
...'Aku akan tetap menjagamu, walaupun kamu tidak ingin ku jaga.'...
...—Arsen Megantara—...
Dewi memiliki alasan bersikap over protective dengan putri semata wayangnya. Kejadian masa lalu menorehkan banyak luka fisik dan batinnya, lelaki bejat yaitu mantan suaminya sendiri memiliki kebiasaan ringan tangan dan sudah mengkhianati kepercayaannya.
Dewi pikir ia masih sanggup bertahan walau tubuhnya itu berkali-kali menjadi samsak ketika suaminya pulang larut malam dengan keadaan mabuk. Ia kira dirinya masih bisa menahannya demi Bianca, agar putrinya itu tidak kehilangan sosok Ayah. Tapi malam ketika musim hujan pertama, pria itu mengkhianatinya di depan mata kepalanya sendiri. Jangan tanyakan betapa sakit perasaaannya saat itu.
Maka dari itu Dewi tidak ingin Bianca merasakan apa yang dirinya rasakan. Lagi pula sudah tugasnya menjaga putrinya. Dewi tidak melarang Bianca dekat dengan laki-laki, namun ia tetap mengawasi teman laki-laki Bianca. Seperti sekarang ini, putrinya datang menjenguknya dengan lelaki yang bernama Arsen.
Dewi meneliti Arsen dengan intens, mendengar jika lelaki itu menemani Bianca ke Surabaya cukup membuat perasaannya tenang. Serta tatapan hangat penuh perhatian yang Arsen layangkan untuk putrinya membuat dirinya yakin jika Arsen lelaki baik-baik.
“Apa Ibu boleh minta satu permintaan sama kamu?” tanya Dewi sembari menatap penuh harap ke arah lelaki yang duduk di kursi samping brankarnya.
Arsen mengerutkan kening dalam, tak urung ia mengangguk. “Apa permintaan Ibu?”
Dewi tersenyum tipis. “Ibu ingin kamu jaga Bianca. Apa kamu bisa jaga Bianca untuk Ibu, Arsen?”
Arsen diam termenung mendengar permintaan dari wanita paruh baya di sampingnya. “Bu, kenapa Ibu minta saya untuk menjaga Bianca?”
“Karena Ibu percaya sama kamu,” balas Dewi. Sebelum Arsen bertanya lebih lanjut, ia kembali melanjutkan, “kamu rela menemani Bianca dari Jakarta ke Surabaya untuk menjenguk Ibu, itu yang membuat Ibu percaya jika kamu bisa menjaga Bianca.”
Melihat pancaran harapan di manik mata cokelat almond Dewi, Arsen menghela napas panjang lalu mengangguk. “Iya, saya akan jaga Bianca untuk Ibu,” ucapnya.
Dewi tersenyum lebar, ia merasa tenang sekarang. Jujur saja, dirinya merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Penyakitnya sudah menginjak stadium akhir, ia berharap bisa menemani putrinya lebih lama lagi. Sekarang perasaannya lebih baik, setidaknya jika dirinya pergi ada yang menjaga Bianca.
Suara pintu berderit membuat Dewi dan Arsen sontak memusatkan atensi ke arah daun pintu yang terbuka, kemudian Bianca muncul dengan satu kantung keresek di tangan kanannya. Merasakan ada suasana kaku di ruangan, Bianca menatap lekat Dewi dan Arsen bergantian. "Ada apa?" tanyanya.
Dewi menggeleng lalu menampilkan senyuman hangatnya. "Nggak ada apa-apa, nduk."
"Kamu beli apa di kantin rumah sakit?" tanya Dewi mengalihkan topik pembicaraan.
Bianca meletakkan kantung keresek di atas nakas samping brankar. "Bianca beliin Ibu bubur, mau dimakan sekarang?" Dewi mengangguk menanggapi.
__ADS_1
Bianca beralih menatap Arsen lalu menyodorkan kotak makanan. "Saya belikan nasi ayam opor kering buat Bapak."
Arsen manggut-manggut, ia menerima kotak makan pemberian Bianca. "Terima kasih," balasnya singkat.
Arsen makan dalam diam, namun matanya tidak berhenti menatap lurus ke arah Bianca yang sedang sibuk menyuapi Dewi. Ia menatap lekat raut wajah mahasiswinya, perkataan Dewi kembali melintas di benak. Arsen merasa aneh dengan dirinya sendiri, akhir-akhir ini ia merasa terganggu saat melihat raut penuh tangis Bianca sampai ia repot-repot mengantar perempuan itu ke Surabaya. Dan lagi, ia menyanggupi permintaan Dewi untuk menjaga Bianca.
Sebenarnya ada apa dengan dirinya, Arsen tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri. Ah, atau mungkin karena Bianca itu mahasiswinya, maka dari itu ia merasa bertanggung jawab terhadap perempuan itu. Iya, mungkin karena itu, pikirnya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia berusaha menyangkal perasaan yang mulai menelusup di dalam hatinya.
"Bi," panggil Dewi.
Bianca yang sedang membereskan kotak makannya dan milik Ibunya kini menoleh. "Kenapa, Bu?"
"Besok kamu balik ke Jakarta aja, kondisi Ibu udah membaik," ujar Dewi meyakinkan.
Bianca berdecak, ia jelas menolak mentah-mentah. Wanita paruh baya itu baru saja siuman, mana tega dirinya meninggalkan Ibunya di saat seperti ini. "Bu, Bianca nggak bisa per—"
Dewi menggeleng, ia mengelus puncak kepala putri semata wayangnya. "Ibu udah nggak apa-apa, kamu udah absen tiga hari. Lagian Ibu nggak sendiri, ada Bu Dya yang nemenin Ibu. Jadi kamu nggak perlu khawatir."
Ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu, dimana Ibunya terkapar lemah di atas brankar. Bianca merasa berat meninggalkan Ibunya. Dirinya takut kondisi Dewi kembali memburuk. "Bu, Bianca ngga—"
"Ya udah besok Bi balik ke Jakarta. Tapi Ibu janji sama Bi, jaga kesehatan jangan masuk ICU lagi," putus Bianca mengalah, enggan berdebat lebih lanjut. Dewi hanya mengangguk namun dirinya tidak bisa berjanji, ia takut mengingkarinya.
***
Pagi ini Arsen sudah memesan tiket pesawat dan menghubungi Pak Rahmat agar menjemput dirinya dan Bianca. Ia melirik ke arah Bianca yang masih tidur di atas sofa. Tugasnya kali ini tinggal membangunkan mahasiswi bandelnya, lalu berangkat ke Bandara.
"Bi," panggil Arsen berusaha membangunkan Bianca, ia menggoyangkan lengan perempuan itu pelan. Tapi nihil, Bianca masih terlelap.
"Bianca." Entah sudah keberapa kali ia membangunkan mahasiswi bandelnya, tapi tetap saja Bianca masih betah memejamkan mata.
Dewi hapal dengan kebiasaan Bianca yang selalu bangun kesiangan, ia angkat bicara. "Arsen," panggilnya. "Coba kamu percikkan air ke wajah Bianca, Ibu jamin dia langsung bangun."
Arsen menyeringai, ia melangkah masuk ke kamar mandi untuk mengambil air. Kemudian ia memercikkan air ke wajah Bianca sesuai dengan instruksi Dewi. Dan benar saja, perempuan itu sontak bangun dengan wajah merah padam menahan amarah. Arsen tidak bisa menyembunyikan raut gelinya, Bianca tampak menggemaskan ketika sedang marah.
"Ar—" Bianca mengatupkan bibirnya menyadari jika masih ada Dewi di ruangan. Ia menghela napas panjang lalu beranjak dari duduk, dirinya berjalan malas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Awas saja, batinnya dongkol. Ia pasti akan membalas perbuatan Arsen.
__ADS_1
"Nak Arsen." Dewi menepuk kursi disamping brankarnya, mengisyaratkan agar arsen duduk disana. Lelaki itu pun menurut.
"Iya, Bu," balas Arsen seraya menatap ke arah Dewi.
Dewi menepuk pundak Arsen pelan. "Apa kamu masih ingat obrolan kita tadi malam?" Tentu saja Arsen ingat di luar kepala, ia mengangguk paham.
"Ibu minta tolong jaga Bianca," ulang Dewi mengingatkan.
Bianca yang awalnya ingin keluar dari kamar mandi, kini mengurungkan niatnya. Untuk apa Ibunya meminta Arsen menjaganya. Dirinya sudah besar, ia bisa menjaga diri sendiri.
"Iya, Bu. Arsen akan jaga Bianca," tegas Arsen.
Bianca keluar dari kamar mandi, ia memasang raut biasa seolah tidak mendengar percakapan antara Ibunya dan Arsen. Dirinya menyampirkan slingbag di bahu, siap untuk berangkat ke Bandara.
"Bu, Bianca berangkat," pamit Bianca, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Dewi tersenyum, tangannya terulur mengusap pipi putrinya. "Iya, hati-hati. Belajar yang benar, jangan neko-neko."
Bianca mengangguk. "Jaga kesehatan Ibu."
Bianca beralih ke arah wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi tidak jauh darinya, ia berjalan mendekat. "Bu Dya," panggilnya.
Bianca menggenggam lembut kedua tangan kurus wanita itu. "Bianca minta tolong jaga Ibu. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, Bu Dya bisa hubungi Bianca," pesannya.
"Iya, Bi. Ibu pasti jaga Dewi, kalau ada apa-apa Ibu langsung hubungi kamu," ujar Bu Dya seraya tersenyum tipis.
Setelah berpamitan, Arsen dan Bianca berjalan keluar dari ruang perawatan Dewi. Pak Rahmat menghubungi Arsen jika beliau sudah menunggu di depan.
Bianca menarik jemari Arsen, membuat sang empu menghentikan langkah dan berbalik menatapnya. "Kamu nggak usah dengarin Ibu," katanya.
Arsen menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. "Maksudnya?"
Bianca mendengkus. "Jangan dengarin Ibu, kamu nggak perlu jaga aku."
"Aku udah besar, Arsen. Lagi pula aku bisa bela diri, jadi kamu nggak perlu jaga aku," lanjut Bianca dan berlalu pergi.
__ADS_1
Arsen menatap kepergian perempuan itu dalam diam. Ia tetap akan menjaga Bianca, walaupun perempuan itu tidak ingin dirinya jaga. Karena ia sudah berjanji kepada Dewi, dirinya tidak akan menghancurkan kepercayaan wanita itu.