Hadiah Universary

Hadiah Universary
Bab 14


__ADS_3

Bab 14


"Seret dia keluar Bi, kalau tidak bisa minta saja bantuan dengan pak Udin di depan!" titah Hanum dengan tegas. Dia tak ingin melihat tampang menjijikkan dari Clara yang tidak punya malu dan juga harga diri itu.


Wanita itu meninggalkan ruang tamu dan tak memperdulikan rengekan Clara serta memohon ini dan itu. Hanum tak ingin mendengarnya sama sekali.


Setibanya di kamar, Hanum membanting bokongnya di kasur dengan kasar. Dia pun membuang napasnya juga dengan kasar sebagai luapan rasa kesal terhadap sikap wanita ular itu.


"Di mana di taruh mukanya itu, berani-beraninya dia datang ke sini meminta belas kasihan dariku. Heh! Aku tak sudi." Hanum mendengus kesal bercampur marah.


Terdengar suara gaduh di depan karena sepertinya Clara memberontak dan tak terima di usir oleh orangnya Hanum. Hanum pun tak peduli dan dia memilih untuk istirahat saja. Tubuhnya terasa begitu lelah seharian berada di kantor di tambah lagi masalah mobilnya yang membuat dia harus menunda waktu istirahat.


Setelah jam delapan malam, Hanum keluar dari kamar karena dia merasa lapar dan belum makan malam. Dia menghampiri meja makan yang sudah di siapkan oleh bi Mimi menu makanan kesukaan Hanum.


"Bi, Bibi," panggil Hanum dengan suara kuat. Lalu tak lama bi Mimi menyahut dari arah dapur.

__ADS_1


"Iya, Non," sahut bi Mimi dan segera mendekat.


"Ayo sini, kita makan bersama. Aku tidak mau makan sendirian seperti kemarin," pinta Hanum pada sang asisten dapurnya.


Bi Mimi pun menurut perintah Hanum dan segera menuangkan nasi ke piring milik Hanum beserta lauk pauknya.


Hanum mulai menikmati makan malamnya tanpa ada obrolan sama sekali. Dia ingin makan dengan tenang tanpa ada hal apa pun yang perlu di bicarakan.


Tak butuh waktu lama, dia pun selesai dengan makan malamnya. Hanum memilih duduk bersantai di ruangan kerja. Malam ini dia ingin melanjutkan pekerjaan sampingannya yaitu menulis.


Hanum mulai duduk di kursi kebesarannya dan memulai aktifitasnya. Hanum begitu menghayati setiap kata demi kata yang dia tulis di laptopnya. Baris demi baris dia baca ulang setelah selesai di tulis. Tak lupa pula dia mengeditnya agar tidak ada kata-kata yang keliru.


Satu jam waktu yang selalu Hanum sisihkan untuk menuangkan ide-ide kereatifnya ke dalam sebuah tulisan.


Begitu selesai dengan hobbynya, Hanum pun menutup pintu ruang kerjanya. Jam sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam. Tapi mata Hanum belum merasakan kantuk. Dia pun keluar menuju ke gazebo di samping rumah. Di sana lampunya memang di setting redup.

__ADS_1


Hanum membawa serta ponselnya dan mulai duduk bersandar di dalam gazebo itu. Mata cantik wanita itu menatap ke tingginya langit.


Malam yang begitu cerah di hiasi rembulan yang bersinar terang. Bintang pun tampak berkerlip indah walau jumlahnya tampak sedikit.


"Kita harus seperti bulan dan bintang itu ya sayang," ujar Reno sambil mendekap hangat tubuh Hanum.


"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Hanum heran.


"Iya, bulan dan bintang itu selalu berdampingan memberikan cahaya untuk bumi di tengah gelapnya malam. Ibaratkan cinta kita, walau bumi tampak gelap, tapi dengan adanya cinta kita berdua maka hidup kita akan menjadi terang." Reno menjelaskan maksud dari ucapannya tadi.


"Apaan sih, Mas. Kok nggak nyambung," ujar Hanum.


"Loh, nyambung dong sayang. Seperti kita sekarang, selalu berdua bahagia bersama. Semoga kita bisa secepatnya menjadi bertiga, Mas ingin benih cinta yang Mas tanam bisa tumbuh di sini," tunjuk Reno pada perut Hanum yang rata.


Hanum mengulas senyum dan menggenggam tangan Reno yang berada di atas perutnya. Matanya menatap ke arah manik milik Reno yang tampak bahagia.

__ADS_1


"Non,"


__ADS_2