
Malming ditemenin sama Babang Arsen sama Bianca💛 Oh iya, makasih dukungan pembaca yang udah ngikutin perjalanan si galak sama cewek lemot sampai bab ini. Happy Reading!
***
Seharusnya hari ini Arsen tidak ada kelas untuk mengajar, tetapi ia tetap pergi ke kampus karena sudah ada janji dengan mahasiswi bandelnya. Sembari menunggu perempuan itu selesai kelas, ia sibuk mengoreksi tugas dari mahasiswanya yang akhir-akhir ini terbengkalai karena kesibukannya membantu kerjaan Zafran. Sampai dirinya tidak menyadari jika sedari tadi ada yang memandanginya di ambang pintu.
“Ehem.” Suara dehaman menginterupsi kegiatannya, Arsen sontak mendongak. Mata hitam legamnya bersitubruk dengan mata teduh Fara.
Arsen melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, alisnya mengerut mendapati teman kerja sekaligus teman masa sekolahnya bergeming memandanginya. Ya, Fara itu teman masa sekolah menengah Arsen atau lebih tepatnya sahabat dari mantan pacarnya, Seina.
“Fara,” kata Arsen, lelaki itu membereskan beberapa kertas tugas mahasiswa yang berantakan memenuhi meja. “Duduk, Far.”
“Ada apa nih tiba-tiba ke ruangan gue?” tanya Arsen, kali ini memandang lurus ke arah wanita yang sudah duduk dihadapannya.
Alih-alih menjawab, Fara justru balik bertanya. “Gimana? Lo suka jam tangan pemberian gue?”
Arsen membeo, “jadi jam tangan itu dari lo?”
Kalau jam tangan ini dari Fara, kenapa Bianca tidak langsung jujur saja? Kenapa perempuan itu bilang jika Fara itu fansnya?
Fara mengangguk. “Hu’um, gue masih ingat kalau lo suka banget koleksi jam tangan. Jadi gue keingat sama lo pas merk jam tangan favorit lo launching produk baru.”
Arsen menyodorkan paper bag cokelat kepada Fara. “Gue nggak bisa terima ini, lebih baik lo kasih ke Ed aja.”
Fara menghela napas panjang. “Anggap aja ini hadiah karena lo mau buka hati lo. Plus ini bentuk rasa terima kasih gue karena lo udah nyadarin perasaan gue sama Edgar.”
Setelah sekian lama berteman dengan Edgar dan tidak beranjak dari zona nyaman padahal Fara dan lelaki itu memiliki perasaan yang sama, akhirnya dengan bantuan Arsen keduanya bisa jujur dengan perasaan masing-masing dan menepis kata ‘teman’ atau ‘sahabat’.
“Udah tugas gue sebagai teman nyadarin kalian berdua,” balas Arsen. “Eh, tunggu. Apa maksud dari gue udah membuka hati?”
Kedua sudut bibir Fara tertarik membentuk senyuman lebar. “Lo kira gue ****, lo sama Bianca ada hubungan spesial, ‘kan? Gue nggak percaya dia saudara jauh lo. Tapi bagus lah kalau lo ada hubungan spesial sama Bianca, berarti lo berhasil buka hati.”
“Iya, gue bohong sama lo dan dosen lain. Bianca itu sebenarnya bukan sodara jauh gue. Tapi dia juga bukan pacar gue, lo salah paham,” terang Arsen seraya menyenderkan punggungnya kesandaran kursi. “Dan gue belum bisa buka hati.”
Fara mendengkus, sepertinya lelaki di depannya ini sedang denial dengan perasaannya sendiri. “Lo udah bisa buka hati sama Bianca.”
Arsen menggeleng. “Gue belum bisa, Far. Hati gue masih terpaut sama Seina, gue belum bisa lupain dia.”
“Lo belum bisa lupain dia tapi hati lo—” Fara menunjuk dada Arsen dengan jari telunjuknya, “—udah terpaut sama Bianca.”
"Kalau hati lo belum terpaut sama Bianca, kenapa lo repot-repot ke Surabaya nemenin Bianca jenguk nyokapnya," lanjut Fara menamparnya telak.
Arsen terdiam sejenak, detik selanjutnya ia membuka suara. "Karena gue merasa bertanggung jawab sama Bianca, dia mahasiswi gue."
Fara terbahak di tempat. "Bertanggung jawab sebagai dosen terhadap mahasiswa, ya? Mana ada dosen bertanggung jawab sampai masalah pribadi mahasiswanya. Udah lah, Sen, jujur sama perasaan lo sendiri."
"Lagian kayaknya si Bianca suka sama lo," kata Fara seraya bersedekap.
"Nggak mungkin Bianca suka sama gue, Far. Gue sama dia udah terikat perjanjian," jelas Arsen.
__ADS_1
Alis Fara terangkat sebelah. "Perjanjian?"
Arsen menghembuskan napas kasar, lalu manggut-manggut. "Iya, perjanjian. Dia itu partner fake relationship gue, dan kita berdua udah sepakat nggak bakalan pakai hati." Arsen mulai menceritakan awal mula dirinya bisa terikat fake relationship dengan Bianca.
Fara menggeleng tidak habis pikir, menjalin FR—fake relationship— sangat berisiko. Risikonya soal hati. Tidak mungkin salah satu dari mereka tidak merasakan perasaan suka, dan Fara sudah membuktikannya sendiri. Ia mengerjai Bianca, mengaku-ngaku ingin mendekati Arsen. Melihat ekspresi mahasiswinya itu, Fara tahu jika Bianca sudah terjebak dalam pesona seorang Arsen Megantara.
Tidak berbeda jauh dengan temannya itu, Arsen yang katanya belum bisa move on, nyatanya menjilat ludah sendiri. Ya, dua orang itu tanpa sadar mengingkari perjanjian.
"Tapi lo sama dia—"
"Cukup, Far. Gue nggak mau bahas itu lagi," potong Arsen.
Fara lagi-lagi mendengkus, dalam hati dirinya gemas sendiri. Kenapa Arsen dan Bianca tidak peka dengan perasaan mereka sendiri. Cih, kalau seperti ini jangan salahkan Fara yang tidak tinggal diam. Ia pasti akan menyadarkan dua orang itu, lihat saja.
"Lo nggak ada kelas 'kan setelah ini? Ayo, makan siang di kantin. Udah lama kita nggak ngobrol santai," ajak Fara seraya beranjak dari tempat duduk.
Arsen menimbang-nimbang tawaran Fara, ia sudah ada janji dengan Bianca. Tetapi mahasiswi bandelnya itu masih ada kelas. Arsen melirik arloji di pergelangan tangan, masih ada waktu.
"Oke, ayo."
***
"Bianca," panggil Bara seraya menepuk pelan pundak perempuan yang dikenalnya.
Mata Bara membola ketika Bianca berbalik menatapnya. Kedua tangannya terulur menakup kedua pipi perempuan itu, sorot mata kelabu Bara yang tadinya berbinar cerah mendadak redup. Rasa khawatir meliputinya.
"Bi, lo kok nangis?" tanya Bara seraya menyeka air mata yang lolos membasahi pipi perempuan itu.
"Hah? Nangis?" Bianca heran, ia melarikan tangannya ke kedua pipi. Bahkan dirinya tidak menyadari jika sedang menangis.
Bianca tersenyum tipis. "Gue nggak apa-apa kok, kayaknya gara-gara debu makannya mata gue jadi berair."
Tentu saja Bara tidak memercayai perkataan Bianca, ia melirik ke arah dua orang yang sebelumnya dipandang perempuan itu. Mulutnya terbuka ingin menanyakan sesuatu, namun kembali mengatup. Ia enggan bertanya macam-macam, selain bukan ranahnya, dirinya tidak ingin raut Bianca bertambah sendu. Walaupun ia menyimpan tanda tanya besar di benaknya.
“Wah, lo bikin bekal, Bi?” Bara menatap kotak bekal ditangan Bianca, berusaha mengalihkan keheningan beberapa saat yang lalu.
Bianca menunduk sekilas, kemudian kembali menatap Bara. “Iya, kenapa? Lo mau?” Lebih baik menawarkan bekal buatanya kepada Bara daripada tidak ada yang makan, mengingat Arsen sedang makan siang dengan dosen cantik itu.
Tanpa berpikir panjang Bara mengangguk semangat, berjibaku dengan kuis dari Bu Mirna satu jam yang lalu ditambah pagi tadi dirinya belum sarapan membuat cacing di dalam perutnya berdemo.
“Mau!” sahut Bara dengan senyuman lebar menghiasi wajah tampannya.
“Gue ada tempat yang bagus, gimana kalau kita makan bekal disana?” ajak Bara, ada alasan khusus kenapa dirinya mengajak Bianca kesana. Barangkali dengan mengajak kesana, suasana hati perempuan itu kembali membaik.
“Eh, tapi....” Suara deringan ponsel menginterupsinya, Bianca segera merogoh saku celananya. Mendapati nama ‘Pak Galak’ di layar ponsel, Bianca mengangkat tangan kirinya mengisyaratkan agar Bara menunggu. Ia membuka pesan dari Arsen.
Pak Galak : Bi, kamu dimana? Hari ini kamu bisa libur kerja, nggak perlu ke apartemen. Aku ada urusan mendesak.
Bianca tersenyum kecut, bahkan Arsen tidak membahas bekal buatannya sama sekali. Dan apa tadi katanya? Urusan mendesak? Pasti berkaitan dengan Bu Fara. Ah, memikirkan itu kembali membuat dadanya terasa sesak. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Bahkan tadi ia sempat menangis tanpa sadar.
“Bianca,” panggil Bara, “gimana?”
__ADS_1
Bianca mengangguk mantab. “Ayo, pergi. Gue libur kerja hari ini.”
Bara dengan semangat empat lima menyeret lengan Bianca ke arah mobil warna putih yang tampak mencolok di parkiran mahasiswa. Lelaki itu dengan gentle-nya membukakan pintu mobil untuk Bianca.
“Tumben nggak bawa motor, biasanya lo bawa motor kemana-mana,” celetuk Bianca setelah duduk manis di kursi penumpang samping kemudi.
Bara yang sedang fokus menyetir, melirik sekilas ke arah Bianca dengan seringaian. “Ciee ... gue baru tahu kalau lo seperhatian ini sama gue,” godanya.
Bianca memutar bola matanya jengah. “Pede gila.” Selanjutnya Bara terbahak, tangan kirinya mengacak rambut brunnete perempuan disebelahnya gemas.
“Berantakan, woy. Hobi banget acak-acakin rambut anak orang,” ujar Bianca sebal seraya merapikan rambutnya yang berantakan.
Sudah ada dua jam, namun belum ada tanda-tanda jika mobil yang keduanya tumpangi akan berhenti. Di kiri dan kanan jalan hanya ada pepohonan, hal itu mengundang kerutan di kening Bianca. Perempuan itu memiringkan duduknya menghadap ke arah Bara sepenuhnya.
“Bar, lo mau bawa gue kemana, sih? Mencurigakan banget,” celetuk Bianca.
Teringat Arsen yang mengatakan jika Bara bukan lelaki yang baik, membuat bulu kuduknya meremang. “Bar, lo nggak niat mutilasi gue hidup-hidup terus dibuang di hutan, ‘kan?”
Sontak saja tawa Bara lepas memenuhi mobil, ia menggeleng Dasar Bianca dan pemikiran konyolnya. “Lo kebanyakan nonton film, Bi.”
Bianca mendengkus. “Nggak salah dong gue mikir kayak gitu, di kanan kiri cuma ada pohon. Pikiran gue ‘kan jadi kemana-mana.”
Tak berselang lama mobil milik Bara berhenti. “Nah, sampai. Ayo, turun.”
Bara menuntun Bianca menyusuri jalan setapak, perempuan itu tidak berhenti memandangi tangannya yang berada di genggaman Bara yang terasa hangat.
Langkah kaki keduanya berhenti di ujung jalan, Bianca menatap sekitar. Mulutnya sukses menganga, dirinya tidak menyangka jika Bara akan membawanya ke danau.
“Gue harap tempat ini bisa buat mood lo baik,” ujar Bara dengan senyuman lebar membuat matanya menyipit bak bulan sabit.
Bianca menoleh ke arah Arsen dengan senyuman lebar. “Makasih udah bawa gue ke tempat seindah ini.”
Bara mengangguk ringan, ia kembali menuntun Bianca ke arah perahu kecil berwarna cokelat. "Naik, Bi," titahnya.
Bianca mundur, kemudian menggeleng. "Gue nggak mau, nanti kalau gue jatuh ke danau gimana? Gue nggak bisa renang."
"Tenang aja, ada gue," balas Bara singkat, tetapi mampu membuat Bianca tenang.
Bianca melangkah naik ke perahu perlahan, tangannya mencengkram erat lengan Bara. Takut jika perahunya akan oleng dan jatuh ke dalam danau.
"Kalem, Bi. Rileks, jangan tegang," ujar Bara berusaha menenangkan, ia mulai mendayung perahu ke tengah danau.
Bahu Bianca tidak sekaku tadi, kali ini dirinya bisa rileks. "Kita makan disini?" Bara manggut-manggut.
"Yaelah, mau makan aja ribet amat harus naik perahu dulu," decak Bianca, lagi dan lagi Bara tertawa mendengar celetukannya. "Lo kenapa, sih, Bar ketawa mulu perasaan nggak ada yang lucu."
Bara menghentikan dayungannya begitu perahu yang dirinya dan Bianca tumpangi sudah berada di tengah-tengah danau. Kali ini ia menatap lekat perempuan dihadapannya. "Ada yang lucu," balas Bara.
Bianca mengerutkan kening. "Apa?"
"Lo," jawab Bara dengan seringaian berusaha melancarkan aksi pendekatannya dengan Bianca. "Lo yang lucu, Bi."
__ADS_1
Bianca mengerjapkan mata, selanjutnya perempuan itu tertawa keras. "Geli gue, Bar."
Niatnya ingin menggoda Bianca agar perempuan itu merona malu seperti mantan atau korbannya yang lain, tetapi sepertinya itu tidak berpengaruh untuk Bianca. Mendapatkan hati seorang Bianca Almeera Anatasya ternyata tidak semudah itu.