
''Sudah selesai, Mas,'' beritahu Hanum pada Reno.
Hanum mencoba mendekati Reno untuk membantu melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di tubuh Reno. Akan tetapi pria itu malah menghindar.
''Biarkan aku saja, kamu istirahat gih.'' Reno segera melilitkan handuk pada pinggangnya untuk menuju ke kamar mandi.
Tangan Hanum yang melekat di depan tubuh Reno terpaksa harus dia tarik kembali. Hanum pun berpikir, apakah dirinya sudah tidak menarik lagi.
Sementara Reno sedang mandi, Hanum pun menata diri untuk menyiapkan tidur malamnya. Niat hatinya ingin menggoda Reno dengan pakaian tidur yang seksii. Dia merasa sudah beberapa minggu ini mereka tidak melakukan ritual ranjang.
Dengan tubuh yang tak kalah menarik dari sang sekretaris, Hanum pun memasang pose di tepi ranjang. Hanya ingin memancing reaksi Reno.
Begitu pintu kamar mandi terbuka, Hanum menampilkan senyum manis yang menawan. Seketika, Reno terkesiap menatap Hanum yang tak biasanya. Istrinya itu tampak sedikit agresif membuat sesuatu dalam diri Reno bangkit. Pria itu pun langsung mendekat.
''Hanum, apa kamu merindukan sentuhannku?'' goda Reno.
Seketika itu juga hati Hanum ingin berteriak mengumpat dengan kata-kata. Tapi dia harus melanjutkan ini sampai Reno tiba di puncaknya.
Hanum dan Reno mulai melakukan pemanasan sedikit demi sedikit. Namun saat bibir Reno ingin memagutt bibir Hanum wanita itu langsung mengelak.
''Aku tidak ingin di sentuh oleh bibirmu yang sudah menyentuh bibir wanita lain,'' gumam Hanum dalam hati. Matanya menatap ke arah Reno yang begitu menikmati permainannya.
''Hanum, ayo kita lakukan sekarang,'' ajak Reno yang sudah siap memasuki inti milik Hanum.
Tampaknya Reno sudah tidak bisa lagi menahannya, saat itu juga Hanum pun langsung duduk melepaskan diri dari kungkungan Reno.
''Eh, Mas, sepertinya aku datang bulan. Rasanya sedikit aneh,'' alasan Hanum membuat mata Reno seketika mendelik.
Puncaknya belum tersalurkan sempurna tapi Hanum mematahkannya begitu saja membuat pria itu mengumpat dalam hati.
''Sial!'' kesal Reno dalam hatinya.
Reno pun menggaruk kepalanya yang tak gatal dan langsung pasrah begitu saja. Hanum pun berpura-pura pergi ke kamar mandi dan berganti pakaian tidur yang lebih sopan.
__ADS_1
''Aku tidur duluan ya, Mas.'' Hanum segera masuk ke dalam selimut tanpa melihat lagi betapa dongkolnya Reno yang sedang tanggung.
''Sialan kau Hanum. Kau mengerjaiku ternyata, aku harus menghubungi Clara malam ini juga. Kalau tidak, bisa-bisa aku sakit kepala,'' rutuk Reno tanpa suara. Di liriknya Hanum yang sudah memejamkan mata dan dia pun mencoba melambai di depan wajah Hanum.
Reno merasa aman saat Hanum tidak memberikan respon. Dia pun bergegas memakai pakaian setelah mengirim pesan pada Clara.
Pria itu berjalan menjinjitkan kaki dan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu tidurnya Hanum.
Setelah berhasil keluar dari kamar dengan aman tanpa suara, Reno pun langsung meraih kunci mobilnya dan pergi meninggalkan rumah.
''Kau pikir aku ini bodoh apa, Mas. Ternyata kau itu itu pria brengsek. Sifat aslimu mulai terkuak, semua perlakuan manismu itu hanya bualan belaka di awal pernikahan kita. Marilah kita akhiri semua ini.'' Hanum mengepalkan tangannya begitu dia mendengar suara deru mobil Reno meninggalkan rumahnya.
Bukan Hanum tidak merasakan aroma parfum wanita lain dari tubuh sang suami, bukan juga dia tidak melihat bekas lipstik yang menempel pada kerah kemeja yang Reno kenakan. Tapi Hanum sudah melihat semua itu tidak hanya satu atau dua kali.
***
''Kenapa wajahmu masam begitu, Mas?'' tanya Clara begitu Reno tiba di rumah kontrakan sang sekretaris.
''Hanum sengaja membuatku kesal,'' ungkap Reno.
Dengan nada dan gerakan manja yang Clara lancarkan selalu membuat Reno ingin di puaskan oleh gadis itu.
''Dia mengerjaiku.'' Reno langsung meraup bibir Clara dan melahapnya. Seketika itu juga Clara pun langsung mengeluarkan suara khas yang membuat Reno semakin bersemangat.
Reno melampiaskannya pada Clara, sungguh sudah tidak bisa lagi termaafkan oleh Hanum atas perbuatanmu itu Reno.
Setelah menuntaskan hasratnya, Reno pun bergegas untuk pulang. Dia segera mengenakan pakaiannya kembali setelah membersihkan diri.
''Mas, kamu janji mau belikan aku rumah. Aku udah sumpek loh tinggal di kontrakan ini. Nggak ada tempat berendam dan juga air hangat seperti di rumahmu,'' rengek Clara pada Reno yang telah selesai bersiap.
''Besok kita bicarakan lagi di kantor, Mas pulang dulu.'' Reno mengecup kening Clara dan pergi meninggalkan rumah kontrakan kecil itu.
''Awas saja kalau bohong. Aku akan bongkar semua ini di hadapan istrimu,'' gumam Clara.
__ADS_1
Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kemabalo ke rumahnya. Dalam perjalanan Reno membeli seporsi martabak sebagai alasan jika nanti Hanum tiba-tiba mencurigainya.
Sesampainya di rumah, tampak lampu ruang tengah menyala dengan terang. Pertanda ada orang di ruangan tersebut. Reno melangkah dengan santai memasuki rumah sambil menenteng sekantong plastik bening berisi martabak.
Tampak seorang wanita tengah duduk bersandar di kursi menampilkan kepalanya saja yang membelakangi dirinya. Reno sudah mempersiapkan jawaban dan alasan jika Hanum memberondong dirinya dengan pertanyaan.
''Dari mana, Mas?'' tanya Hanum santai.
''Habis beli martabak, rasanya aku lapar pengen makan makanan manis,'' ujar Reno.
''Ini, kamu siapin dan kita makan bersama,'' titah Reno seraya menyerahkan martabak di hadapan Hanum.
''Aduh Mas, aku lagi mager mau ke dapur, sekalian kamu aja yang ambil piringnya ya. Mumpung kamu belum duduk,'' kata Hanum.
Reno tampak heran, ini kali pertama Hanum menolak perintahnya. Karena tidak ingin di curigai akhirnya Reno ke dapur mengambil piring. Setelah ia menyalin makanan itu ke dalam piring.
''Suapin, Mas. Coklatnya meleleh banget aku jadi pengen,'' ucap Hanum dengan manja. Sungguh sangat terlihat sekali perubahan wajah Reno menatap Hanum yang tiba-tiba manja seperti di awal pernikahan mereka.
''Kan kamu bisa suap sendiri, aku udah kelaparan,'' ucap Reno. Dia melahap makanan itu tanpa mengabulkan permintaan Hanum. Hanum pun tersenyum miring mendengarnya. Dia yakin kalau Reno tidak ingin lagi bermesraan dengan dirinya lagi seperti dulu.
''Mas, besok hari apa ya?'' tanya Hanum tiba-tiba.
''Besok? Emm, hari kamis. Kenapa memangnya?'' heran Reno.
Hanum tampak membulatkan bibirnya menyerupai huruf O saat tahu jika besok adalah hari kamis seperti yang di sebutkan oleh Reno.
''Aku hanya lupa hari saja. Besok aku ingin ke kantor, biasa di hari kamis ada jadwal pemeriksaan kecil-kecilan. Aku ingin melakukannya,'' kata Hanum dengan santai.
Reno yang mendengar langsung tidak setuju dan meminta Hanum untuk tidak melakukannya.
''Kan hanya kecil-kecilan, biar aku saja sama staffku nanti yang melakukannya, Han. Kamu tinggal terima beres,'' kata Reno.
''Aku tidak mau,'' tolak Hanum.
__ADS_1
''Kenapa?'' lagi-lagi Reno bertanya.