HAI.. MALAIKAT MAUTKU

HAI.. MALAIKAT MAUTKU
Masa lalu Corlina.


__ADS_3

Corlina adalah seorang peneliti di sebuah laboratorium yang terletak di Amerika. Dia meneliti tentang serum dan antibiotik. Perkembangan serum untuk menawarkan racun dari ular-ular berbisa khususnya ular jenis King Cobra sudah hampir mencapai keberhasilan.


Corlina terus menerus melihat sebuah akuarium di lab yang berisi puluhan ekor ular berbisa di dalamnya. Dia memandang kosong sambil memikirkan sesuatu. Tiba-tiba seorang wanita yang menggenakan baju lab yang sama dengannya datang menghampirinya.


"Hey... Corlina. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Wanita tersebut sambil menyentuh bahu Corlina dari belakang.


"Oo... Samantha. Kamu mengagetkanku. tidak apa-apa. Saya hanya berpikir bagaimana bisa menyempurnakan serum dan antibiotik ini agar dapat membantu orang-orang di luar sana." jawab Corlina.


"Iya, kamu benar sekali. Kamu tahu Corlina? Di Afrika tempat dimana para hewan liar dapat hidup bebas juga merupakan dilema bagi penduduk di sekitar. Karena sering sekali hewan-hewan liar disana menyerang penduduk sekitar. Mungkin mereka merasa terganggu. Tidak terkecuali ular berbisa. Banyak penduduk yang meninggal karena tergigit ular berbisa yang bersembunyi di balik benda-benda mereka." ujar Samantha menginfokan kepada Corlina.


"Benarkah?? Sungguh miris sekali mendengarnya. Ya.. Semoga serum kita berhasil dalam waktu dekat ya. Kudengar penelitian kita dibiayai oleh pemerintah dan akan diberikan kepada kaum yang tidak mampu membeli serum bila tergigit ular? Jadi mungkin ini bisa menjadi gebrakan baru untuk menolong sesama." ujar Corlina.


"Ya.. Semoga saja." balas Samantha sambil tersenyum.


3 bulan telah berlalu. Beberapa sampel sudah di lakukan uji coba. Tetapi belum ada kemajuan tentang serum sejak peningkatan 3 bulan yang lalu. Corlina beserta tim sudah mulai merasakan putus asa.


"Apakah memang serum ini tidak akan berhasil?" gumam Corlina setelah berulang kali melihat kegagalan dalam 3 bulan ini.


"Gawat!!" teriak Samantha yang berada di depan akuarium berisi ular beracun.


"Ada apa Samantha?" tanya Corlina yang melihat temannya berubah menjadi panik.

__ADS_1


"U.. Ularnya kurang 1. Kemana ularnya lari? Bisa berbahaya karena yang kabur termasuk ular yang sangat berbisa." jelas Samantha yang berusaha menghitung ulang banyak ular di akuarium.


"Benarkah? Gawat! Kita harus berhati-hati. Segera cek bawah kolong meja dan peralatan lainnya. Berhati-hatilah teman-teman." ujar Corlina memperingati semuanya.


Setelah dilakukan pencarian ke seluruh penjuru ruangan, tidak terlihat 1 ekor ular berbisa yang telah kabur.


"Tidak ketemu juga. Mungkin kita harus minta pertolongan petugas pemadam kebakaran. ayo segera hubungi mereka." ujar Corlina yang lagi-lagi memberikan instruksi.


Siang pun berganti menjadi malam. pencarian ular berbisa di hentikan sementara karena semua akses laboratorium akan di tutup berhubung sudah malam.


"Corlina, kamu tidak berniat untuk pulang?" tanya Samantha yang sedang bersiap-siap membereskan barang bawaannya untuk pulang.


"Oh ya.. Samantha. Kamu duluan pulang saja ya. Saya berniat memeriksa sampel serum yang akan di ujikan besok pagi. Saya ingin memastikan keberhasilannya." jawab Corlina yang melambaikan tangan tanda sampai jumpa kepada Samantha.


Kini tinggallah Corlina seorang diri di dalam laboratorium. Corlina pergi ke lemari pendingin yang berisi serum-serum yang akan di ujikan keesokan harinya. Ketika Corlina bersiap membuka pintu lemari pendingin tersebut, tiba-tiba seekor ular berbisa jatuh dari langit-langit laboratorium dan mendarat di lengan Corlina yang bersiap membuka pintu lemari pendingin.


"Ahhh..." jerit Corlina yang kaget dengan jatuhnya seekor ular di tangannya.


Corlina mencoba tenang dan menahan diri. Dia menahan posisinya dan tidak bergerak sedikit pun. Terjadi interaksi mata antara Corlina dengan ular berbisa tersebut yang tak lain adalah ular King Cobra dengan ukuran besar.


"U.. Ular baik... Ular baik... Tolong tenanglah. Jangan gigit saya. Saya sering sembelit, jadi daging saya pasti tidaklah enak sama sekali." Ujar Corlina yang masih berusaha tenang dengan situasi genting yang dia hadapi saat ini.

__ADS_1


Namun ular sama sekali tidak mau bergerak dari tangan Corlina. (Mungkin tangannya nyaman ya seperti berada di pelukannya 🤭). Interaksi mata masih tetap terjadi. Corlina akhirnya merasa lelah setelah berada di posisi yang sama dalam waktu yang lumayan lama. Tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya dikarenakan semua orang sudah pulang kerja. Dia hanya dapat mengandalkan dirinya sendiri.


Corlina lalu secara perlahan mengerakkan mundur tangannya. Pintu lemari pendingin yang di pegangnya juga perlahan-lahan terbuka. Corlina masih mencoba tenang agar bisa terlepas dari pengawasan ular berbisa tersebut.


Ular King Cobra yang berada di tangan Corlina masih tidak membuat gerakan, hanya terdiam dan terpaku menatap Corlina. Setelah pintu lemari pendingin terbuka setelah berhati-hati.. "Brukkk" Corlina mendorong tubuh ular masuk ke lemari pendingin dengan cepat dan segera menutupnya kembali.


"Arghh.." keluh Corlina yang setelah di perhatikan telah tergigit ular berbisa tadi di telapak tangannya saat mendorong masuk ular tersebut ke lemari pendingin. Terlihat dua lubang bekas gigitan ular tersebut mengalirkan darah segar Corlina dari telapak tangan. Corlina berusaha menekan keluar darah di telapak tangannya. Berharap racun dari ular bisa keluar. Tetapi apa daya, racun ular sangat kuat. Corlina mulai merasakan gejala akibat racun yang sepertinya mulai mengalir ke tubuhnya.


Corlina mulai merasakan mual, pusing dan sesak napas. Corlina mulai merasakan kegelisahan dan dilema. Dia ingin mengambil serum di dalam lemari pendingin untuk dirinya, tetapi sang ular berbisa masih terkunci di dalam lemari pendingin tersebut.


"Jika saya buka lemarinya. Apakah ular tersebut akan mengigit saya lagi? Tetapi jika saya tidak mengambil serum itu. Bisa dipastikan saya akan menjadi mayat malam ini." gumam Corlina dengan keringat dingin di seluruh permukaan wajahnya.


Akhirnya Corlina tegas memustuskan tindakannya apapun resikonya. Dia segera membuka pintu lemari pendingin dan mengambil serum antibiotik untuk racun ular. Ketika hendak mengambilnya, ular berbisa tersebut sempat-sempatnya masih menghadiahkan satu gigitan lagi di lengan Corlina.


"AAWWW!" teriak Corlina kesakitan. Tetapi akhirnya dia berhasil mengambil serum antibiotik tersebut dan segera menutup kembali pintu lemari pendingin.


Segera setalah mendapatkan serum antibiotik, Corlina langsung menyuntikkan ke dalam tubuhnya.


"Meskipun saya tidak mengetahui apakah serum ini akan berhasil atau tidak? Saya tidak punya pilihan lain. Semoga serum ini dapat bekerja dengan baik." gumam Corlina yang perlahan-lahan kehilangan kesadarannya dan pingsan di laboratorium. Bagaimanakah nasib Corlina selanjutnya? Akankah Corlina selamat?


Bersambung...

__ADS_1


Hai teman-teman. Mohon dukungannya dengan like dan comentnya ya agar saya dapat meningkatkan kemampuan saya. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di chapter berikutnya 🙏.


__ADS_2