HAI.. MALAIKAT MAUTKU

HAI.. MALAIKAT MAUTKU
Kecemasan Rita.


__ADS_3

Hitomi sangat terkejut melihat gadis yang mirip dengan Ying memanggil pria yang mirip dengan Lin dengan sebutan kakak.


"Ying??? Kenapa kamu bisa ada disini? Dan kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan kakak?" tanya Hitomi sambil menunjuk ke arah Ryoku.


"Mmmhh??? Apa maksudmu Rita? Tentu saja Ryoku ini adalah kakak saya." jawab gadis yang mirip Ying tersebut.


"Dan siapa itu Ying?? Apakah kamu melupakan nama saya?" tanya gadis itu kembali.


"Dia memang sudah aneh sejak tadi. Saya juga tidak tahu apa sebabnya." sambung Ryoku berbicara kepada gadis tersebut.


"Namaku Yuna bukan Ying. Tolong jangan lupakan namaku ya. Kamu akan segera menjadi kakak iparku kelak." ujar gadis tersebut dengan wajah cemberutnya kepada Hitomi.


"Ba.. Baik Yuna. Maafkan saya, mungkin saya tadi telah salah orang." ucap Hitomi yang pasrah dengan kondisinya saat ini.


"Oya... Kakak, festival tomatnya akan segera dimulai. Apakah kakak akan ikut bermain?" tanya Yuna kepada kakaknya dengan manja.


"Hmm.. Kakak sudah terlalu tua untuk permainan kekanak-kanakan seperti ini. Kamu saja yang bermain bersama Rita." jawab sang kakak menunjuk ke arah Hitomi.


"Kenapa jadi saya yang harus ikut bermain? Saya tidak begitu gesit dan mahir dalam permainan ini." ujar Hitomi.


"Ayolahhh Rita... Temani saya bermain. Untuk bermain di festival ini minimal harus mempunyai 2 orang dalam satu regu." rengek Yuna kepada kekasih kakaknya.


Melihat Yuna yang merengek dengan manja membuat pendirian Hitomi tergoyahkan. Yuna bagaikan anak balita yang memohon kepada ibunya.


"Ya.. Akan kutemani kamu bermain di festival. Mohon bantuannya." ujar Hitomi menyetujui permintaan Yuna.


Festival pun akhirnya dimulai. Para penonton berdiri mengelilingi alun-alun dan tidak melewati batas yang ditentukan agar tidak menggangu para pemain.


Yuna dan Hitomi berdiri di titik mereka dengan sekeranjang tomat segar.


"MULAIIIII" teriak seorang panitia festival tanda bahwa festival telah dimulai.


"Syutt.. Syutt.. Syutt... Jbrettt... Jbrettt" lemparan tomat menghujani area festival. Seluruh alun-alun penuh dengan warna merah tomat. Beberapa peserta terkena lemparan tomat di tubuh dan wajahnya. Alhasil pakaian serta wajah mereka merah merona dipenuhi dengan senyum dan tawa tanda bahagia.


Yuna dan Hitomi sibuk menghindari lemparan tomat dan menyerang balik peserta-peserta yang ada disana.


"Rita, lempar kiri... Ehh... Kanan.. Kanan... Ehh.. Kiri juga ada... Dikiri kamu.. Kiri kamu... Sekarang di depan... Di depan..." intruksi dari Yuna yang sangat kacau balau kepada Hitomi.

__ADS_1


"Yuna, intruksi kamu sangat tidak jelas. Jadi saya seharusnya melempar tomat ini ke arah mana?" tanya Hitomi yang kebinggungan.


"Jbrettt" sebuah lemparan tomat mengenai wajah Hitomi. Kini wajahnya dipenuhi cairan merah dari buah tomat yang hancur.


"Awww, ternyata sakit juga terkena lemparan tomat." gumam Hitomi. (ada teman-teman pembaca yang mau mencoba dilempar tomat ke wajahnya? Kalau ada, mohon info bagaimana rasanya ya. Hi.. Hi..)


"Ma.. Maaf Rita. Saya terlalu bersemangat mengarahkan. Baiklah!!! akan saya terjang dan serang sendiri. MAJUUU!" ujar Yuna dengan sebuah tomat di tangannya.


Yuna berlari dan bersiap melempar tomat bagai bola kasti. Ketika hendak melemparkan buah tomat di tangannya dalam keadaan berlari, kaki Yuna tidak sengaja menginjak bekas tomat yang ada di lantai. Akibatnya pijakan kaki Yuna tidak seimbang dan akhirnya dia tergelincir lalu jatuh ke lantai.


"BRUAKKKK" suara jatuhnya Luna.


"Aduhhh sakittt!" ucap Yuna sambil memegang belakang pinggulnya yabg terbentur oleh lantai.


Ryoku yang berada di pinggir alun-alun melihat Yuna yang terjatuh segera menghampiri adiknya tersebut.


"Yuna!!" teriak Ryoku yang langsung berlari ke arah Yuna.


Hitomi yang juga berada di dekat Yuna segera bergegas menghampiri gadis tersebut.


"Awww... Sepertinya pinggul saya keseleo." ucap Yuna yang terus memegang pinggulnya.


Tak lama kemudian akhirnya Ryoku tiba di tempat Yuna dan Hitomi.


"Yuna, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu terluka." tanya Ryoku dengan wajah penuh kekhawatiran.


Hitomi memandang ekspresi wajah Ryoku. Terbias rasa cemas yang teramat dalam pada wajah Ryoku.


"Kenapa dia begitu khawatir dengan Yuna? Bukankah Yuna hanya terjatuh?" gumam Hitomi.


"Ahh.. Tentu saja dia begitu khawatir. Bagaimanapun juga Yuna adalah adiknya." sambung gumaman Hitomi yang berusaha membuyarkan keraguannya.


"Tidak apa-apa kak. Sepertinya pinggul saya sedikit terkilir, akan segera sembuh setelah beristirahat." ucap Yuna yang mencoba berjalan keluar dari alun-alun.


Tanpa berkata apapun Ryoku menyodorkan tangannya ke leher dan betis Yuna.


"Kyahhh! Kak, apa yang kamu lakukan?" ujar Yuna yang terkejut.

__ADS_1


Ryoku lalu mengangkat tubuh Yuna ke atas. Kini Yuna berada di gendongan Ryoku.


"Biar saya antar kamu keluar dari alun-alun. Kurangi dulu berjalan agar keseleo di pinggulmu tidak bertambah parah." ucap Ryoku sambil berjalan mengendong Yuna keluar dari alun-alun.


Hitomi berada di belakang mereka berdua. Melihat punggung dari Ryoku yang terus berjalan menggendong Yuna tanpa menghiraukan keberadaannya yang ikut berjalan dengan mereka.


"Entah kenapa dada ini terasa sesak." gumam Hitomi yang berjalan sembari meremas dadanya.


Perayaan pun telah usai. Ryoku, Hitomi dan Yuna telah kembali ke rumah. Ryoku membawa sebaskom air hangat dan sehelai handuk kecil.


"Buka sedikit pakaianmu." perintah Ryoku kepada Yuna.


Yuna tidak banyak memprotes apa yang diintruksikan kakaknya. Dia membuka sedikit bagian belakang kimono yang dikenakannya dan terlihatlah tubuh dengan pinggul yang indah. Terlihat pula sebuah bekas memar pada area pinggul tersebut. Ryoku memasukkan handuk kecil ke baskom dalam air hangat. Lalu diangkat dan perasnya kain tersebut.


"Sssrrrttt" handuk kecil siap digunakan untuk membasuh luka memar pada pinggul Yuna. Hitomi hanya terdiam melihat tindakan Ryoku. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa-apa.


"Apakah ada merasa lebih baik?" tanya Ryoku sembari menempelkan kain kecil itu ke pinggul indah Yuna.


"Ya... Kak. Sudah sedikit nyaman. Sakitnya juga sudah mulai mereda." jawab Yuna kepada kakaknya tersebut.


"Malam ini menginaplah disini. Besok saja kamu baru pulang ke rumah. Saya akan pulang ke rumah ibu untuk memberitahunya kejadian ini. Silahkan kamu beristirahat. Rita, tolong kamu temani dan bantu saya merawat Yuna." ucap Ryoku melihat ke arah Hitomi.


Panggilan itu sejenak menyadarkan Hitomi dari lamunannya.


"Ahh..? Ya... Lin.. Eh.. Maksud saya Ryoku?" ucap Hitomi yang baru tersadar dari pandangan kosongnya.


"Sepertinya ada hal yang menganggu pikiranmu. Ada masalah apa Rita?" tanya Ryoku yang terus memperhatikan Hitomi.


"Ehh.. Ehh.. Tidak apa-apa. Tadi kamu mengatakan apa?" balas Hitomi yang malah bertanya kembali.


"Saya tadi meminta bantuanmu untuk membantu menjaga dan menemani Yuna. Bisakah kamu melakukannya?" tanya Ryoku kembali.


"Ohh ya.. Tentu saja bisa." balas jawaban Hitomi kepada Ryoku.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman sudah membaca karya saya. Mohon like dan comentnya ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2