Hadiah Universary

Hadiah Universary
19


__ADS_3

Reno langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. Air matanya terkumpul di pelupuk mata dan sekuat tenaga ia tahan agar tidak jatuh membasahi pipi.


Sementara pak Pram menatap datar ke arah putranya. Setelah itu memilih duduk di sofa menunggu sang istri selesai melepas rindu pada anaknya. Padahal waktu itu bu Atma sempat marah pada Reno dan benci. Tapi sepertinya ia sudah lupa akan hal itu.


"Mama mau pergi? maaf kalau kedatangan Reno mengganggu," ujar Reno pelan yang ekor matanya tertuju pada papanya yang sudah berpakaian rapi.


"Ah, ya. Mama ada undangan penting di relasi papa. Apa kamu mau ikut?" tawar bu Atma.


"Dia tidak di undang." Pak Pram menyela. Nadanya terdengar ketus.


"Pa," tegur bu Atma dengan tatapan tak suka pada ucapan suaminya barusan.

__ADS_1


Pak Pram sepertinya masih kesal dengan Reno karena kejadian waktu, beda dengan istrinya yang sekarang tampak sedikit mulai memaafkan kesalahan yang telah di perbuat oleh putra mereka.


"Ayo berangkat. Papa tidak mau telat datang ke acara penting itu." pak Pram segera bangkit dari kursinya lalu keluar. Mobil yang sudah di siapkan oleh sopir telah menunggu di depan rumah.


"Reno, maafkan Mama. Sekarang memang belum waktunya, nanti kamu main lagi ke sini dan ceritakan apa saja yang perlu kamu utarakan," jelas bu Atma pada Reno. Meminta pengertian.


"Iya, Ma." Reno menganggukkan kepala mengerti. Dia memaklumi kesibukan kedua orang tuanya.


Bu Atma pun segera bergegas menyusul suaminya yang sudah menunggu di dalam mobil. Serta beberapa kali mendapatkan klakson untuk cepat keluar dari rumah seolah tidak membiarkan sepatah kata lagi keluar dari bibir wanita itu untuk anak semata wayang mereka.


Reno belum ada niatan untuk cepat-cepat pulang meski Clara sudah bebedapa kali menghubunginya tapi pria itu tidak merespon sama sekali. Reno butuh ketenangan batin, hati, jiwa bahkan juga raganya.

__ADS_1


Sebuah taman yang terletak di pinggiran kota menjadi pilihan Reno saat ini. Dia kembali memarkirkan motornya dan menatap ke sekeliling tamam tersebut. Tempat itu tampak sunyi dan adem karena pepohonan yang rindang dan juga udaranya sejuk.


Taman penuh kenangan, Reno memilih tempat duduk yang biasa dia tempati bersama Hanum setahunan yang lalu.


"Rasanya sangat sulit sekali menjauh darimu Hanum. Di setiap tempat yang aku datangi, bayangan dirimu selalu datang. Aku memang pria yang bodoh, aku harus bertemu denganmu lagi Hanum. Aku tidak ingin menyia-nyiakan jika kamu memberi kesempatan untukku," monolog Reno pada dirinya.


Dia ingin bertemu lagi dengan Hanum, tapi jika mendatangi rumah atau pun kantor pasti dirinya tidak di terima. Reno pun memikirkan cara untuk bisa bertemu secara tidak sengaja untuk mencapai niat hatinya.


Matahari kian meredupkan sinarnya, Reno masih betah duduk di bangkunya seraya menikmati segelas minuman segar pelepas dahaga. Di tatapnya jalan raya yang masih ramai dengan lalu lalang kendaraan silih berganti.


Setelah menghabiskan minuman miliknya, Reno pun menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Bersamaan pula dengan ponselnya yang kembali bergetar untuk ke sekian kalinya karena sejak tadi dia tak memperdulikan hal itu.

__ADS_1


Tertera nama sang pemanggil di layar ponsel milik Reno yang siap dia usap tombol warna merahnya untuk sebuah penolakan.


Clara is calling...


__ADS_2