HAI.. MALAIKAT MAUTKU

HAI.. MALAIKAT MAUTKU
Surat Ryoku.


__ADS_3

Ryoku pulang ke rumah ibunya untuk mengabari tentang kondisi Yuna yang tidak memungkinkan untuk pulang. Kini tinggallah Yuna dan Hitomi berdua saja di rumah Ryoku. Hitomi secara rutin membasuh pinggul Yuna yang masih memar dengan handuk kecil dan air hangat yang dibawa Ryoku beberapa saat yang lalu.


"Apakah rasa sakit dan nyerinya sudah berkurang?" tanya Hitomi memastikan kondisi Yuna.


"Ya.. Terima kasih Rita. Sekarang sudah tidak terasa sakit lagi. Sepertinya akan segera sembuh karena keahlianmu membasuh luka memar. He.. He.." ledek Yuna kepada calon kakak iparnya itu.


"Dasar... Kamu sangat jahil ya. Akan kutekan-tekan luka memarmu agar sakit kembali." ancam Hitomi yang sebenarnya hanya berniat bercanda menanggapi ledekan Yuna.


"Ehh.. Jangan Rita.. Nanti kalau saya kenapa-napa kamu akan kehilangan adik ipar yang imut dan menawan ini." ucap Yuna dengan senyuman manis di wajahnya.


Hitomi memandang wajah Yuna yang manis dan mempunyai paras yang sangat cantik.


"Yuna... Kamu sangat cantik. Apakah kamu sudah mempunyai calon pendamping hidupmu?" tanya Hitomi sambil meneruskan basuhannya kepada Yuna.


Mendengar pertanyaan Hitomi, entah mengapa seketika terpancar kesedihan di raut wajah Yuna.


"Mmmhhh... Pendamping hidup ya?? Sepertinya belum ada yang dapat menggantikan posisi dia." ujar Yuna dengan tatapan sayu dan rasa putus asa.


"Dia?? Dia siapa Yuna?" tanya Hitomi yang sedikit penasaran.


"Ha.. Ha.. Bukan siapa-siapa. Ayo lanjutkan lagi basuhanmu Rita. Mungkin akan sembuh besok jika terus dilakukan seperti ini." ujar Yuna yang tidak ingin melanjutkan lagi pembicaraan tentang pendamping hidup.


Hitomi juga menghargai privasi dari Yuna. Dia tidak ingin memaksakan pertanyaannya kepada Yuna. Berselang beberapa waktu kemudian Ryoku juga pulang ke rumah dan semuanya langsung beristirahat karena sudah lelah bermain seharian. Malam pun berganti pagi, cuaca cerah dengan cahaya matahari menyinari kota Edo.


"Srettt" bunyi pintu geser rumah yang terbuka.

__ADS_1


"Nghhh, pagi ini cerah sekali." ucap Yuna yang keluar dari rumah dengan kedua tangan terangkat tinggi untuk meregangkan semua otot-otot kaku di badannya.


"Sepertinya kamu sudah sembuh. Kamu bahkan sudah bisa meregangkan tubuh gendutmu itu." ujar Ryoku yang juga berjalan keluar mengikuti Yuna.


"Apa kak? Kamu sepertinya payah dalam menilai seorang wanita. Apakah kamu tidak melihat tubuh seksi nan bohay milikku?" ujar Yuna yang mengangkat dua buah dadanya yang padat dan menungingkan sedikit pantatnya yang berisi, di tambah dengan tubuhnya yang sedang bermandikan cahaya matahari membuat seluruh kulit putihnya tampak berkilau sampai ke belahan dadanya.


Ryoku yang melihat gaya centil adiknya segera menjadi salah tingkah. Dia memalingkan wajahnya yang memerah ke arah lain. Menyadari kakaknya salah tingkah, Yuna juga menjadi malu sendiri. Segera yuna menyembunyikan bagian-bagian tubuh yang dia pamerkan sebelumnya.


"Kakak! Saya pulang dulu, tidak perlu mengantar saya lagi, sampai jumpa." ucap Yuna yang segera bergegas pergi dari hadapan kakaknya itu dengan wajahnya yang juga memerah.


Setelah kepergian Yuna, Ryoku masuk kembali ke dalam rumah. Kali ini Hitomi sedang membereskan beberapa barang yang berantakan di kamar Ryoku.


"Ada apa Ryoku? Kenapa wajahmu merah? Apakah kamu demam?" tanya Hitomi yang keheranan.


"Tidak apa-apa Rita. Silahkan kamu melanjutkan pekerjaanmu. Saya akan pergi ke pasar sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan." ujar Ryoku kepada Hitomi.


"Srrrtt" beberapa pucuk surat terjatuh dari balik kain yang membungkus futon Ryoku.


"Apa ini?" gumam Hitomi dengan rasa penasarannya pada beberapa pucuk surat tersebut.


Hitomi membuka satu per satu surat tersebut dan membacanya.


Surat pertama pun terbuka...


"***Hai Yuna, Ini kakakmu Ryoku. Hari ini sungguh hari yang indah. Kita pergi melihat bunga sakura bersama. Saya sangat senang melihat ekspresi bahagiamu di tengah bunga sakura berguguran. Saya berharap kebahagiaan ini tidak cepat berakhir. Entah kenapa Kakak menulis surat pendek ini. Mungkin karena kakak tidak bisa mengutarakan langsung perasaan senang kakak kepadamu. kakak berharap kamu bisa tumbuh dengan baik dan menjadi wanita yang cantik.

__ADS_1


Dari kakakmu Ryoku***."


Sebuah surat pendek yang di tulis Ryoku untuk Yuna. Dan beberapa pucuk surat yang berisi tentang hari-hari bahagia mereka bersama sebagai kakak-adik. Hitomi tersenyum dan sedikit merasa geli dengan surat yang ditulis oleh Ryoku. Sampai di surat terakhir yang dibuka oleh Hitomi.


"***Kepada adikku tercinta, Yuna. Setelah hari-hari bahagia yang kita lewati bersama, kakak sudah tidak sanggup menahan perasaan kakak kepadamu. Saya merasa perasaan yang telah tumbuh ini bukanlah perasaan antara kakak dan adik, tetapi ini adalah perasaan seorang laki-laki terhadap orang yang dicintainya. Yuna, entah sampai kapan saya bisa menahan rasa ini di dalam diri saya. Saya tahu bahwa ini adalah hubungan yang terlarang karena kita ini bersaudara. Saya akan mencoba melupakan rasa ini dan mencoba membuka hati kepada wanita lain. Siang ini saya bertemu dengan seorang gadis bernama Rita di warung ramen. Dia adalah wanita manis nan lembut. Sepertinya dia juga sangat perhatian dan baik. Saya berharap bisa membuka hati untuknya dan belajar mencintainya seperti saya mencintaimu. Mungkin ini semua sudah ditakdirkan. Kita tidak bisa bersatu. Saya berharap suatu saat ada laki-laki baik yang akan meminangmu. Karena jika tidak, saya tidak akan bisa melepaskan dan merelakan dirimu.


Dari kakakmu tercinta, Ryoku***."


Setelah membaca surat terakhir, perasaan Hitomi seperti tersayat-sayat pisau. Air mata tanpa sadar mengalir di pipi lembut Hitomi.


"Kenapa saya menangis? Bukankah saya baru 2 hari saja di dunia ini? Ini tentu saja tidak berpengaruh kepada kehidupanku saat ini. Bodohnya diriku. Hentikan tangisanmu Hitomi." gumam Hitomi yang terus menguatkan dirinya.


Tanpa sadar Ryoku sudah berada di depan pintu kamar memperhatikan Hitomi dengan beberapa pucuk surat yang sudah terbuka dan sebuah surat yang dipegang pada kedua tangannya.


"Rita..." panggil Ryoku yang mengejutkan Hitomi.


Hitomi seketika menyeka air mata di mata dan pipinya. Dengan segera dia berdiri dan menghadap Ryoku yang telah berdiri di hadapannya.


"Kamu telah membacanya?" tanya Ryoku kepada Hitomi yang menundukkan kepalanya tanpa berani memandang wajah Ryoku.


Hitomi tidak berkata apapun dan hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Ryoku.


Ryoku berjalan ke arah Hitomi dan dengan tangannya mengangkat dagu Hitomi. Kini kontak mata terjadi antara Hitomi dan Ryoku.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih teman-teman telah membaca cerita saya. Mohon like dan comentnya ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya. 🙏


__ADS_2