
Setelah memasukkan kode akses apartemen, Bianca melangkah masuk ke dalam. Ia meletakkan sneakersnya lalu mengenakan sandal rumahan. Semakin masuk ke dalam, alisnya bertaut bingung, pasalnya apartemen milik si galak sepi melompong. Bukannya Arsen sudah pulang? Bianca sempat melihat lelaki itu pergi meninggalkan kampus.
"Arsen...," panggil Bianca.
"Yuhuu...."
"Pak Galak...."
Tidak ada sahutan. Perlahan senyumnya mengembang, ini yang namanya bebas. Melihat wajah Arsen setiap hari membuatnya gumoh. Apalagi lelaki itu sering kali menampakkan tanduk iblis, belum lagi perkataannya yang membuat makan hati. Hah, memikirkan itu membuatnya emosi sendiri. Berhadapan dengan Arsen Megantara membutuhkan stok kesabaran ekstra.
Bianca melempar tas di sofa, lalu merogoh ponsel dan headset. Ia mulai mengerjakan pekerjaannya, sesekali bersenandung mengikuti lagu yang mengalun di telinga.
"Uwoo...." Sapu ditangan ia angkat seolah benda itu sebuah mic, "dirimu ... dihatiku ... sudah terlalu lama...," kini kakinya ia tumpukan diatas sofa, sapunya ia miringkan ke samping seolah itu sebuah gitar, "dan biarlah ... ku mencoba ... tuk—" Mulutnya terkatup rapat kala tubuhnya berbalik ke belakang.
Mamp*s lo, Bi, batin Bianca.
Tidak ada hal yang lebih memalukan dari kejadian saat ini, Bianca membutuhkan sesuatu untuk menutupi muka saking malunya. Si iblis Arsen entah datang darimana tiba-tiba muncul di belakangnya dengan senyuman mengejek, Bianca sedari tadi tidak berhenti merutuk dalam hati. Ia menduduk tidak berani menatap wajah aristokrat Arsen.
"Bianca," panggil Arsen diikuti kekehan, "suara kamu merdu sekali."
"Merusak dunia," lanjutnya pedas.
Bianca mendongak menatap Arsen, ia berniat menyemburkan amarahnya. Namun tenggorokannya tercekat, matanya tidak berkedip. Bianca baru menyadari jika dosen laknatnya itu hanya mengenakan boxer hitam, rambut hitam sedikit cokelat gelap Arsen tampak berantakan menunjukkan jika lelaki itu baru bangun tidur. Pandangannya turun ke bawah, matanya melotot.
"Arsen, pake baju kamu!" Tangan kanannya terangkat menutup kedua mata.
__ADS_1
"Duh mata gue nggak suci lagi," dumel Bianca sebal.
Arsen menyeringai ide jahil melintas di kepala, ia melangkah mendekati Bianca. Semakin dirinya mendekat, perempuan di depannya semakin melangkah mundur. "Kalau aku nggak mau?" tanyanya masih dengan senyum iblis.
"Nanti masuk angin, Arsen. Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa hamba...," pekiknya kesal. Matanya kian melotot kala lelaki itu berjalan mendekat. "Kamu mau ngapain?! Jangan dekat-dekat!"
Siaga tiga!
Bianca melangkah mundur hingga kakinya menyentuh sofa. M*mpus, rutuknya dalam hati. "Sen, jangan macam-macam. Aku nggak segan-segan puk- aa!"
Buk!
Tubuh Bianca jatuh di atas sofa, diikuti tubuh besar Arsen. Bianca menahan napas menyadari jaraknya dengan lelaki itu terbilang dekat, matanya tenggelam dalam manik hitam legam milik Arsen. Hingga bisikan lelaki itu membuyarkannya.
"Jangan tahan napas, Bi," bisik Arsen pelan diikuti seringaian masih terpatri di bibir tipisnya, "nggak usah mikir macam-macam, aku nggak tertarik sama perempuan yang depan belakang rata."
Bianca melotot. Sialan, umpatnya dalam hati. Jika membunuh itu tidak dosa, ia pasti sudah membunuh lelaki di atasnya.
"Kalau aku nggak mau?" tantang Arsen sembari tersenyum iblis.
Buk!
Bianca dengan kesal menendang aset masa depan Arsen dengan lututnya, dalam sekali tendangan lelaki itu jatuh ke lantai. M*mpus, sukurin. Salah sendiri cari gara-gara! batinnya puas. Dosennya itu belum tahu macan ngamuk.
Bianca berdiri, lalu menatap lelaki itu pura-pura merasa bersalah. "Aduh, maaf khilaf," ucap Bianca.
Arsen meringkuk memegang aset masa depannya, ia meringis. Dirinya tidak menyangka tubuh mungil Bianca memiliki tenaga super. "Bianca! Awas kamu!" pekiknya menahan nyeri. Sedangkan perempuan itu mengambil langkah seribu ke arah dapur.
__ADS_1
Bodoh ... bodoh ... bodoh, rutuk Bianca dalam hati begitu sampai dapur. Ia akui dirinya sangat puas membalas Arsen, namun tak urung ia menyesali tindakannya. Bianca takut jika tidak lulus di mata kuliah Arsen, apa lagi besok dirinya ada kuis di kelas lelaki itu. Mungkin nanti ia akan meminta maaf kepada si galak.
Bianca membuka kulkas, ia mengambil beberapa sayur dan bahan lainnya. Dirinya mulai berkutat dengan peralatan dapur dan bahan-bahan masakan, tangannya dengan cekatan bergerak kesana kemari. Malam ini Bianca memutuskan untuk membuat makanan vegetarian.
Lima belas menit berlalu, Bianca menatap makanan buatannya dengan senyuman puas. "Akhirnya...," ucapnya lega. Ia membawa beberapa masakannya ke ruang makan.
Bianca menatap pintu hitam yang Arsen masuki beberapa menit yang lalu, lelaki itu tak kunjung keluar. Ia menggigit bibir sembari berjalan mondar-mandir, rasa khawatir tiba-tiba menyergapnya.
Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan dosennya? Bianca membelalak, apa tendangannya tadi terlalu keras? Bianca menyentuh handle pintu, ia ingin membuka pintu hitam itu, namun dirinya urungkan kala teringat wajah garang si galak.
Tidak! Jika Bianca masuk ke dalam, bisa dipastikan Arsen akan semakin memarahinya. Ia menggeleng, dirinya tidak ingin hal itu terjadi dan nilainya menjadi taruhan. Cukup tadi saja ia kelihangan kontrol. Bianca berjalan gontai ke arah ruang tengah, lebih baik ia fokus belajar untuk kuis besok.
***
Arsen keluar dari kamar mandi dengan wajah kusut, alih-alih menjahili Bianca, justru ia mendapatkan batunya. Rasanya masih sangat ngilu, ia mengumpat berkali-kali. Awas saja jika sampai terjadi apa-apa dengan aset masa depannya, Bianca harus bertanggung jawab. Arsen mengambil kaos hitam polos dan celana piayama lalu mengenakannya.
Arsen keluar kamar, ia melangkah ke arah dapur dan ruang makan. Namun dirinya tidak menemukan Bianca disana, ia berdecak. Dimana mahasiswi bandelnya itu, ia ingin meminta perhitungan.
"Awas aja kalau cewek lemot itu berani kabur," dumel Arsen, ia kembali berjalan ke ruang tengah.
"Bi—" ucapan Arsen terhenti ketika manik mata hitam itu menangkap perempuan yang dicari sedang tertidur di ruang tengah.
Perlahan Arsen mendekat, ia melihat mejanya yang dipenuhi dengan beberapa buku dan peralatan tulis lainnya. Arsen menghela napas panjang, ia mendudukkan diri disamping mahasiswi bandelnya.
Tangan kanan Arsen terulur, merapikan anak rambut yang menutupi wajah Bianca. Seulas senyum terbit di bibirnya, amarahnya kini hilang entah kemana. Melihat wajah damai dan tenang Bianca membuat hatinya menghangat. Arsen menggendong perempuan itu ala bridal, ia menidurkan Bianca di kamar tamu. Walaupun mahasiswinya itu menjengkelkan, ia tidak akan tega membiarkan Bianca tidur di ruang tengah.
Arsen menarik selimut hingga sebatas dada, ia duduk di sisi ranjang. Dirinya kembali memandangi wajah Bianca, tangannya mengusap lembut puncak kepala perempuan itu.
__ADS_1
Arsen menghela napas panjang, ia tiba-tiba teringat kejadian kemarin saat Bianca makan berdua dengan Bara di Kafe Baper. "Bi, jangan dekat-dekat sama Bara. Aku nggak mau kamu hancur gara-gara dia," bisiknya pelan.
"Bara nggak sebaik yang kamu kira. Kenapa kamu sulit percaya sama aku, Bi?" tanya Arsen masih dengan bisikan pelan.