
Corlina tidak sengaja mendengar transaksi Mark yang menggelapkan serum antibiotik untuk penawar racun ular berbisa. Corlina akhirnya tertangkap setelah mencoba kabur. Kini dia dipermalukan dan digantung di atas akuarium berisi puluhan ular berbisa.
"Kumohon tuan... Lepaskan saya... Saya berjanji tidak akan mengatakan kepada siapapun." mohon Corlina dengan linangan air mata yang terus mengalir.
"Itu juga yang dilakukan Samantha ketika selesai mengancam saya. Akan kupertemukan kau dengannya. Bukankah kau mencarinya tadi pagi?" ujar Mark yang menuju ke lemari pendingin.
Mark membuka pintu lemari pendingin, setelah itu Mark membongkar susunan-susunan yang ada di dalam lemari pendingin. Setelah tidak ada apapun di dalam lemari pendingin, Mark menarik sebuah dinding besi di belakang lemari pendingin tersebut. Ternyata ukuran lemari pendingin lebih besar dari dugaan Corlina selama ini. Masih terdapat sedikit ruangan yang tersisa di belakang lemari pendingin.
Terlihat sebuah tubuh yang membeku. YA! itu adalah tubuh Samantha yang dibekukan. Tubuh yang telah membeku itu mempunyai berpuluh-puluh lubang bekas gigitan ular. Sungguh kondisi tubuh yang mengenaskan. Mark menarik keluar mayat tersebut dari dalam lemari pendingin dan meletakkannya di hadapan Corlina yang sedang digantung.
"Silahkan kamu say hello kepada temanmu ini. Ha.. Ha.. Bukankah ini reuni yang mengharukan?" ejek Mark menertawakan kondisi tubuh Samantha yang begitu mengenaskan.
"Jeritannya ketika dibalut oleh puluhan ular waktu itu sungguh membuatku bergairah. Sayang sekali dia mati terlalu cepat. Ha.. Ha.." lanjut ejekan Mark yang membuat darah Corlina mendidih mendengar olokan Mark terhadap sahabatnya Samantha. Mukanya memerah bagaikan tomat.
"BAJING*N KAU MARK!!! APA YANG TELAH KAU PERBUAT KEPADANYA. OH.. TIDAK! SAMANTHAAAA!" raungan Corlina mengema ke seluruh ruangan laboratorium.
Semua pria yang disana hanya tertawa terbahak-bahak melihat kepedihan dan kesedihan Corlina. Harga diri kedua wanita ini telah dipermainkan dan di injak-injak, bahkan ketika sahabatnya sudah menjadi mayat juga tidak terlihat setitik belas kasihan kepada mereka oleh para maniak serakah ini.
"Sebenarnya saya sangat berterima kasih kepada kalian berdua. Berkat kalian berdualah serum ini bisa berhasil. Sekarang banyak orang kaya yang ingin memonopoli semua serum ini dan menjualnya dengan harga tinggi. Bukankah ini juga menolong orang yang keracunan? Jadi tujuan kalian untuk menolong yang lain juga tercapai. Tidak seharusnya kalian keras kepala memperjuangkan harga murah untuk serum ini. Bahkan sempat berpikir untuk memberikannya secara cuma-cuma. Dunia ini butuh uang Corlina. Jangan terlalu naif menganggap kamu bisa menolong semua orang." tegas Mark.
"Tuan, sebelum memberikannya kepada ular-ular ini. Bolehkah kami mencicipi gadis ini sebentar? Kulitnya sangat mulus dan lekuk di setiap tubuhnya membuatku sangat bersemangat dan bergairah." saran pria lain yang sedang bersama Mark di laboratorium.
"Oo ya... Ide yang sangat bagus. Kebetulan malam ini sangat dingin. Sepertinya saya juga butuh kehangatan. Ayo kita semua sama-sama menghangatkan diri bersama." ucap Mark mulai membuka bajunya.
"Tidak.. jangan... Kumohon lepaskan saya!" Corlina terus berteriak dengan percuma. Tidak ada yang datang menolongnya.
Para lelaki mesum itu menurunkannya dan menyantap setiap bagian tubuhnya. Meskipun Corlina meronta-ronta melawan, akhirnya dia hanya bisa pasrah terhadap kondisinya saat ini. Air matanya mengalir tanpa henti dan dia hanya bisa terdiam membiarkan setiap tubuhnya diraba dan digerayangi oleh para lelaki hidung belang.
__ADS_1
Selesai melampiaskan nafsu bejatnya, Mark lalu mengambil pisau dan menusuk tepat di tengah perut Corlina.
"Jlebb" tusukan pisau yang begitu dalam membuat Corlina memuntahkan sejumlah darah dari dalam mulutnya.
"Selamat tinggal Corlina. akan saya bantu kamu supaya bisa mati lebih cepat sehingga tidak perlu terlalu lama menderita. Ha... Ha.." ucap Mark yang kemudian mengendong tubuh Corlina dan melemparnya ke dalam akuarium berisi puluhan ular berbisa.
Bau darah yang mengalir di perut Corlina membuat para ular terpancing. Beberapa ular bahkan ada yang masuk ke dalam tubuh Corlina melalui lubang bekas tusukan Mark. Corlina di mangsa oleh puluhan ular berbisa di sekujur tubuhnya tanpa terlihat satupun celah. Akhirnya Corlina menghembuskan nafas terakhirnya dengan kondisi yang juga mengenaskan seperti Samantha.
Arwah Corlina akhirnya menjadi gentayangan karena di bunuh oleh Mark. Pada saat arwah Corlina gentayangan tanpa arah dan terluntang lantung di jalan. Saat itu muncullah Draculia yang sedang lewat.
"Hey.. Gadis kecil." sahut Draculia.
Corlina tidak menyadari bahwa Draculia memanggil dirinya. Dia beranggapan bahwa Draculia tidak bisa melihatnya dikarenakan dia adalah arwah penasaran. Corlina melihat ke kiri dan ke kanan. Tetapi tidak ada siapapun disana. Akhirnya sambil menunjuk dirinya sendiri...
"Tuan memanggil saya?" tanya Corlina yang memandang ke arah Draculia.
Corlina menganggukkan kepala tanda mengiyakan pertanyaan Draculia.
"Khe.. Khe.. Khe.. Saya adalah seorang malaikat maut. Tentu saja saya bisa melihatmu. Kondisimu sangat mengenaskan. Sepertinya kamu telah dibunuh secara sadis." ujar Draculia yang melihat arwah Corlina penuh dengan luka dan lubang di sekujur tubuh.
"Ya.. Saya telah menjadi korban dari keserakahan dan kebejatan atasan saya." jawab Corlina kepada Draculia.
"Khe.. Khe.. Khe.. Saya cukup bersimpati melihat kondisimu. Apakah kamu bersedia saya menolongmu?" tanya Draculia kepada Corlina.
"Tentu saja saya bersedia tuan.. Saya ingin membalas semua orang yang telah melakukan ini kepada saya." jawab Corlina.
"Ayo ikut saya!" ajak Draculia membawa arwah Corlina.
__ADS_1
Draculia membawa Corlina ke akhirat menjumpai Hades.
"Salam tuan Hades. Saya datang membawa seseorang." sapa Draculia sembari memberi hormat kepada Hades.
"Siapa yang kau bawa Draculia?" tanya Hades melihat ke arah Corlina.
"Dia adalah seorang arwah gentayangan yang terluntang-lantung di jalan. Saya berniat menolongnya tuan. Bisakah tuan membantu?" tanya Draculia memohon kepada Hades.
"Hmm... Baiklah akan kubantu dia karena kamu yang meminta." ujar Hades menyetujui permintaan Draculia.
Hades lalu mengeluarkan sebuah pil merah.
"Siapa namamu? Makanlah ini. Pil ini akan mengubah semua bentul penderitaanmu menjadi kekuatan untukmu." tanya Hades menyerahkan pil merah tersebut kepada Corlina.
"Nama saya Corlina tuan... Baiklah. Terima kasih banyak tuan." jawab Corlina sembari mengambil pil merah dari tangan Hades.
Corlina menelan pil merah tersebut. Tubuhnya terasa panas.
"Pa.. Panas sekali." gerutuh Corlina memegang dadanya yang terasa panas.
"Tahanlah sedikit. Kamu akan segera menjadi kuat." pinta Hades.
Tak lama kemudian tubuh Corlina berubah. Kedua kakinya berubah menjadi ekor ular. Ukuran tubuhnya juga membesar dari ukuran normal. Kini Corlina menjadi seekor ular raksasa bertubuh manusia.
"Sshhh... Terima kasih tuan. Terima kasih juga Draculia. Kini saatnya saya membalas dendam." ujar Corlina yang siap menghancurkan semua musuhnya.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih teman-teman untuk dukungannya. Mohon like dan comentnya ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya 🙏