Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 14


__ADS_3

Bianca mengobrak-abrik lemari bajunya, ia mencari baju yang pas. Namun tidak kunjung menemukan baju yang cocok untuk acara ulang tahun, jangankan dress, Bianca tidak memiliki rok. Baginya mengenakan rok sangat merepotkan, dirinya tidak bisa bergerak dengan bebas.


Di lemarinya hanya ada celana jeans dan kain, kemeja, kaos, hanya itu. Mengenakan pakaian seperti itu rasanya kurang pantas, apalagi Arsen berencana mengenalkannya dengan keluarga lelaki itu. Dirinya tidak ingin mempermalukan Arsen. Jujur, ia merasa gugup akan bertemu dengan keluarga si galak.


Bianca duduk di tepi ranjang, ia tidak mungkin meminjam dress milik Abel, perempuan itu pasti curiga. Tiba-tiba getaran ponsel diatas meja belajar menginterupsinya, ia dengan cepat menyambar benda pipih itu.


"Halo," sapa Bianca tanpa melihat caller ID.


"Halo, Bianca." Bianca sangat hapal diluar kepala suara berat milik dosen galaknya.


"Saya sudah ada di depan gang indekos kamu," lanjut Arsen di seberang.


Lho?! Gimana-gimana?


Bianca mengerjapkan matanya, "Ha?"


"Saya di depan gang indekos kamu, Bianca Almeera Anatasya," ucap Arsen dengan penuh penekanan di akhir kalimat.


Bianca kontan menatap jam di atas meja belajar, seharusnya masih ada waktu satu jam setengah. Tapi kenapa Arsen menjemputnya lebih awal?


"Pak, bukannya Bapak jemput saya jam delapan. Kenapa datang lebih awal? Saya belum siap, Pak." Bianca mondar-mandir di kamar dengan gigit jari, kebiasaannya saat terlalu panik.


"Tidak usah siap-siap. Temui saya sekarang, saya mau ajak kamu ke suatu tempat sebelum ke rumah," kata Arsen tegas menunjukkan jika tidak ingin di bantah, detik selanjutnya lelaki itu memutus sambungan telepon secara sepihak.


Bianca gondok, lagi-lagi Arsen bersikap seenaknya. Walaupun lelaki itu sudah menuruti keinginannya, tetapi Arsen tetap menyebalkan. Sifat menyebalkan itu sudah menjadi nama tengah dosen galaknya. Ia menyambar hoodie biru lalu mengenakannya, lalu dirinya berjalan menuruni tangga ke lantai bawah.


"Bang Rian, nanti gue pulangnya agak maleman. Nanti tolong bukain pintu, ya," ujar Bianca meminta tolong kepada Kakak tingkatnya yang sedang bermain gitar di teras depan indekos.


"Lo chat aja kalau udah didepan, ntar gue bukain," balas Rian fokus dengan gitar ditangannya.

__ADS_1


"Oke, makasih, Bang." Bianca berjalan menyusuri gang indekosnya yang masih ramai, mengingat masih pukul setengah tujuh malam.


Tepat di depan gang, Ia melihat Arsen sudah rapi. Lelaki itu menyender di kap mobil sembari memainkan ponsel, ia berjalan mendekat. "Pak Arsen, ini kan masih jam setengah tujuh," dengusnya kala berada di hadapan si galak.


Arsen menyimpan benda pipih itu ke dalam saku celana, ia berjalan memutar membukakan pintu mobil untuk mahasiswi bandelnya. Melihat Bianca yang tidak kunjung masuk ke dalam, ia berdecak. "Kamu ngapain masih disitu? Masuk," titahnya.


Bianca mendengus tak urung mengikuti perintah si galak dengan wajah menekuk sebal. Di dalam mobil ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, "Bapak, mau bawa saya kemana?"


Arsen yang sedang fokus mengemudi kini melirik perempuan di sebelahnya sekilas, "nanti kamu juga tahu."


Bianca bungkam, hingga mobil yang ditumpanginya berhenti di depan butik. Arsen menggenggam tangannya lalu membawa dirinya masuk ke dalam. "Pak, saya bisa jalan sendiri. Saya bukan anak-anak," ucap Bianca lirih. Ia belum terbiasa dengan kontak fisik yang dilakukan si galak kepadanya.


Arsen berhenti, ia menatap Bianca. "Mulai sekarang saya akan sering menggenggam tangan kamu, jadi biasakan mulai dari sekarang."


"Dan ... biasakan di luar kampus panggil saya Arsen. Didepan keluarga saya juga jangan bersikap terlalu formal, paham?" tanya Arsen.


Usianya dan Arsen terpaut enam tahun, ia rasa dirinya kurang sopan jika memanggil tanpa embel-embel 'mas atau bang atau mungkin kak'. "Pak, tapi...."


Bianca menahan nafas selama beberapa detik karena jaraknya dengan Arsen sangat dekat. Pikirannya mendadak blank, hingga suara lembut menyadarkannya.


"Arsen, apa kabar? Lama kamu nggak ke butik Tante," sapa wanita paruh baya dengan rambut cokelat sebahu.


"Tante Sandra, Arsen mau dress semi formal untuk Bianca," kata Arsen, tangannya berpindah merengkuh pinggang perempuan disebelahnya. "Rancangan baru Tante Sandra waktu Paris Fashion Week kemarin masih ada, 'kan?"


Sandra menatap ke arah perempuan disebelah Arsen, bahkan dirinya baru menyadari keberadaan Bianca. Seulas senyum terbit dibibir tipisnya, "Kebetulan masih ada. Ini siapa, Sen?"


Arsen tersenyum, "ini pacar Arsen."


"Jangan lama-lama pacarannya, kalau bisa cepat disahkan," goda Sandra, Arsen tersenyum. Namun berbeda dengan Bianca, perempuan itu yang awalnya tersenyum kini berubah dingin, dan Arsen menyadari hal itu.

__ADS_1


"Ayo, Bi. Ikut Tante," ajak Sandra, dibalas anggukan oleh Bianca.


Bianca menatap off the shoulder dress didepannya takjub, dress selutut berwarna merah marron itu sangat cantik. Pas sekali senada dengan kemeja yang Arsen kenakan. Ia berjalan ke Fitting Room, untuk mencoba mengenakannya.


Bianca menatap pantulan dirinya didepan cermin, dress itu terasa pas di tubuhnya. Ia melihat price tag di dress, betapa terkejutnya ia kala melihat harga yang tercantum disana. Belasan juta hanya untuk membeli dress? Ia berdecak. Lebih baik untuk membayar indekos dan itu pun masih sisa daripada membeli dress ini.


Bianca keluar dari Fitting Room, ia berjalan ke arah Arsen yang sedang duduk di sofa tidak jauh darinya. "Ar ... sen," panggilnya, ia masih belum terbiasa memanggil Arsen tanpa embel-embel 'Pak'.


Arsen mengalihkan tatapannya dari majalah, ia menatap Bianca dari atas hingga bawah. Sudut bibirnya tertarik ke atas, perfect. "Dress itu cocok kamu kenakan," ucap Arsen, ia bangkit dari duduknya. "Tante Sandra, Arsen ambil dress ini."


What the-


Bianca menarik tangan Arsen menjauhi Sandra, setelah dirasa jauh ia berbisik, "Pak Arsen, lebih baik kita cari butik lain. Atau kita pergi ke toko baju yang biasa saya dan Abel beli, disana biasanya ada diskon. Dress disini mahal, Pak."


Arsen mendengus, "nggak, saya mau kamu pakai dress ini." Karena kamu cantik mengenakan dress ini, lanjutnya dalam hati.


Bianca menatap kepergian Arsen dengan mendumel, dosennya itu benar-benar keras kepala.


***


Sepanjang perjalanan, Bianca tampak gelisah. Ia merasa gugup akan bertemu dengan keluarga Arsen. Kata lelaki itu, acara ulang tahun diadakan kecil-kecilan. Hanya ada keluarga inti dosennya. Tetapi tetap saja rasa gugupnya tidak bisa dikondisikan.


Mobil Arsen memasuki pelataran rumah, ia memarkirkan mobilnya disebelah mobil Rendra. Kakak pertamanya itu ternyata datang, ia kira laki-laki itu absen. Ia turun lalu membukakan pintu untuk Bianca.


Menyadari jika Bianca gugup, Arsen menggengam tangan perempuan itu. "Tenang aja, keluarga saya nggak akan makan kamu," kata Arsen.


Bianca menarik napas setelah tenang ia keluar dari mobil, dan berjalan beriringan dengan Arsen ke teras rumah.


Sebelum membuka pintu bercat putih itu, Arsen mewanti-wanti perempuan disampingnya. "Jangan panggil saya Pak, cukup panggil nama saya. Dan, di depan keluarga saya jangan terlalu formal. 'aku-kamu' jangan 'saya-kamu' nanti keluarga saya curiga," ujar Arsen mengingatkan panjang lebar. Bianca hanya manggut-manggut.

__ADS_1


Belum sempat Arsen membuka kenop pintu, pintu bercat putih itu terbuka. "Bianca?!"


__ADS_2