
Bab 28
Suasana malam saat ini begitu syahdu. Di sebuah ruangan khusus restoran yang telah di sewa oleh seorang pria berjambang halus tampak romantis.
Dua orang tengah duduk berdua dan saling berhadapan menikmati makan malam dengan suasana yang kalem. Pria itu tampak khidmad menyantap makan malamnya, akan tetapi sang wanita malah tampak sendu. Wajahnya tidak ceria seperti sedang terkenang sebuah kenangan silam yang mungkin hinggap di hatinya.
"Hanum, kenapa makananmu tidak kamu habiskan. Apa kurang enak menu yang di siapkan oleh si pemilik restoran ini?" tanya Bram pada Hanum yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya karena tak berselera.
Hanum tersenyum lemah dan menyuapkan makanan itu ke mulutnya. "Ini sangat enak," kata Hanum meyakinkan.
"Apa kamu masih terus memikirkan dia?" terka Bram. Dia pasti tidak salah menilai pikiran Hanum. Karena mereka telah berteman lama, maka sedikit lebih banyak mengetahui satu sama lain.
"Emm, nggak kok." Hanum menggeleng kuat, dia membuat alasan lain agar tidak di sangka masih terus kepikiran kisah masa lalunya.
"Hanum, kita ini sudah kenal sejak lama. Aku tidak bisa kau bohongi dengan kata-kata. Karena kejujuran itu ada pada tingkah laku yang kamu tunjukkan," sela Bram.
Wanita berbulu mata lentik itu hanya mengerjapkan mata mendengar kata-kata Bram yang seolah sangat tepat menusuk relung hatinya yang selalu berusaha tegar dan bertingkah seolah telah lepas dari yang namanya masalalu.
__ADS_1
"Aku tidak mengingatnya kok, hanya saja kebetulan teringat saja." Hanum mencoba berkilah.
"Hanum, bukalah hatimu untuk menerima orang lain. Membuka lembaran baru dengan orang baru agar suasana itu bisa berubah. Tidak meluli kamu kepikiran soal dia," pinta Bram dengan tatapan begitu dalam.
Seulas senyum Hanum suguhkan pada pria di hadapannya. Dia memang paling bisa mengubah mimik wajah dengan berbagai ekspresi agar terlihat kuat.
"Katakanlah sesuatu, jangan cuma senyum saja Hanum." Bram menjitak pelan keningnya karena selalu diam.
Sambil meringis dan mengusap kening, Hanum akhirnya bersuara.
"Akan aku coba," kata Hanum pelan. Mereka pun melanjutkan makan malam mereka yang hampir selesai.
"Antrian apa, sembako?" seloroh Hanum menimpali candaan yang Bram lontarkan.
Sembari tertawa kecil mereka melangkah keluar dari restoran menuju ke area parkir. Bram membukakan pintu untuk Hanum dengan begitu cekatan padahal Hanum hendak meraih handle pintu.
"Silahkan tuan putri," ujarnya dengan lembut.
__ADS_1
"Apaan sih, aku kan bisa sendiri Bram," sungut Hanum. Kesannya seperti orang yang lagi pacaran.
"Tidak apa-apa, aku kan asistenmu." Bram membuat alibi.
Hanum pun hanya bisa memutar bola matanya karena malas mendengar kata-kata itu. Jika di luar pekerjaan mereka adalah teman karib. Hanum tidak menganggap seperti sedang bekerja antara atasan dan bawahan.
"Ke mana kita setelah ini?" tanya Bram setelah mereka berada di perjalanan.
"Pulang," jawab Hanum singkat.
Bram segera melirik arlojinya yang masih menunjukkan pukul delapan malam lewat sepuluh menit. Anak muda jaman sekarang saja pulang jam dua belas kalau habis ngedate, masak mereka mau pulang jam delapan begini. Nggak seru dong.
"Bagaimana kalau kita ke pasar malam, yang tadi kita lewati?" usul Bram.
Pasar malam, tempat yang ramai dan banyak sekali macam-macam dagangan serta permainan yang tersedia di sana. Kebetulan tadi saat pergi mereka melewati jalan tersebut dan Bram berinisiatif untuk mengajak Hanum ke sana.
"Boleh juga," ucap Hanum setuju. Sudah lama rasanya dia tidak ke tempat hiburan seperti itu. Yang dia ingat saat dulu pergi ke tempat itu sewaktu masih duduk di bangku SMA.
__ADS_1
"Syukurlah, dia mau di ajak ke tempat itu." kata Bram dalam hati.
Tak berapa lama mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Suasana sangat ramai hingga Bram sulit mencari tempat parkir.