
Ying dan lainnya semua telah sepakat mencari Baba Yaga agar dapat membawa Ying ke neraka. Mereka akan menemui Baba Yaga untuk mencari solusi tersebut. Baba Yaga adalah seorang penyihir yang sudah hidup ribuan tahun. Baba Yaga tinggal di gunung Fuji. Ying dan lainnya segera menuju gunung Fuji untuk menemukan penyihir tersebut.
"Hehh.. Hehh.. Kenapa tidak sampai-sampai?" keluh Ying yang sudah kelelahan mendaki gunung Fuji.
"Sudah saya katakan untuk memakai cara terbang saja sampai ke puncak. Tetapi kamu yang tidak mau. Dasar gadis merepotkan." ngomel Lin kepada Ying yang keras kepala.
"Sssttt! Pokoknya saya mau mendaki gunung. Sana terbang saja sendiri kalau kamu mau." balas Ying menanggapi omelan Lin terhadapnya.
"Sepertinya kita baru saja setengah perjalanan menuju puncak." ucap Hitomi memperhatikan keadaan sekitar.
"Bagaimana kamu tahu Hitomi?" tanya Ying.
"Karena gunung Fuji lumayan tinggi. Jadi puncak gunung Fuji hampir menembus awan sehingga puncaknya jadi bersalju. jika kita sudah mau sampai, tentunya suhu udara di sekitar kita akan tambah dingin." jelas Hitomi kepada Ying.
"Ohh.. Ternyata Hitomi selain cantik juga sangat pandai ya." puji Ying.
"Kamu saja yang terlalu bodoh." ejek Lin yang ditujukan kepada Ying.
"Apa katamu! Tarik kembali kata-katamu malaikat payah." marah Ying.
"Sudah.. Sudah.. Kalian seperti anak kecil." Relai Karasu menghentikan pertengkaran mereka.
"Ha.. Ha.. Biarkan saja mereka Karasu. Itu cara mereka mengungkapan perasaan mereka." ucap Omura Oni.
"BUKAN!" jawab Ying dan Lin serentak.
Semua tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Sudah lebih dari 5 jam mereka mendaki. Tetapi masih tidak terasa akan sampai di puncak.
Ying dan Hitomi yang sudah mulai kelelahan.
"Hitomi, apakah ini sudah akan sampai ke puncak? Hehh.. Hehh.." tanya Ying.
"Sepertinya belum. Tetapi jika dihitung lama kita mendaki. Seharusnya kita sudah sampai puncak." ucap Hitomi.
"Karasu, coba kamu terbang ke atas untuk mengecek jarak kita. Apakah masih jauh." perintah Omura Oni.
"Baik tuan." Karasu menuruti perintah Omura Oni.
Ketika Karasu terbang ke atas langit. Tiba-tiba suasana di sekitar Karasu menjadi berkabut dan di penuhi awan-awan putih. Sosok Karasu tiba-tiba menghilang diantara kabut tersebut dan tidak kembali lagi.
Satu jam mereka menunggu kedatangan Karasu untuk melaporkan situasi. Tetapi tidak ada tanda-tanda Karasu akan kembali.
__ADS_1
"Kenapa Karasu lama sekali? Hari sudah siang." Ujar Ying.
"Saya akan pergi mengecek keadaan Karasu." ucap Omura Oni yang juga terbang mencari Karasu.
Sama seperti Karasu. Omura Oni perlahan-lahan tertelan oleh kabut dan awan di langit. Sosok Omura Oni perlahan-lahan juga menghilang dan tidak kembali.
Kali ini mereka menunggu selama 2 jam. Omura Oni juga tidak terlihat akan kembali. Akhirnya tinggal mereka bertiga.
"Omura Oni tampaknya juga tidak kembali. Bagaimana ini?" tanya Ying yang mulai panik.
"Apakah mungkin mereka berdua tersesat ketika akan kembali kesini?" tanya Hitomi.
"Sepertinya tidak mungkin. Pasti ada sesuatu yang tidak beres disini." ujar Lin.
"Baiklah. Kalau begitu kita lanjutkan lagi perjalanan kita sekaligus mencari mereka berdua." ucap Lin yang memutuskan meneruskan perjalanan mereka tanpa menunggu Omura dan Karasu kembali.
Tak beberapa lama setelah mereka melanjutkan perjalanan, keadaan sekitar tiba-tiba juga sangat berkabut. Jalan mereka semua terhalang kabut dan tidak dapat melihat.
"Ying, ayo kita bersama dan jangan saling melepaskan tangan ya. Saya takut. He.. He.." ucap Hitomi yang mengandeng kuat tangan Ying.
"Baiklah Hitomi. Saya juga takut. Tetapi kemana perginya Lin ya?" tanya Ying yang baru sadar kehilangan Lin di tengah kabut.
"Eh.. Kamu benar. Berarti sekarang hanya tinggal kita berdua saja? huaaa.." ucap Hitomi dengan perasaan cemas.
Kembali ke keadaan Karasu.
"Sial... Kenapa banyak sekali burung-burung gagak ini yang menyerangku. Bukankah mereka seharusnya menuruti perintahku." gumam Karasu yang terlihat menghadapi ribuan ekor burung gagak di udara.
Sedangkan beralih ke Omura Oni. Terlihat dia sedang berbicara dengan bayangan seorang perempuan.
"Rose.. Kaukah itu?" tanya Omura Oni.
Kali ini kembali ke Lin. terlihat dia sedang mencari Ying dan Hitomi.
"Ying.. Hitomi.." panggil Lin. Ketika dia memanggil muncul bayangan Ying dan Hitomi di antara kabut.
"Disini Lin." terdengar suara dari bayangan itu. Ketika Lin mendekatinya, bayangan tersebut menghilang. Dan begitu seterusnya yang terjadi pada Lin.
Kembali ke Hitomi dan Ying. tampak mereka berdua juga sedang berjalan di tengah kabut.
"Miaw.. Miaw.." terdengar suara kucing.
Hitomi dan Ying pergi ke asal suara tersebut. Saat mereka sampai ke arah suara itu berasal. Terlihat seekor kucing sedang terbaring di bawah sebuah pohon besar. Kucing tersebut terluka. Terlihat kakinya berdarah.
__ADS_1
"Ada kucing di sana Ying." ujar Hitomi menunjuk ke arah kucing yang terbaring tersebut.
"Iya. Saya melihatnya. Sepertinya dia juga terluka." ujar Ying yang mulai mendekati kucing tersebut.
Hitomi dan Ying mendekati kucing tersebut dan memastikan kondisi luka pada kucing. Terlihat kaki kucing terluka akibat bekas gigitan hewan lain.
"Sepertinya dia telah di gigit oleh sesuatu. Ayo kita balut dulu lukanya." ucap Ying yang mengeluarkan sapu tangannya dan membalut kaki kucing tersebut.
"Miaw.. Miaw.." suara kucing ketika mereka membalut lukanya.
"Kucing pintar.. Sepertinya dia sangat jinak. Ayo kita bawa dia bersama kita. Kalau tidak dia akan di serang oleh hewan lainnya lagi." saran Hitomi.
"Saya setuju denganmu." ucap Ying menyetujuinya.
Ying lalu mengendong kucing tersebut dan memeluknya sambil meneruskan perjalanan.
"Bagaimana ini? Kita telah kehilangan Lin, Karasu bahkan Omura Oni. Kalau saja ada yang menyerang kita. Kita tidak akan bisa berbuat apapun." keluh Ying sambil berjalan.
"Seandainya kita bisa menemukan Baba Yaga secepatnya." ucap Hitomi.
"Baba Yaga?" terdengar suara yang menyebut nama penyihir tersebut.
"Ehh.. Hitomi, apakah kamu barusan berbicara lagi? Kenapa suaranya berbeda?" tanya Ying yang keheranan mendengar asal suara barusan.
"Tidak Ying. Saya sudah diam tadi. Malahan saya menyangka kamu yang menyebut Baba Yaga." jawab Hitomi.
"Hei.. Saya disini. Disini lo." terdengar asal suara tersebut dari kucing yang di gendong Ying.
"Eh.. Jangan-jangan kucingnya yang berbicara. Kyaahh.." ucap Ying yang langsung melepas pelukannya terhadap kucing tersebut.
"Bukk!" bunyi suara jatuh tubuh kucing menghantam tanah.
"Aduhh!! Sakit tahu. Dasar manusia." ucap kucing yang jatuh tadi.
Kucing tersebut perlahan-lahan bangkit berdiri.
"Hitomi, ku.. Kucingnya dapat berbicara." ucap Ying ketakutan memeluk Hitomi.
"I.. Iya. Saya juga mendengarnya. Apakah ini adalah mimpi?" ujar Hitomi yang juga tidak percaya dengan yang dilihatnya.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman telah membaca novel saya. Mohon like dan comentnya ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.🙏
__ADS_1