Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 27


__ADS_3

Sinar matahari menelusup masuk tanpa permisi, membuat Bianca menggeliat. Seulas senyum terbit di bibirnya, tidurnya nyenyak sekali. Tangan kanannya meraba guling disamping, kemudian matanya mengerjap pelan. Tunggu, ada yang aneh. Seingat Bianca di kamar indekosnya ia tidak memiliki guling, lalu kenapa sekarang....


Matanya kontan terbuka lebar kala bayangan kejadian semalam menamparnya telak. Ia dengan kurang ajar melakukan tendangan maut ke arah aset masa depan Arsen. Bianca meraup wajahnya dengan kasar, bodoh!


Bianca tidak tahu bagaimana cara menghadapi dosen galaknya setelah ini, membayangkan wajah garang nan menyebalkan milik Arsen membuatnya bergidik ngeri. Ah, seharusnya setelah masak untuk makan malam kemarin, ia langsung kabur ke indekos.


Bianca menggeleng kuat, tiba-tiba ia teringat badan atletis milik Arsen. Ia baru menyadari jika si galak memiliki bentuk tubuh yang pas, bahu lelaki itu cukup lebar ditambah lengannya yang kekar, dan jangan lupakan perut sixpacknya itu. Aish, kenapa mendadak pikirannya jadi tercemar seperti ini.


"Udah bangun?"


Suara bariton yang familiar membuyarkan lamunannya. Bianca mendongak, lelaki yang baru saja datang dipikirannya sekarang sedang berdiri di dekat pintu. Manik mata cokelat almondnya bertemu pandang dengan manik hitam legam milik Arsen, ia dengan cepat membuang muka.


"Cepat mandi, setelah itu sarapan. Nanti kita berangkat bersama," ucap Arsen otoriter lalu berbalik pergi.


Bianca beranjak dari single bed. "Aku bisa berangkat sendiri," tolaknya.


Arsen menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang. "Aku nggak menerima penolakan," tegasnya mutlak tidak ingin dibantah.


Bianca mendengkus sebal, masih pagi si galak sudah seenaknya saja. Ia malas berdebat, dirinya memilih menuruti perintah si galak. Kakinya melangkah dengan gontai ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bianca tidak seperti Abel atau perempuan lainnya yang hobi mandi selama bermenit-menit atau bahkan berjam-jam, cukup lima menit dirinya sudah keluar dari kamar mandi. Begitu keluar, Bianca mendapati setelan pakaian baru di atas ranjang. Bahkan price tag masih melekat disana. Bianca berdecak tidak habis pikir dengan orang kaya seperti Arsen, menghabiskan uang berjuta-juta hanya untuk membeli pakaian.


"Orang kaya memang beda," gumamnya.


***


Bianca melangkah keluar kamar, ia menghampiri Arsen yang sedang duduk di ruang makan. Tanpa ba-bi-bu Bianca duduk di depan si galak, ia menatap sandwich di hadapannya dalam diam. Bibirnya terbuka ingin mengucapkan 'maaf' karena kejadian semalam, namun suaranya seakan berhenti di tenggorokan tidak bisa keluar.


"Makan," titah Arsen singkat tanpa menatap Bianca. Lelaki itu mulai melahap sandwichnya tanpa mengindahkan perempuan di depannya.

__ADS_1


Melihat Arsen yang bersikap biasa seolah tidak mempermasalahkan kejadian kemarin membuat Bianca semakin dilanda rasa bersalah. Ia menghela napas pelan.


"Arsen," panggil Bianca. Arsen menengadah, alih-alih menjawab lelaki itu hanya menaikkan sebelah alisnya seolah berkata 'apa'.


"Maaf," kata Bianca lirih seraya menatap lurus Arsen.


"Untuk?" tanya Arsen dengan wajah polos, saking polosnya Bianca ingin menabok wajah sok polos dosennya.


Sabar, Bi, batinnya sedikit jengkel melihat Arsen yang pura-pura tidak tahu.


"Maaf karena udah tendang...," ucap Bianca menggantung, ia bingung cara mengatakannya agar terdengar sopan.


Arsen mengangguk tenang. "Nggak apa-apa. Tapi aku jujur soal perkataanku semalam," ujarnya.


Bianca mengernyit, ia berusaha mengingat-ingat. Perkataan semalam? Yang mana? Matanya membelalak begitu teringat akan sesuatu, suara Arsen tiba-tiba terdengar seperti kaset rusak di telinganya.


"Nggak usah mikir macam-macam, aku nggak tertarik sama perempuan yang depan belakang rata."


Brak!


Arsen tersentak di kursinya, ia tidak menyangka dengan tindakan bar-bar Bianca barusan. Padahal ia berkata yang sejujurnya, kenapa mahasiswinya itu marah?


"Kamu tahu nggak, Sen, bicara soal bentuk badan itu topik sensitif untuk perempuan. Ah, pasti kamu nggak tahu. Pantas aja jomblo lumutan, omongannya aja selalu pedas," kata Bianca sebal, lalu menginjak kaki Arsen yang berada di bawah meja makan. Kali ini Bianca tidak menyesal menginjak kaki dosen laknatnya, lelaki itu pantas diberi pelajaran.


Bianca tidak menyentuh sandwich buatan Arsen, tanpa pamit ia berjalan keluar apartemen si galak dengan menyampaikan tas di bahu. Berduaan dengan Arsen membuatnya bernapsu ingin memukul lelaki itu.


Bianca berjalan menyusuri trotoar menuju ke halte terdekat. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada tanda-tanda jika busway akan datang. Bibirnya mengerucut, ia merogoh tas mencari benda pipih. Begitu menemukan yang dirinya cari, ia langsung menyalakannya. Namun seribu sayang, layar ponselnya menghitam, baterai ponselnya habis.


"Shit, pagi-pagi udah ketiban sial," dengus Bianca. Ia melirik ke arah arloji di pergelangan tangan kirinya, kurang lima belas menit lagi. Kelas pertama diisi oleh Bu Ratih, dosen sebelas dua belas dengan Arsen. Alamat, kalau sampai dirinya terlambat.

__ADS_1


Tin!


Suara klakson mobil menyentaknya, Bianca menatap mobil hitam milik Arsen yang berada di depannya. Ia memalingkan muka, mengabaikan suara klakson mobil lelaki itu. Bianca masih kesal dengan si galak.


Kaca mobil terbuka, menampakkan sosok Arsen yang menatap tajam ke arah Bianca. "Masuk, Bi," titahnya tegas tidak ingin di bantah. Namun, Bianca mengabaikannya.


Arsen menggeram, ia mencengkram erat kemudi hingga buku jarinya memutih. "Bianca Almeera Anatasya, masuk," perintahnya lagi. Sama seperti sebelumnya, Bianca tetap mengacuhkannya.


Cukup sudah, Arsen keluar dari mobil lalu menghampiri Bianca dengan langkah lebar. "Masuk ke mobil."


"Nggak mau," tolak Bianca keras kepala.


"Udah jam segini, nggak keburu kalau kamu nunggu busway," ucap Arsen berusaha sabar.


Bianca menatap Arsen dengan tangan terlipat di dada. "Aku lebih baik nunggu busway daripada berangkat sama kamu," tolak Bianca mentah-mentah.


Darah Arsen naik ke ubun-ubun, kesabarannya sudah habis. Ia menggendong mahasiswi bandelnya bak karung beras, mengabaikan pekikan nyaring yang mengganggu gendang telinganya.


"Diam," tegas Arsen.


"Turunin aku, Arsen!" teriak Bianca.


"Nggak, nanti kamu kabur," balas Arsen, ia membuka pintu mobilnya lalu mendudukkan Bianca di kursi penumpang.


Bianca memberontak, ia berusaha keluar dari mobil. Namun Arsen menghadangnya. "Aku nggak mau berangkat ke kampus sama kamu," tolak Bianca.


Arsen mengunci pergerakan Bianca, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga mahasiswinya. "Diam atau aku cium," ancam Arsen dengan seringaian, seolah tidak kapok mendapat tendangan maut dari Bianca semalam.


Bianca membeku di tempat, ia mendadak diam. Dirinya sangat tahu jika Arsen selalu serius dengan perkataannya, maka dari itu Bianca memilih diam menuruti titah si galak daripada ciuman pertamanya menjadi taruhan. Bianca tidak ikhlas lahir batin jika sampai ciuman pertamanya itu dicuri oleh si iblis.

__ADS_1


Arsen tersenyum kemenangan melihat respon mahasiswinya yang diam tidak berkutik, kalau tahu akan begini kenapa tidak dari dulu Arsen melancarkan ancaman seperti ini. Akhirnya ia menemukan formula untuk menjinakkan macan lepas seperti Bianca.


__ADS_2