Hadiah Universary

Hadiah Universary
bab 15


__ADS_3

Bab 15


Tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunan Hanum. Seketika senyum yang tadi menghiasi wajahnya menjadi sirna di telan kesadarannya yang telah kembali.


"Ada apa, Bi?" tanya Hanum.


Ada segurat kekecewaan dalam dirinya karena dia sempat teringat dengan momen kemesraannya bersama Reno dulu. Masih saja terngiang setiap ucapan manis yang Reno utarakan padanya.


"Maaf, Non Bibi sudah mengganggu. Bibi khawatir karena Non dari tadi berada di luar sementara sekarang sudah hampir jam dua belas malam," ujar bi Mimi menjelaskan.


Hanum melirik ke arah jam di tangannya dan benar saja. Ternyata hari sudah larut dan dia pun akhirnya ikut masuk ke dalam rumah bersama bi Mimi.


"Kunci pintunya yang rapat, Bi," titah Hanum.


Bi Bibi hanya mengangguk dan langsung mengerjakan perintah Hanum.


Langkah kaki jenjang Hanum tiba di tepi ranjang. Tiba-tiba dia merasakan sepi dan juga merindu. Ternyata sangat sulit untuk melupakan jika banyak hal manis yang di lalui bersama pasangan waktu itu. Semua memori seolah tengah berputar bak rekaman kaset.


"Dia sudah melukai hatimu, Hanum. Kau harus lupakan dengan sempurna semua kenangan itu." Suara hati Hanum berkata dengan tegas.

__ADS_1


Lagi-lagi Hanum harus memulai dari nol lagi untuk membuka lembaran baru tanpa kehadiran Reno di sisinya.


"Ah, aku lelah. Tapi aku harus terus berusaha," ujar Hanum menguatkan hatinya sendiri.


*


Pagi itu Hanum tengah bersiap untuk berangkat ke kantor. Karena masih jam delapan, Hanum pun memilih untuk bersantai sejenak. Hari ini dia akan berangkat ke kantor pada pukul sembilan saja.


Belum lama Hanum duduk di sofa sambil menikmati secangkir coklat hangat, ponselnya pun berdering. Tampak nama Bram tengah memanggil.


"Ya, ada apa Bram?" tanya Hanum yang meletakkan ponselnya di telinga.


"Astaga! aku lupa. Baiklah, aku akan langsung ke kantor sekarang." Hanum langsung beranjak dari kursinya dan menyambar kunci serta tas yang memang sudah di siapkan di atas meja.


Untungnya masih jam delapan lewat sedikit, Hanum pun memacu mobilnya dengan cepat menuju ke kantor.


Bram sudah menunggu Hanum di lobby kantor dan langsung menghampiri mobil Hanum ketika sang bosnya berhenti tepat di depan pintu.


"Bram, kita satu mobil saja biar hemat waktu," tukas Hanum.

__ADS_1


"Baiklah, Bu. Pakai mobil Ibu atau mobil kantor?" tanya Bram. Karena Hanum tak beranjak dari kursi kemudinya.


"Pakai ini aja, Bram." Hanum meminta pakai mobil pribadinya sendiri.


"Baiklah, biar saya saja yang menyetir, Bu," saran Bram.


"Oh, oke!"


Hanum pun beringsut dan kemudian keluar dari dalam mobil. Dia pun berpindah duduk di kursi sebelah kiri tepatnya di samping kemudi. Tempatnya pun di ambil alih oleh Bram.


Sejak semalam Hanum menjadi sedikit lambat dalam berpikir. Hingga waktu yang sudah di jadwalkan pun dia bisa lupa dan malah bersantai pagi di rumah.


Dalam perjalanan menuju ke kantor cabang, Hanum tak banyak bicara. Tatapan matanya lurus kedepan seperti sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh wanita itu, hingga Bram beberapa kali melirik memperhatikan sikap atasannya tersebut yang tidak banyak bicara seperti biasa.


"Bu, kita sudah sampai," ujar Bram. Hanum pun menatap ke sekitar untuk memastikan ucapan Bram barusan. Seperti dia tidak yakin jika secepat itu dia sampai di tempat tujuan.


"Kok cepat sekali, Bram?"


Hanum malah bertanya membuat Bram mengernyitkan alis karena bingung dengan sosok wanita di sampingnya ini.

__ADS_1


__ADS_2