dia sudah mencoba untuk lupa, tapi kehadiran Reno saat ini mengingatkannya kembali pada masa itu.
''Aku akan pergi setelah kita bisa resmi berteman, Hanum. Kumohon,'' pinta Reno penuh harap.
''Sudah kukatakan. Akan aku pikirkan nanti, pergilah sekarang!'' sentak Hanum. Dia sudah muak melihat muka Reno.
Melihat perubahan wajah Hanum, Reno pun perlahan mundur dan menjauhi pintu mobil mantan istrinya.
__ADS_1
Hanum menyandarkan punggungnya dengan kasar sri jok mobilnya. Menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menetralkan rasa sesak yang menyerang pernapasannya.
''Huhhff'' Hanum mengetuk-ngetuk stir mobilnya dengan jari tangan karena dia merasa sangat lama menanti kedatangan montir yang akan memperbaiki mobilnya. Wanita itu menatap dari kaca spion dan memperhatikan ke belakang. Apakah Reno sudah pergi atau masih berada di dekat mobilnya.
''Syukurlah dia sudah pergi, maafkan aku mas. Aku masih belum bisa menenangkan hatiku sebenarnya. Karena sisa cinta yang pernah tertanam di hati masih tersisa, meski harus terkikis oleh pengkhianatanmu. Tapi melihatmu hidup sulit seperti sekarang, apa aku harus bahagia?'' gumam Hanum tanpa sadar.
Tok tok tok
Kaca pintu mobil Hanum di ketuk seseorang dari luar membuyarkan lamunan Hanum dari sisa masalalunya.
Tanpa di sadari ternyata air mata wanita itu mengalir di pipi mulus cantiknya. Hanum pun mengusapnya dengan segera lalu melihat siapa yang datang menghampiri.
''Eh, ya.''' Hanum langsung segera turun dari dalam mobil.
''Kami dari—'' ucap pemuda itu terhenti karena Hanum langsung memotongnya.
''Langsung saja Mas, tolong di gantikan bannya,'' titah Hanum.
Pemuda itu mengangguk hormat dan langsung menyiapkan peralatan yang di perlukan.
__ADS_1
''Tunggu sebentar ya Bu,'' ucap pemuda itu lagi. Hanum hanya mengangguk, dia mencoba mencari tempat untuk menunggu sementara mobilnya di perbaiki.
Tatapannya tertuju pada pohon rindang yang ada di seberang jalan. Ingin saja rasanya dia duduk di sana ketimbang memandori montir yang bekerja.
Akhirnya Hanum pun menyebrangi jalanan yang sepi itu dan duduk di sana. Meski tak butuh waktu lama untuk porses penggantian ban tersebut, dan Hanum pun kemudian kembali begitu melihat sang montir telah beres meringkasi perkakasnya.
''Sudah selesai?'' tanya Hanum memastikan.
''Sudah, Bu,'' jawab pemuda itu sambil mengangguk pelan.
''Terimakasih, ini buat sekedar beli minum,'' kata Hanum sambil menyerahkan uang lembar biru pada pemuda itu. Karena biaya perbaikan itu Hanum sudah membayarnya melalui aplikasi.
''Terimakasih, Bu. Tapi ini sudah menjadi tugas saya, ibu tidak perlu repot,'' kata pemuda itu sungkan.
Hanum hanya mengulas senyum, lalu dia pun langsung melajukan mobilnya untuk segera pulang ke rumah.
Namun, saat Hanum tiba di depan rumahnya, dia merasakan ada sesuatu yang berbeda. Pintu rumahnya terbuka lebar tapi tak ada kendaraan yang terparkir di halaman.
''Apa ada tamu?'' gumam Hanum.
__ADS_1