
Bab 24
Hanum berdiam diri di dalam mobil untuk beberapa saat lamanya. Awalnya tadi dia sudah sangat bersemangat tapi menjadi kendur setelah dia melihat kendaraan yang mirip punya sang mantan.
Lalu seseorang mengetuk pintu mobilnya membuat Hanum tersentak dari lamunan. Hanum mencoba memperjelas penglihatannya dari balik kaca mobilnya siapa gerangan yang telah memanggil dia.
"Mama," gumam Hanum pelan. Dia pun langsung segera membuka pintu untuk keluar.
"Kok di tungguin dari tadi nggak masuk-masuk, ayo!" ajak bu Atma tak sabaran karena sudah menunggu Hanum sejak tadi. Begitu melihat mobilnya tiba beliau sangat senang tapi malah tak kunjung keluar dari persembunyian.
"Iya, Ma," jawab Hanum dengan sungkan.
Saat,Hanum melewati motor yang terparkir di halaman tersebut dia memelankan langkahnya untuk memastikan sesuatu. Entah itu apa dia terus memperhatikan kendaraan roda dua tersebut.
"Ayo sayang, kenapa malah liatin motornya mang Udin. Ayo sini," titah bu Atma pada Hanum.
Hanum hanya mengulas senyum dan ada perasaan lega dalam hatinya. Meski rumah itu mengandung banyak sekali kenangan masa lalunya bersama Reno. Hanum mencoba untuk biasa saja.
"Ada apa sebenarnya, Ma. Kok banyal banget makanan di meja makan?" tanya Hanum begitu langkahnya terhenti di sebuah meja.
__ADS_1
Bu Atma mengembangkan senyum cantiknya seraya membimbing Hanum untuk duduk di kursi. Barulah beliau duduk di sisinya.
"Hanya sekedar kumpul keluarga aja kok, sayang. Tuh liat siapa yang datang?" tunjuk bu Atma dengan tatapannya ke arah pintu masuk.
Ekor mata Hanum langsung segera mengarah ke tujuan yang di maksud oleh bu Atma. Kedua orang tuanya pum muncul dan tengah melangkah menuju ke arahnya.
"Mama, Papa?" ujar Hanum.
"Ini ada apa sih sebenarnya, kok tumben-tumbenan kumpul-kumpul begini?" tanya Hanum yang masih bingung. Dia merasa sedang tidak berulang tahun atau ada hal penting apa yang perlu di rayakan bersama keluarga.
Bu Atma menatap ke arah mamanya Hanum sambil melempar tawa. Melihat wajah bingung Hanum mereka tampak gemas.
Meski wajah sang mama tampak meyakinkan tapi hati Hanum merasa ada yang janggal. Tapi itu mungkin hanya perasaannya saja.
Sejenak mereka mengobrol sambil menikmati makanan yang tersaji. Canda tawa pun mengisi ruangan tersebut dengan sangat riang.
Beberapa bulan terakhir memang sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka pun membicarakan banyak hal termasuk juga soal bisnis mereka tak lepas menjadi topik.
Sedang asiknya mengobrol yang bersinggungan dengan masa depan tiba-tiba wanita itu teringat dengan putra mereka yang kini nasibnya kurang baik.
__ADS_1
"Loh, kenapa kok wajah Mama berubah jadi murung?" tanya Hanum dengan heran.
"Ah, nggak apa-apa kok," sahut bu Atma.
"Pasti mikirin Reno ya, sungguh keterlaluan dia itu. Maaf loh Mbak, bukan mau jelek-jelekin," lirih Bu Winda di sisi bu Atma.
"Aku hanya menyayangkan, apa bisa suatu saat nanti mereka berdua ini bersatu kembali. Rasanya aku ingin mengenyahkan perempuan itu agar putraku bisa kembali ke sini lagi. Tapi mas Pram tidak mengijinkan, katanya biarlah Reno merasakan sakitnya terlebih dahulu senagai hukuman atas kebodohan yang telah dia lakukan," tutur bu Atma secara rinci.
Bu Winda yang mendengarnya pun setuju, tapi rasanya tidak rela jika putrinya harus kembali lagi hidup bersama pria itu. Takut kejadian buruk itu akan terluang lagi.
"Hanum mau ke toilet dulu ya, Ma," pamit Hanum pada mama-mamanya yang tampak sedang saling berbisik.
'Sudah sangat paham sekali, pasti mereka sedang membicarakan pria itu'. Pikir Hanum dan dia memilih menghindar dengan alasan pergi ke toilet.
"Eh, iya jangan lama-lama ya nak," ucap bu Winda pada putrinya.
"Sepertinya dia dengar apa yang kita bicarakan," kata bu Atma.
"Dia wanita yang kuat, hatinya tidak akan mudah rapuh jika hanya memdengar namanya. Aku yakin itu, Mbak," timpal bu Winda.
__ADS_1