
"Kyahhh" jerit Hitomi yang baru menyadari dia tidak berbusana sama sekali alias telanjang bulat. Dengan segera dia menggunakan kedua lengannya menutupi semua bagian tubuhnya yang dapat dia tutupi sebisa mungkin.
"Ha... Ha... Ada apa Rita? Bukankah bukan pertama kali kondisimu seperti ini di hadapanku? Kenapa kamu masih malu-malu kucing begini? kamu semakin mengemaskan jika begini. Sini kuberikan hadiah." ujar pria yang mirip Lin ini berjalan ke arah Hitomi dan hendak memeluknya.
"Ja.. Ja.. Jangan tuan Lin. Anda jangan mendekat! Kyaaaah." Hitomi berteriak lagi sambil menghindari pelukan pria tersebut.
Si pria melihat ke arah Hitomi dengan sedikit keheranan.
"Saya rasa kamu mungkin kecapekan karena kita bermain cukup lama semalaman. Baiklah.. Akan saya biarkan dulu kamu beristirahat. Hari juga sudah pagi. Saya akan segera pergi mandi. Kamu mau ikut mandi bersama?" ucap pria tersebut yang masih mencoba mengoda Hitomi.
"Tidak tuan! Anda pergilah mandi terlebih dahulu." ucap Hitomi yang masih terus berusaha menutupi penampakan tubuhnya yang putih serta halus itu.
Pria tersebut hanya tertawa tipis dengan alis berkerut di antara kedua dahinya, menandakan ekspresi antara lucu serta binggung melihat kelakuan Hitomi yang canggung dan gugup.
Setelah pria tersebut pergi dari ruangan itu, Hitomi segera melihat keadaan-keadaan di sekitarnya. Terlihat suasana ruangan yang seperti jaman dulu. Pintu fusuma (pintu geser pada rumah tradisional jepang) yang terbuat dari kayu dan kertas. Serta lantai yang masih terbuat dari tatami (lantai dari kayu yang dingin). Biasanya lantai tatami adalah lantai yang juga digunakan pada rumah tradisional jepang.
"Dimana ini?" gumam Hitomi yang berkeliling mencari tempat pakaian.
"Saya harus berpakaian terlebih dahulu. Sungguh aneh dan risih berjalan dengan kondisi telanjang seperti ini. Apalagi ada seorang pria yang juga berada di rumah ini." gumam Hitomi yang akhirnya tiba di sebuah ruangan kosong. Tampak sebuah pintu fusuma di dalam ruangan tersebut. Setelah pintu di geser, didalam terdapat beberapa helai pakaian tradisional jepang yaitu kimono. Hitomi segera mengambil sehelai kimono dan memakainya.
Berselang beberapa waktu kemudian, datang pria yang tadi bersama Hitomi di kamar.
"Rita? Apa yang kamu lakukan disini? Oh... Apakah kamu mencari pakaian?" tanya pria tersebut.
"I.. Iya tuan. Saya mencari pakaian saya." jawab Hitomi yang masih gugup.
__ADS_1
"Tuan?? Sejak kapan kamu mengubah panggilan saya menjadi tuan. Biasanya kamu selalu memanggil namaku Ryoku. Apa kamu lupa namaku? He.. He.." canda pria tersebut yang masih belum menyadari bahwa Hitomi memanglah tidak mengetahui namanya sedari awal.
"Oo ya.. Maksud saya Ryoku. Ada hal yang ingin saya tanyakan. Dimana kita sekarang dan kenapa semua rumah disini tampak sangat tradisional sekali? Jaman apa sekarang?" tanya Hitomi.
Mendengar pertanyaan Hitomi, pria tersebut maju ke arah Hitomi. Hitomi yang gugup mencoba mundur, tetapi di belakangnya sudahlah dinding yang buntu. Setelah sampai di hadapan Hitomi, pria tersebut mengangkat lengannya. Hitomi yang masih gugup tetapi tidak bisa menghindar hanya memilih untuk menutup erat matanya.
"TAPPP" tangan pria tersebut menyentuh dahi Hitomi.
"Apakah kamu demam???" tanya Ryoku yang juga menyentuh dahi miliknya dengan tangannya yang lain.
Wajah Hitomi memerah dan darahnya mendidih. Dia tidak pernah berjarak sedekat ini dengan pria.
"Hmm.. Tidak demam! Tapi kenapa wajahmu sangatlah merah. Ohhhh mungkin kamu kepanasan. Ayo kita mandi saja agar tubuhmu segar kembali. Sini saya bantu gosokkan punggungmu. He.. He.." ucap Ryoku menawarkan. (Dasar tukang modus!!)
"He.. He.. Iya.. Iya.. Akan saya jawab. Apa kamu lupa? Kita sedang berada di kota Edo. Ini adalah jaman pemerintahan shogun Tokugawa. Saya tidak mengerti kenapa kamu menyebut rumah tradisional. Bukankah bentuk rumah di kota seluruhnya hampir sama seperti ini?" tutur Ryoku.
Setelah mendengar informasi yang disampaikan Ryoku, Hitomi menyadari bahwa dia sekarang sedang berada di masa lalu.
"Era shogun Tokugawa? Itu adalah era 1.800 tahun lalu di jepang. Artinya saya sedang di masa yang lalu dari duniaku sekarang. Dan sepertinya dia terus memanggilku Rita. Apakah artinya saya bernama Rita di dunia ini?" gumam Hitomi.
"Oo.. Saya hanya lupa. Sekarang saya sudah ingat. Hi.. Hi.." ucap Hitomi dengan senyum palsunya.
"Baguslah jika kamu ingat. Oya.. Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Ryoku yang menarik tangan Hitomi bersamanya.
"Tu.. Tunggu! mau kemana kita?" tanya Hitomi sambil berjalan mengikuti langkah Ryoku karena tangannya ditarik oleh pria tersebut.
__ADS_1
"Hmm... Lagi-lagi kamu lupa! Kita mau ke festival panen. Ayo buruan! Nanti akan sangat ramai jika kita tiba terlalu larut disana." ucap Ryoku yang berjalan terus menuju alun-alun kota setelah keluar dari rumahnya bersama Hitomi.
Akhirnya sampailah mereka di alun-alun kota Edo. Tempat festival panen akan diadakan. Terdapat banyak keranjang yang berisi tomat-tomat merah segar. Hitomi binggung dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Ryoku, apa itu festival panen? Dan kenapa banyak sekali keranjang rotan yang berisi tomat-tomat segar di alun-alun ini?" tanya Hitomi yang sedikit penasaran.
"Festival panen itu adalah festival dimana kita mengungkapkan rasa terima kasih kita kepada para dewa karena sudah di berikan hasil panen yang berlimpah. Dan kumpulan tomat yang ada di keranjang rotan itu adalah perayaan yang akan kita mainkan untuk menghibur para dewa." ucap Ryoku kepada Hitomi yang masih kebinggungan dengan semua ini.
"Menghibur dewa?" ucap Hitomi yang masih memandang Ryoku pertanda dia masih kurang paham dengan penjelasannya.
"Ya.. Semua tomat di keranjang itu akan di tempatkan di beberapa titik alun-alun kota. Kita akan melakukan perang tomat dengan melempar tomat-tomat tersebut kepada semua yang ada di alun-alun ini. Diyakini dengan melakukan kegiatan perang tomat ini, maka para dewa akan terhibur dengan aksi kita." jelas Ryoku kembali.
"Ohhh" ucap Hitomi tanda dia telah paham maksud penjelasan Ryoku.
Tak berselang lama mereka mengobrol...
"Kakak!" seru seorang gadis dari belakang mereka berdua.
Hitomi dan Ryoku berbalik ke arah sumber suara tersebut. Terlihat seorang gadis yang memakai kimono merah muda dengan ornamen bunga sakura dan rambut indahnya yang di biarkan terurai lurus sepinggang. Gadis tersebut berjalan mendekati mereka berdua. Setelah jarak yang semakin mengecil, akhirnya Hitomi dapat melihat wajah gadis tersebut dengan lebih jelas. Hitomi memasang wajah kagetnya setelah melihat sosok gadis tersebut.
"YI... YING!!!" kejut Hitomi setelah melihat gadis yang sangat mirip dengan Ying.
Bersambung...
Teman-teman, terima kasih dukungannya. Mohon like dan comentnya. Sampai jumpa di chapter berikutnya.🙏
__ADS_1