
...'Kamu nggak sendiri, kamu punya aku.'...
...—Arsen Megantara—...
Ketika Bianca akan meletakkan piring di pantry ponselnya berdering nyaring, tangan kanannya yang bebas merogoh saku celana. Begitu melihat caller ID tanpa aba-aba ia langsung menggeser ikon hijau. Sejak tadi pagi ia merasa was-was, perasaannya sangat tidak enak. Kini perasaan itu timbul semakin menjadi kala telinganya menangkap isakan wanita paruh baya di seberang.
Bianca mengerjap. "Halo, Bu Dya," sapanya.
Wanita paruh baya itu semakin terisak. "Halo, nduk."
Bianca menghela napas berat. "Bu Dya kenapa nangis? Keadaan Ibu gimana?"
"Bi, Ibu kamu kondisinya semakin buruk," jeda sejenak, wanita itu berusaha untuk tenang, "setelah selesai cuci darah, detak jantungnya melemah. Ibu kamu dilarikan ke ruang ICU, nduk."
Prang!
Piring di tangan kirinya jatuh ke lantai, diikuti ponselnya. Badan Bianca membeku, perlahan bahunya bergetar. Rasanya dunianya berhenti berputar, wanita yang merupakan sumber kebahagiannya sedang kritis. Air mata turun membasahi pipi, Bianca menggigit bibir berusaha untuk tidak terisak. Hingga suara berat nan familiar memasuki gendang telinganya.
"Bi," panggil lelaki itu. Bianca bergeming, lidahnya terasa kelu.
"Bianca," panggil lelaki itu lagi. Mendengar langkah kaki mendekat, Bianca berjalan menjauh. Ia tidak ingin Arsen melihatnya rapuh seperti ini.
"Jangan mendekat," perintah Bianca. Namun yang terjadi selanjutnya justru ia berada di dekapan seorang Arsen Megantara.
"Berhenti bersikap sok kuat," bisik Arsen, "nangis aja, Bi. Nangis bukan berarti kamu lemah."
Bianca terhenyak ketika mendengar bisikan Arsen, ia membalas memeluk lelaki itu erat. Si galak benar, dirinya tidak bisa memasang wajah seolah semuanya baik-baik saja. Padahal pada kenyataannya Bianca sangat lelah, ia lelah berpura-pura. Untuk kali ini, ia membiarkan dirinya melepas beban di pundak sejenak.
__ADS_1
***
Disinilah Bianca sekarang, ditengah hiruk pikuk keramaian Bandara Juanda. Setelah mendapat telepon dari Bu Dya tentang kesehatan Ibunya, ia bergegas ke stasiun kereta. Namun Arsen menahannya, lelaki itu membawanya ke Bandara. Tidak tanggung-tanggung, dosennya itu mengikutinya ke kota kelahiran. Padahal Bianca bersikeras menahan agar Arsen tidak ikut, tetapi lelaki itu keukeuh ingin menemaninya.
Mobil Audi putih berhenti di depan keduanya, Pak Rahmat salah satu sopir keluarga Megantara keluar mempersilahkan Arsen dan Bianca untuk masuk ke dalam.
"Pak Rahmat, kita ke rumah sakit ***** sekarang," perintah Arsen.
Lelaki paruh baya itu mengangguk. "Iya, Den Arsen."
Bianca diam, ia menatap keluar kaca mobil. Langit sore itu tampak mendung, sama seperti keadaan yang menyelimutinya sekarang. Tidak ada yang berubah dari kota ini, sudah satu tahun ia tidak menginjakkan kaki di Surabaya.
Arsen melihat Bianca yang berada di sampingnya, perempuan itu sedari tadi diam dengan tatapan mata yang kosong. Bohong jika dirinya tidak khawatir dengan Bianca, perempuan itu sempat pingsan ketika perjalanan menuju Bandara. Arsen tahu perempuan itu pasti sangat terpukul mengingat Bianca hanya memiliki Ibunya. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali wanita paruh baya itu.
Arsen menggenggam tangan Bianca yang dingin, menyiratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jujur, Arsen merindukan sisi ketus nan cerewet Bianca. Ia benci melihat wajah lesu serta penuh tangis perempuan itu.
Mobil Audi putih itu memasuki area rumah sakit, Bianca meminta Pak Rahmat menghentikan mobil. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung keluar. Dadanya terasa sesak, ia tidak sabar menemui ibunya di ruang ICU.
Arsen kembali menggenggam tangan Bianca ketika langkah kakinya sejajar dengan perempuan itu, ia takut jika Bianca pingsan seperti beberapa jam yang lalu.
Keduanya berhenti di depan ruang ICU, wanita paruh baya dengan setelan sederhana duduk di kursi tunggu. Perlahan Bianca mendekati wanita yang dirinya yakini Bu Dya, tetangga sebelah rumahnya. "Bu Dya," panggilnya.
Wanita paruh baya itu mendongak dengan wajah sembab, tangisnya mendadak pecah begitu melihat Bianca. Tangan kurusnya menggenggam tangan bebas Bianca, bibirnya bergetar berusaha memohon maaf karena tidak bisa menepati amanat untuk menjaga Dewi -Ibu Bianca.
"Maafin Ibu belum bisa jaga Dewi, Bi," ucap Bu Dya disela tangis.
Bianca tersenyum tipis, walau matanya tidak bisa berbohong jika dirinya dilanda perasaan kalut nan sendu. "Ibu di dalam, Bu?" tanya Bianca seraya melirik ruang ICU yang tertutup. Wanita itu mengangguk menanggapi.
Bianca dan Arsen masuk ke dalam tanpa Bu Dya karena pengunjung maksimal dua orang. Bianca berjalan mendekat ke arah brankar milik sang Ibu, wanita paruh baya itu menutup mata. Wajah ayunya tampak tirus dan pucat, ia menggenggam jemari Dewi. Bianca mengecup lembut punggung tangan Ibunya, dalam hati ia tidak berhenti merapal doa demi kesembuhan sang Ibu.
__ADS_1
Arsen mengelus punggung Bianca yang tidak berhenti bergetar, perempuan itu terus menangis tanpa henti. Hari ini Arsen bisa melihat sisi lain dari Bianca Almeera Anatasya, ia bisa merasakan kerapuhan perempuan itu.
Jam terus berputar, Bianca tidak beranjak di tempat. Arsen terus membujuk perempuan itu untuk makan malam. Pasalnya hari ini Bianca hanya makan dua potong cheesecake, ia tidak akan membiarkan perempuan itu sakit.
"Bi, makan dulu," bisik Arsen.
"Kalau kamu lapar, kamu bisa makan sendiri. Aku mau disini jaga Ibu," balas Bianca tanpa menatap Arsen.
"Bi, kamu harus makan. Nanti kamu sakit," terang Arsen.
Bianca menggeleng keras kepala. "Aku nggak mau, Arsen. Aku nggak napsu makan."
Arsen tidak ada pilihan lain selain menarik paksa Bianca keluar dari ruang ICU, keduanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang lumayan sepi. Bianca berusaha memberontak, namun cekalan tangan Arsen semakin kuat.
"Lepasin aku, Arsen!" tegas Bianca, ia menyentak tangannya dengan kasar dari cekalan Arsen. Dalam sekali sentakan, tangan kanannya lolos.
"Aku nggak mau makan, gimana bisa aku napsu makan ngelihat Ibu kritis?" Bianca menjauh ketika Arsen mulai mendekatinya.
"Kalau kamu sakit, nanti urusannya semakin panjang. Kamu harus makan," ucap Arsen tidak mau kalah. "Tadi siang kamu pingsan, kondisi kamu lemah, Bi. Kamu butuh makan."
"Apa peduli kamu, Arsen?!" kata Bianca dengan suara naik beberapa oktaf.
Arsen maju mendekat, ia menggenggam jemari Bianca. "Aku peduli sama kamu, Bi. Kalau aku nggak peduli aku pasti udah biarin kamu pergi sendirian ke Surabaya naik kereta."
Bianca bergeming mendengar pengakuan mengejutkan dari Arsen. "Aku mohon kamu isi perut kamu, aku nggak mau kamu sakit," bisik Arsen pelan. Melihat Bianca yang tidak merespon, ia menuntun perempuan itu ke kantin rumah sakit.
Kantin rumah sakit cukup ramai. Setelah pesan dua porsi nasi goreng dan es teh manis, keduanya makan dalam diam. Manik mata hitam legam itu tidak berhenti menyorot intens ke arah perempuan di sampingnya. Hingga suara parau Bianca memecah keheningan di meja itu.
"Maaf, aku tadi bersikap kasar," ucap Bianca pelan nyaris berbisik. "Aku cuma punya Ibu, Arsen. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi, Ayah pergi ninggalin aku dan Ibu dengan selingkuhannya. Kalau sampai Ibu pergi ninggalin aku...." Bianca tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia menutup mulutnya berusaha untuk tidak terisak.
__ADS_1
Arsen memeluk Bianca, ia mengelus rambut brunette perempuan itu lembut. "Kamu nggak sendirian, Bi. Kamu punya aku, Bianca," bisik Arsen menenangkan.