Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 35


__ADS_3


"Halo, Dav," sapa Bara.


"Lo ikut nggak? Ini si Willy nantangin lo," ucap Davin diseberang.


Bara yang sedang rebahan masih dengan seragam basket melekat di tubuhnya kini terduduk. Ia sangat hapal dengan Willy, lelaki itu selalu ingin menang melawannya. Hingga menghalalkan segala cara agar dirinya bisa ikut balap liar, pasalnya sudah nyaris empat bulan dirinya berhenti dan lelaki itu menyuruh orang untuk menghajar dirinya dan sahabatnya.


"Gue ikut," putus Bara, ia tidak ingin kejadian Alvin baku hantam dengan grup Willy hingga masuk rumah sakit terulang kembali. Dirinya tidak ingin sahabatnya yang lain menjadi korban.


Setelah sambungan terputus, Bara melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah siap dengan balutan kaos hitam dan jaket kulit melekat di tubuhnya. Bara menyambar kunci motor kesayangannya di atas nakas, kemudian berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar.


Seperti biasa kondisi rumahnya lengang, sepi melompong. Bara tersenyum miris, katanya rumah adalah tempat untuk pulang. Namun pada kenyataannya, di mata Bara rumah yang biasanya dianggap hangat kini terasa dingin. Saking dinginnya hingga tidak bisa dikatakan tempat untuk dirinya pulang. Tidak ada sambutan hangat ketika dirinya pulang ke rumah, hanya ada rasa dingin nan sepi.


"Den Bara mau kemana? Tuan besar pulang malam ini," kata Bi Rumi, asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Bara sejak kecil.


Kaki Bara yang hendak keluar rumah kini langkahnya terhenti, ketika ia menangkap suara wanita paruh baya tepat di belakangnya. Ia kontan berbalik, raut wajahnya berubah dingin.


"Oh, ternyata orang itu masih ingat pulang," desis Bara sinis. "Bilang sama orang itu, Bara lagi pergi. Bara nggak pulang malam ini."


Setelah mengatakan itu, Bara berjalan ke garasi menghampiri motor hitam kesayangan. Lalu melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah. Ditengah dinginnya udara malam, ia membelah jalanan ibukota yang padat.


Bara menghentikan motornya ketika mengenali perempuan yang sedang duduk seorang diri di halte. Alisnya bertaut bingung, kenapa Bianca pulang part time selarut ini? Ia melepas helm full face-nya, kemudian turun dari motor.


"Bianca," sapa Bara, tangannya menepuk pelan puncak kepala perempuan itu yang tertunduk menatap ponsel.


Bianca menengadah, mata almondnya bersitatap dengan mata kelabu Bara. "Bara, lo kenapa di—"


"Lo baru pulang kerja part time, Bi? " tanya Bara, ia mengambil tempat duduk di sebelah perempuan itu.


Bianca mengangguk. "Iya, Bar."


"Busway jam segini udah nggak ada. Ayo, gue antar ke indekos," ajak Bara setengah memaksa.


"Eh, nggak perlu. Gue udah pesan gojek," tolak Bianca sembari mengibaskan kedua tangannya.


Bara mendengkus, ia menyambar benda pipih di tangan Bianca. Kedua ibu jarinya dengan lincah menekan keypad di layar ponsel. "Ini." Bara menyerahkan kembali ponsel Bianca. "Gue udah batalin. Nanti gue transfer biaya gojeknya, jadi nggak bakalan ngerugiin Bapak gojek."


"Lo pulang sama gue sekarang. Gue nggak bakalan biarin lo pulang malam naik gojek, bahaya," lanjut Bara, ia memakaikan Bianca helm.


Bianca tidak ada pilihan lain selain pulang bersama Bara, lelaki itu sangat keras kepala. Jadi percuma saja dirinya menolak. Tiba-tiba rasa hangat melingkupi tubuh bagian atasnya.


"Pakai jaket gue, udara malam nggak sehat. Gue nggak mau lo sakit," titah Bara, lelaki itu sudah duduk di atas jok motornya.


"Tapi, lo nanti sa—"

__ADS_1


Bara menggeleng. "Gue nggak bakalan sakit, lo lebih butuh jaket itu daripada gue. Naik, Bi."


Bianca menghela napas panjang, lagi-lagi ia memilih menurut. Setelah mengenakan jaket kulit Bara, ia duduk di jok belakang motor lelaki itu. Tak berselang lama, motor hitam Bara melaju membelah jalanan ibukota.


"Makasih, Bar," ucap Bianca begitu motor sport hitam Bara berhenti tepat di depan gerbang indekosnya.


Bianca menyerahkan helm putih itu kepada Bara. Seakan teringat sesuatu, ia kembali membuka suara. "Maaf, waktu itu gue nggak nonton pertandingan basket lo." Walau pun Bianca sudah meminta maaf via Whatsapp, tapi tetap saja ia merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa, Bi," balas Bara seraya mengacak pelan rambut brunette perempuan itu. "Ya udah, kalau gitu gue cabut."


"Eh, tunggu. Ini jaket lo...."


"Lo bawa dulu aja," potong Bara kemudian berlalu bersama motor hitamnya.


Bianca masuk ke dalam indekos, sepi. Hanya ada Rian yang sedang sibuk dengan laptop di ruang santai. "Bang," sapa Bianca.


"Oit, Bi. Tumben pulangnya malam banget, gue kira lo nginap di rumah temen lagi," sapa Rian balik, seraya menatap adik tingkatnya sekilas.


"Tadi bakery ramai, makannya pulang malam," alibi Bianca. "Kalau gitu gue ke atas, ya, Bang." Setelah pamit, ia bergegas ke lantai atas, dimana kamar indekosnya berada.


Bianca meletakkan tas di meja belajar, lalu ia menjatuhkan diri di ranjang. Hari ini sangat melelahkan, merawat lelaki itu cukup menguras tenaga. Ia mengangkat tangan kanannya, matanya menatap jari telunjuk yang masih terbungkus plester bergambar dinosaurus warna biru pemberian Arsen. Dadanya kembali bergemuruh.


Tiba-tiba Bianca teringat Arsen yang sedang memangku bingkisan dari Fara, kembali membuatnya kesal. Entahlah dirinya tidak tahu kenapa. Tidak seharusnya ia merasa seperti itu, karena dirinya sudah mengiyakan permintaan Fara untuk menjadi Mak Comblang.


Dan karena perasaan kesal tidak jelasnya itu, Bianca sampai lupa belum berterima kasih kepada Arsen. Tiba-tiba satu ide terlintas di kepala. Ia akan membuatkan bekal untuk lelaki itu sebagai permintaan maaf. Tapi, apa makanan kesukaan Arsen selain cheesecake?


Bianca : Sen, apa makanan kesukaan kamu?


Pak Galak : Kenapa?


Bianca : Aku mau buatin kamu bekal besok.


Pak Galak : Kamu habis kejedot sesuatu, ya? Tadi kamu marah-marah nggak jelas, sekarang tiba-tiba perhatian.


Bianca : Jangan geer, aku buatin bekal sebagai tanda terima kasih. Seminggu yang lalu kamu udah temanin aku di Surabaya jenguk Ibu.


Pak Galak : Oh. Terserah, kamu mau bawa bekal apa. Aku suka semua masakan buatan kamu. Selesai kelas temui aku di ruangan, kita makan sama-sama disana.


Bianca menatap ponselnya dengan sudut bibir tertarik, mengetahui Arsen menyukai masakan buatannya membuat hatinya menghangat. Pasalnya saat pertama kali ia membuatkan makanan untuk Arsen, lelaki itu menolak mentah-mentah. Bahkan menuduhnya jika ia memasukkan racun ke dalam makanan.


***


Bianca pagi ini bangun lebih awal, sebelum Rana, Rian dan anak indekos lainnya memasuki dapur, ia segera memonopoli lebih dulu. Kedua tangannya bergerak lincah kesana kemari berkutat dengan alat dapur dan bahan masakan. Senyuman lebar tampak menghiasi wajahnya yang manis. Pesan lelaki itu masih tersimpan dengan jelas di kepalanya.


Mencium aroma masakan dari arah dapur, Rana masih dengan baju tidur dan rambut acak-acakan datang menghampiri. "Masak apa, Bi?"

__ADS_1


"Eh, Kak Rana. Ini masak buat bekal nanti siang," balas Bianca tanpa mengalihkan pandangan dari kotak bekal di tangan.


"Tumben banget bikin bekal," celetuk Rana, perempuan itu mengambil air dingin di dalam kulkas.


Bianca memasukkan kotak bekal itu ke dalam tasnya. "Pengin aja, lama nggak buat. Ya udah kalau gitu gue berangkat kuliah, Kak Ran," pamit Bianca, sebelum Rana menginterogasi dirinya lebih lanjut.


***


"Bi," bisik Abel seraya menyikut lengan Bianca.


Bianca yang sedang fokus dengan catatan serta penjelasan Bu Aerin di depan kini melarikan pandangannya ke samping dimana sahabatnya berada. "Apaan?" balasnya singkat, lalu kembali berkutat dengan pensil serta binder di meja.


"Wajah lo hari ini bling-bling banget, kayak habis menang door prize. Lo kenapa? Cerita sama gue, padahal kemarin uring-uringan nggak jelas," terang Abel seraya menoel lengan kanan sahabatnya gemas.


"Kepo," balas Bianca singkat dengan suara ledekan. Sedangkan Abel memutar bola matanya sebal.


Kelas usai, Bianca melirik arloji di tangan kirinya. Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang. Karena sudah tidak ada kelas lagi, Bianca memutuskan untuk pergi ke ruangan Arsen.


"Lo mau kemana? Kok buru-buru," tanya Abel. "Bi ... sebelum ke apartemen si galak, ayo temenin gue dulu. Gue kemarin lihat ada diskon baju gede-gedean, jiwa hedon gue meronta-ronta."


Bianca ingin sebenarnya menemani sahabatnya, namun dirinya sudah ada janji lebih dulu dengan Arsen. Ini kesempatan menebus rasa terima kasih kepada lelaki itu, Bianca tidak ingin hutang budi dengan orang lain. Termasuk Arsen, lelaki itu cukup perhitungan.


"Bi, sebenarnya gue pengin nemenin lo. Tapi gue ada janji sama—" Belum sempat Bianca melanjutkan perkataannya, Abel mengangkat kedua tangannya sebatas dada.


"Stop, gue tahu. Lo ada janji sama Pak Arsen, 'kan? Gue baru ngeh sekarang, pantesan wajah lo bling-bling banget hari ini. Gue kira si galak belum pulang dari Bali," potong Abel diikuti senyuman menggoda, "udah pergi sana, ntar si mas pacar nungguin."


Pipi Bianca kontan merona, ia berdeham pelan. "Apaan, sih, Bel! Dia itu bukan mas pacar."


"Bukan berarti belum, 'kan? Bentar lagi pasti—"


"Shut up," ucap Bianca, "daripada dengerin ucapan lo yang ngelantur kemana-mana, gue cabut yes." Ia bangkit dari kursi, lalu berjalan keluar kelas seraya melambaikan tangan ke arah sahabatnya.


Sebelum ke ruangan Arsen, Bianca mengeluarkan kotak bekal yang sudah dirinya siapkan dari indekos. Senyumnya mengembang, ia melangkah ringan ke ruangan lelaki itu. Setelah melihat ke kanan dan ke kiri memastikan jika situasinya aman terkendali, Bianca mengetuk pintu bercat cokelat di depannya.


Tok ... tok ... tok....


"Pak Arsen," panggil Bianca, namun tidak ada sahutan.


Tok ... tok ... tok....


Entah sudah berapa menit dirinya berdiri di depan ruangan lelaki itu, namun Arsen tak kunjung membukakan pintu atau bahkan memerintahkan dirinya untuk masuk. Bianca mendorong paksa pintu di depannya, mulutnya kontan melongo tidak mendapati lelaki yang sedang dirinya cari. Kemana Arsen? Padahal sebentar lagi jam makan siang.


Bianca berjalan menyusuri koridor dengan gontai, apa lebih baik ia menunggu Arsen di apartemen? Ah, kenapa ia tidak menghubungi lelaki itu saja. Bianca merogoh tasnya, mencari benda pipih itu. Namun belum sempat ia menemukan ponselnya, ia di kejutkan dengan pemandangan di depannya.


Arsen, lelaki yang dirinya cari beberapa menit yang lalu sedang bercengkrama dengan Fara. Si galak tampak tertawa lepas ketika bersama dengan wanita itu. Dadanya kembali nyeri, kali ini rasanya bertambah sesak. Seharusnya ia senang Fara dekat dengan Arsen, dirinya tidak perlu repot-repot mendekatkan wanita itu dengan si galak. Tapi, kenapa rasanya sakit sekali. Bianca ingin memutar tubuhnya pergi, namun kakinya terlalu kaku.

__ADS_1


Puk! Tiba-tiba tepukan di bahu mengejutkan Bianca.


"Bianca," panggil seseorang dengan suara yang sangat familiar di telinganya.


__ADS_2