HAI.. MALAIKAT MAUTKU

HAI.. MALAIKAT MAUTKU
Perjuangan Corlina.


__ADS_3

"Corlina... Corlina... Sadarlah... Hey.. Sadarlah.." panggil seseorang.


Corlina yang pingsan perlahan-lahan sadar dan membuka matanya setelah mendengar suara panggilan tersebut. Terlihat sosok Samantha saat dia membuka matanya.


"Eenghh.. Dimana saya?" tanya Corlina sambil bangun dan memegangi kepalanya yang terlihat kesakitan setelah sadarkan diri. Terlihat kondisi Corlina yang terbaring di ruangan penuh ranjang.


"Kamu berada di rumah sakit. Kamu ditemukan pingsan di laboratorium. sepertinya kamu telah tergigit ular." jelas Samantha kepada Corlina.


"Oo iya.. Saya ingat! Seekor ular jatuh di tangan saya saat hendak mengambil serum di lemari pendingin. Setelah itu saya tidak sengaja tergigit ulat tersebut ketika mencoba mndorongnya ke dalam lemari pendingin. Dan akhirnya saya menggunakan serum yang ada di lemari pendingin. Setelah itu saya tidak ingat apapun" jelas Corlina.


"Iya.. Sepertinya kamu berhasil selamat karena tindakan cepatmu menggunakan serum antibiotik di lemari pendingin itu. Sekarang racun di tubuhmu sudah dinetralkan sampai habis. Sepertinya serum buatanmu telah berhasil." ucap Samantha sambil tersenyum mengetahui semua baik-baik saja.


"Benarkah??? Artinya serum yang saya pakai telah sempurna menetralkan racun. Akhirnya kita dapat membantu orang lain yang sedang kesulitan." ucap Corlina dengan raut wajah yang bahagia.


"Iya, Betul Corlina. Selamat ya. Semua berkat kerja kerasmu selama ini." ujar Samantha menyemangati Corlina.


Setelah beberapa hari semenjak kejadian tergigit ular, akhirnya Corlina keluar rumah sakit. Kini Corlina pergi bekerja di lab seperti biasa. Saat tiba di lab Corlina segera menuju ke ruangannya.


"Halo pak Mark! Apa kabar? Bagaimana serum antibiotiknya? Apakah siap dikirim ke daerah terpencil?" tanya Corlina kepada kepala laboratorium Mark.


"Hai Corlina, kelihatannya kamu sudah sehat. Saya ada kabar baik buat kamu. Pihak Laboratorium memberikan kamu cuti beberapa bulan untuk berlibur. Silahkan kamu pergi beli tiket pesawat dan nikmati harimu. Anggap saja sebagai proses pemulihan dari lukamu." ujar Mark kepada Corlina.


"Ada apa ini mark? Kenapa tiba-tiba kalian memberikan saya cuti tanpa pemberitahuan dan persetujuan saya? Dan ngomong-ngomong dimana Samantha? Saya belum melihatnya hari ini." tanya Corlina kepada Mark.


"Samantha telah mengambil cuti untuk beberapa bulan. Maka dari itu, kami juga memberi kamu cuti agar kamu bisa berlibur dengan tenang. Ayo silahkan rapikan barangmu dan pergilah." ujar Mark yang mendorong Corlina keluar dari ruangan dan mengantarnya sampai pintu keluar.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang tidak beres... Saya akan memeriksanya nanti." curiga Corlina kepada Mark.


Malam pun telah tiba. Corlina secara diam-diam menyelinap ke dalam laboratorium. Setelah masuk ke dalam laboratorium, Corlina mengecek setiap sudut ruangan dan beberapa peralatan. Pada saat tengah mengecek tiba-tiba terdengar...


"Crittt" bunyi suara pintu dibuka. Corlina segera bersembunyi setelah mendengar bunyi tersebut. Terdengar beberapa suara langkah kaki memasuki ruangan.


"Sudah saya katakan kalau itu adalah kecelakaan. Dia mencoba melaporkan kita. Saya hanya mencegahnya agar tidak pergi ke kantor polisi." ujar seseorang yang sepertinya terdengar familiar dari suaranya.


Corlina tidak dapat melihat wajah dari orang-orang tersebut karena sedang bersembunyi di bawah meja.dia mencoba 3mengintip siapa saja yang bicara.


"Sudahlah, lupakan dulu masalah perempuan itu sejenak. Sekarang adalah soal serumnya. Kapan pengiriman akan dilakukan? Para pembeli sudah mentransfer uang mereka. Kita akan dalam masalah jika tidak segera mengirimkannya." ucap seseorang lainnya yang terdengar juga oleh Corlina.


"Transfer uang? Siapa mereka? dan kenapa mereka menyebut serum?" gumam Corlina semakin penasaran.


Kali ini Corlina mencoba menaikkan kepalanya sedikit ke atas. Betapa terkejutnya dia melihat sosok beberapa pria yang sedang bercengkrama bersama. Salah satu pria tersebut adalah Mark. Dan beberapa pria yang tidak dikenal oleh Corlina.


"Ma.. Mayat Samantha." Corlina hampir berteriak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Mark barusan. Dia berusaha menggunakan kedua tangannya menutup erat mulutnya agar tidak ketahuan. Corlina sangat syok dan kaget. Kini dia bagai tikus terperangkap. Tidak bisa kemanapun. Corlina berusaha untuk keluar dari Laboratorium. Dia merangkak perlahan-lahan untuk tidak mwnghasilkan suara agar tidak ketahuan oleh pria-pria tersebut. Tetapi karena tidak begitu hati-hati, kepala Samantha menabrak meja yang ada di laboratorium.


"Prankkk" sebuah gelas kaca jatuh dan pecah.


"Siapa disana??" teriak Mark yang melihat ke arah asal suara tersebut.


Corlina segera bangkit dan berlari sekuat tenaga untuk keluar dari ruang laboratorium.


"Corlina??? Tangkap dia!!! Bisa berbahaya jika dia berhasil kabur! Kita semua akan membusuk di penjara!" teriak Mark memberi perintah kepada semua pria yang ada disana.

__ADS_1


Corlina berhasil keluar dari ruangan laboratorium. Dia berlari melewati lorong-lorong gedung. Corlina berusaha mencari tangga untuk turun dan keluar. Namun semua pintu emergency sudah terkunci karena sudah larut malam. Akhirnya pilihan Corlina tinggallah lift di ujung lorong. Corlina segera berlari menuju lift, dia memasuki lift dan tergesa-gesa menekan tombol di pintu lift. Pintu lift segera menutup. Saat pintu akan tertutup sempurna, muncul sebuah tangan menghalangi pintu lift intuk menutup. Pintu lift segera terbuka kembali dan terlihatlah sosok Mark.


"Selamat malam Corlina." sapa Mark yang muncul di hadapan Corlina.


Corlina sangat ketakutan dan terduduk menatap Mark.


"Sa.. Saya tidak mendengar apapun. Saya janji akan menutup mulut saya. Tolong lepaskan saya tuan Mark." mohon Corlina sambil menyatukan dua telapak tangannya.


"Baiklah.. Mari temani kita malam ini dulu." ucap Mark dengan senyum wajah bejatnya.


Corlina dibawa kembali ke laboratorium.


"Telanjangi dia! Gantung dia diatas akuarium ular beracun itu!" perintah Mark..


Corlina meronta-ronta dan menangis memohon kepada Mark.


"Jangan tuan... Kumohon jangan... Lepaskan saya... Hiks.. Hiks..." mohon Corlina.


Namun Mark sama sekali tidak mengubris permohonan Corlina. Corlina tetap ditelanjangi dan dipajang di depan akuarium. Tubunya diikat bagaikan umpan untuk memancing ikan. Terlihat belahan dada, lekuk pinggang dan bahkan ************ dengan paha putih mulusnya tanpa sehelai benangpun.


"Oh.. Corlina... Padahal saya sudah memberi kamu kesempatan untuk tidak terlibat masalah ini. Tetapi kamu tetap memaksa saya. Sungguh sangat disayangkan gadis cantik dan pintar sepertimu harus berakhir seperti ini." ujar Mark sambil mengangkat dagu Corlina dan menatap matanya yang berkaca-kaca.


"Kamu tahu? Samantha berusaha mencegah saya mengelapkan serum ini dan menjual ke pembeli dengan tawaran tinggi. Dia mencoba mengancam akan melaporkan saya. Sehingga saya membunuhnya dengan menjerat lehernya hingga mati menggunakan ikat pinggang saya. Sepertinya kamu akan segera bertemu dengannya." sambung Mark yang berbicara kepada Corlina.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih teman-teman atas dukungannya. Mohon like dan comentnya ya. sampai jumpa di chapter selanjutnya. 🙏


__ADS_2