Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 10


__ADS_3

Suasana Kafe Baper malam ini dipenuhi oleh muda-mudi, mengingat hari ini adalah hari Sabtu malam minggu. Ditambah lagi selalu ada konser akustik di hari itu, membuat Kafe milik Edgar ramai.


Arsen masuk ke dalam Kafe, ia memang sudah ada janji dengan sahabat-sahabatnya untuk berkumpul disini. Dirinya melangkah menaiki tangga yang berada di ujung ruangan, diatas sudah ada Edgar dan Nathan sedang berbincang seru. Perlahan ia mendekati keduanya.


"Woy, apa kabar lo, Sen? Ini nih orang sibuk, tiap diajak kumpul selalu nggak bisa," sambut Nathan begitu Arsen duduk di depannya.


"Sorry, gue belum ada waktu beberapa hari terakhir ini. Apa lagi sekarang nyokap berusaha jodoh-jodohin gue," balas Arsen dengan raut sedikit kesal.


Edgar menaikkan sebelah alisnya, "bukannya lo udah punya cewek? Beberapa hari yang lalu gue liat lo kesini sama cewek. Dua lagi ceweknya."


Nathan ikut menyahut, "Dua?! Gila lo Sen, makin tua makin berani aja."


Arsen mendelik ke arah kedua sahabatnya, "lo kok tahu, Ed?" tanyanya kepada Ed dengan mata memicing curiga. Pasalnya beberapa hari yang lalu sahabatnya itu sedang pergi meninjau lokasi untuk mengembangkan Kafe Baper di luar kota.


"Dari pegawai gue, mereka kan udah pada kenal sama lo," balas Ed santai mengabaikan wajah masam sahabatnya. "Jadi siapa pacar lo itu? Kenapa nggak dikenalin ke Tante Karin aja biar lo nggak di jodoh-jodohin."


Arsen menghembuskan napas panjang. "Mereka bukan pacar gue. Bianca itu mahasiswi gue, sedangkan Amanda itu cewek yang nyokap jodohin," terangnya.


Akhirnya mengalirlah cerita kejadian beberapa hari yang lalu dari mulut Arsen. Mulai dari Amanda yang mendatanginya di kampus, sampai mengakui Bianca sebagai pacar didepan Amanda. Ed dan Nathan yang mendengar penuturan sahabatnya itu melongo.


Setelah Arsen selesai cerita, Nathan angkat bicara. "Lagian lo sih nggak punya gandengan, Tante Karin jelas khawatir. Terutama di umur lo yang nyaris kepala tiga. Oke lah lo belum mau nikah, tapi setidaknya lo punya pacar."


Arsen diam enggan menanggapi perkataan sahabatnya, ia memilih menyeruput frappuccino dalam diam. Percuma ia mengatakan alasannya kepada Ed dan Nathan, mereka pasti tidak akan mengerti.


"Sen," panggil Ed, lelaki itu menyesap rokok di tangan. "Lo masih belum move on dari Seina?"


Skakmat!

__ADS_1


Melihat Arsen yang diam membisu, ditambah lagi tatapan lelaki itu yang berubah sendu, Ed dan Nathan saling berpandangan. Sikap diam Arsen sudah menjawab semuanya, lelaki itu masih terbelenggu dengan masa lalu.


"Sen, gue ngerti—"


Belum sempat Nathan menyelesaikan perkataannya, Arsen langsung menyela dengan nada dingin yang kentara. "Lo nggak ngerti, Nath."


Arsen tersenyum kecut, "kalian nggak ada yang ngerti gimana sakitnya gue ditinggal Seina." Ia tidak bisa melupakan mantan kekasihnya itu, mengingat dirinya sudah lama menjalin kasih dengan Seina. Lima tahun, cukup membuat kenangan yang cukup berarti dan membekas di hatinya.


Ed membuang puntung rokok di asbak, lalu menatap ke arah sahabatnya. Ia bisa merasakan kegetiran dari nada bicara Arsen. "Gue sama Nathan emang nggak ada yang ngerti, tapi sampai kapan? Sampai kapan lo terbelenggu sama masa lalu?"


Arsen menggeleng pelan, dirinya juga tidak tahu sampai kapan ia seperti ini. Perasaannya terhadap Seina masih tersimpan rapat di hati. Walaupun semakin ia simpan perasaannya semakin sakit, tetapi dirinya tidak bisa atau lebih tepatnya belum bisa melepaskan atau bahkan merelakan perasaan itu.


"Gue nggak tahu," bisik Arsen pelan, mata tajamnya menyiratkan keputusasa-an.


***


Karin mencoba untuk menghubungi Arsen, namun tidak ada jawaban. Berkali-kali ia menghubungi putranya, namun nihil, Arsen tetap tidak menerima panggilannya. Ia menyerah lalu meletakkan ponsel berwarna rose gold itu di atas meja.


Sebenarnya Karin sudah sepakat dengan Arsen untuk memberi waktu lelaki itu mencari kekasih sebelum hari ulangtahunnya. Tetapi tetap saja ia keras kepala mengenalkan Arsen dengan anak temannya, dirinya merasa tidak tenang jika putranya itu tidak segera memiliki pacar.


Karin beranjak dari kursinya, ia melangkah keluar ruangan. Kedua alisnya menyatu mendapati lampu dapur masih menyala, seharusnya pegawainya yang lain sudah pulang. Perlahan tapi pasti ia mendekati dapur, ia melongokkan kepalanya ke dalam.


Karin mengernyit mendapati Bianca yang duduk sendirian dengan tatapan kosong, ada apa dengan perempuan itu? Sebenarnya ia sadar jika akhir-akhir ini Bianca terlihat lesu, meski begitu kinerja perempuan itu selalu bagus.


Sejak kedatangan Bianca di Queen Bakery beberapa hari yang lalu cukup mengubah suasana bakery lebih hangat dari biasanya, perempuan itu selalu menebarkan aura positif kepada pegawainya yang lain. Bianca sangat mudah dicintai, sifat cerianya sangat menular. Karin juga melihat jika perempuan itu pekerja keras dan tidak mudah menyerah, tetapi akhir-akhir ini ada yang berbeda.


"Bi," panggil Karin, ia melangkah masuk mendekati Bianca. "Kamu belum pulang?"

__ADS_1


Bianca kontan bangkit dari duduknya, "belum, Bu Karin."


"Ayo, ikut saya ke lantai atas," ajak Karin, "temani saya membuat resep baru. Kamu tidak buru-buru, kan?"


Bianca menggeleng dengan cepat, ia tidak buru-buru. Tugas kuliahnya sudah selesai semua, tetapi ia tidak ingin kembali lebih cepat ke indekosnya. Berdiam diri di indekos membuatnya kembali memikirkan masalah biaya pengobatan Mamanya. "Saya nggak buru-buru kok, Bu," jawab Bianca, ia berjalan membuntuti Karin dari belakang.


Wanita paruh baya itu membawanya masuk ke dalam salah satu ruangan yang berada di lantai atas, begitu masuk Bianca melongo di tempat. Ternyata ruangan di sebelah ruangan Karin itu dapur yang cukup luas namun berbeda dengan dapur di lantai bawah, dapur ini didominasi warna pastel dan peralatan disini lebih lengkap.


Keduanya berjibaku dengan peralatan masak, Bianca membantu Karin membuat resep baru sesekali menyarankan idenya. Senyuman Bianca mengembang, ia merasakan kehadiran Ibunya kala memasak bersama Karin.


"Ide kamu bagus, Bi. Akhirnya saya berhasil membuat menu baru berkat bantuan kamu," kata Karin, wanita paruh baya itu tidak menyangka jika Bianca bisa membuat kue dan sangat kreatif. Perempuan itu penuh kejutan, Karin selalu dibuat terkejut serta terkesan dengan tingkah Bianca.


Karin dan Bianca duduk berdua menikmati kue buatan keduanya, terjadi hening cukup lama. Hingga wanita paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Bianca," panggil Karin.


Bianca yang sedang menikmati kue didepannya kontan menatap Karin, "iya, Bu."


Karin dengan hati-hati bertanya, "saya lihat kamu akhir-akhir ini kelihatan lesu. Apa ada masalah?"


Bianca tersenyum tipis, "iya, ada sedikit masalah, Bu."


Karin menggenggam tangan Bianca, lalu tersenyum hangat. "Saya disini, kamu bisa cerita kepada saya jika kamu tidak keberatan. Anggap saja saya seperti Mama kamu."


Mata Bianca sedikit berkaca-kaca, ia tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. "Makasih, Bu Karin."


"Bianca rindu dengan Ibu di kampung, Ibu saya sedang sakit," lanjut Bianca, tanpa menceritakan biaya pengobatan yang Ibunya butuhkan.

__ADS_1


Karin mengusap puncak kepala Bianca, tatapannya melembut, "melihat kamu yang kuat seperti ini, saya yakin jika Ibu kamu akan sembuh. Karena beliau kuat, sama seperti kamu." Malam itu Karin menyadari satu hal, jika perempuan di depannya ini begitu kuat dan selalu membuatnya kagum akan hal itu.


__ADS_2