
''Ceritalah, Papa dan juga kami semua di sini akan mendengarnya sampai kamu selesai.'' papa Hanum berucap dengan tegas penuh tuntutan.
Hanum pun mulai bercerita tanpa ada keraguan lagi. Setelah di pikir matang-matang ini adalah saat yang tepat untuk membalaskan sikap Reno padanya. Dia tidak ingin lagi menutupi sesuatu yang merenggut kebahagiaannya.
''Jadi mas Reno itu sudah bermain api, aku tidak akan menjelaskan secara rinci. Intinya mama sama papa pasti paham arah pembincaraan Hanum ke mana kan?''
Tutur Hanum lembut dan tulus, penuh kejujuran tanpa keraguan. Sepasang suami istri yang ada di hadapan Hanum tersentak kaget mendengarnya.
''Reno berselingkuh?''
Tangan bu Atma mengepal kuat, dia tahu betul menantunya itu berkata jujur. Karena sebagai wanita dia juga tidak terima bila anak laki-laki yang di banggakan itu malah tidak tahu berterimakasih sudah di beri kebaikan oleh Hanum memimpin perusahaan.
Kedua orang tua Reno memang sudah berteman baik sejak mereka sekolah dulu, maka dari itu Hanum dan Reno di jodohkan yang memang asalnya sudah saling mencintai. Namun, keluarga Hanum memang lebih beruntung karena bisa mengembangkan perusahaan itu menjadi lebih pesat lagi. Hingga menanam saham tinggi di perusahaan orang tua Reno.
Sebagai orang tua yang selalu bijak mengambil keputusan dan tidak ingin menghakimi anak-anak mereka. Maka keputusan mutlak berada di tangan Hanum. Hak wanita itu ingin seperti apa karena mereka akan selalu menghargai keputusan terbaik yang akan di pilih oleh anaknya.
''Mama tidak menyangka, dia yang dulu selalu mencintai kamu dengan tulus begitu mudahnya tergoda dengan gadis lain.'' sela bu Atma.
''Kita harus kasih pelajaran biar dia jera,'' usul papanya Reno. Pria yang tak suka dengan sebuah pengkhianatan mendukung sang menantu untuk membalas perbuatan anak lelakinya.
''Hanum sudah menyiapkan semuanya, Pa,'' ujar Hanum.
Mereka pun mengobrol serius persoalan apa rencana yang Hanum miliki. Mereka semua mengangguk pasrah dengan apa yang sudah menjadi keputusan wanita itu.
Mereka memang tidak ingin menyalahkan Hanum karena keputusan itu. Maka dari itu malah memberi dukungan kuat agar Hanum semangat.
Hingga memasuki waktu makan siang akhirnya mereka makan bersama di rumah Hanum. Pasalnya hari ini adalah tanggal merah, tapi di kantor Hanum malah tidak libur. Wanita itu tidak menyadarinya kalau bukan karena kedua orang tuanya yang bercerita makanya datang bersamaan ke rumahnya.
__ADS_1
''Masak kamu nggak tahu kalau hari ini tuh libur?'' ucap bu Winda pada putrinya.
''Iya, Ma, aku nggak ngeh. Terimakasih ya kalian sudah mau berkunjung kemari,'' tutur Hanum.
''Iya, terimakasih loh ini jamuannya. Mama sama Papa suka,'' ucap mertua Hanum bersamaan.
''Maaf loh ma, pa, cuma ala kadarnya, jangan sungkan kalau mau mampir lagi nanti ya,'' kata Hanum
Langkah kaki mereka kini telah sampai di depan pintu teras. Kedua orang tua Hanum dan juga mertuanya akan berpamitan pulang.
Hanum merasa lega karena nanti dia tidak akan sendirian. Wanita itu pun langsung menelepon Bram untuk menanyakan sesuatu yang kemarin dia pinta.
[ Bram, sudah kamu urus apa yang saya minta kemarin? ] tanya Hanum ingin tahu.
[ Sudah saya siapkan, Bu. ]
[ Baiklah, terimakasih ] kata Hanum.
Saat sore hari, Hanum ke taman belakang rumahnya. Dia ingin menyiram bunga-bunga kesayangannya dengan tangan sendiri. Meski terkadang bi Mimi juga yang menguruskan semua itu.
Bunga-bunga yang cantik dan terawat itu terlihat indah bermekaran. Meski di sore hari bunga itu masih tampak segar dan mempesona.
Hanum menyemprotkan air selangnya dengan perlahan hingga membasahi setiap tanaman yang ada di hadapannya.
''Non, teh hangatnya sudah selesai,'' ucap bi Mimi menghampiri Hanum.
Setiap sore jika Hanum bersantai maka teh hangat melati akan menjadi teman setianya. Kegiatan Hanum memang tidak banyak di luar karena dia memang senang beraktifitas di dalam rumah. Seperti menulis novel kesayangannya.
__ADS_1
''Iya, Bi. Taruh di meja saya ya, sebentar lagi saya ke dalam,'' ucap Hanum
Wanita itu menyudahi siraman pada tanamannya karena memang sudah semua di beri air. Setelah membereskan alatnya Hanum pun masuk ke dalam rumah. Tak lupa dia mandi terlebih dahulu agar otaknya lebih fresh.
''Mari kita mulai bekerja ya, otak sudah fresh dan siap menuangkan ide-ide yang sudah tersusun rapi di dalam kepala,'' gumam Hanum sembari duduk dengan nyaman di kursinya.
Hanum memang memiliki ruang pribadi berukuran cukup luas. Tepatnya ruangan itu di balik kamar tidurnya. Dengan pintu slide yang di beri model seperti dinding kaca bercermin pola tanaman membuat siapa saja yang melihatnya akan mengira jika itu hanyalah hiasan. Tapi jika di lihat dengan jarak yang amat dekat maka akan di ketahui jika itu adalah sebuah ruangan.
Bi Mimi memang sudah sangat hapal cara masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan Reno sendiri tidak tahu dengan ruang pribadi milik Hanum saat ini. Memang rumah itu adalah hasil jerih payah Hanum sendiri, maka tidak semua hal di ketahui oleh Reno.
Hanum tampak mulai mengetik kata demi kata di layar komputer miliknya. Jarinya menari dengan lincah menulis apa yang terlintas dalam benaknya. Dia menyukai genre teen, maka dia menulis sebuah cerita tentang remaja.
Hanum sering meluangkan waktu paling sedikit satu jam dalam sehari untuk menuangkan hobbynya dalam sebuah tulisan.
Setelah cukup satu jam, Hanum menyudahinya. Cukup lumayan banyak yanh Hanum hasilkan hari ini.
Dia pun menyeruput tehnya di temani cemilan ringan kesukaannya. Begitu selesai, Hanum langsung membawanya keluar dari ruang kerjanya.
Hari sudah memasuki malam, akan tetapi Reno tampaknya belum pulang. Hanum menutup tirai jendela kamarnya dan menguncinya.
Wanita itu memilih membaca buku setelah selesai makan malam. Tak berselang lama, Hanum mendengar suara pintu kamar di buka. Begitu melihat Reno pulang, Hanum pun langsung menghampirinya. Menyalami tangan lelaki itu dengan takzim seperti biasa. Tapi dia mencium aroma parfum yang berbeda dari tangan Reno. Sungguh tiada maaf lagi setelah hari itu tiba. Semoga saja hatinya sanggup menahan hingga tanggal yang di tunggu-tunggu sampai.
''Mau mandi atau makan, Mas?'' tawar Hanum.
''Mandi saja,'' ujar Reno.
''Aku siapkan dulu sebentar airnya,'' ucap Hanum dan di angguki oleh Reno.
__ADS_1
Wanita itu meninggalkan Reno yang sedang membuka pakaiannya.
''Wangi parfum Clara ternyata masih sangat lengket di tanganku. Untung Hanum tidak curiga atau bertanya-tanya. Ku lihat wajahnya juga tidak berekspresi berbeda. Baguslah kalau dia tidak memikirkan macam-macam tentang aku ketika di luar,'' gumam Reno penuh keyakinan.