Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 37


__ADS_3


Maaf akhir-akhir ini ada urusan di real life yang nggak bisa ditinggal, beberapa hari terakhir nggak buka mangatoon sama sekali😭 Aku bakalan sempatin update babang Arsen. Makasih yang udah support cerita ini plus nunggu updatenya 💛💛💛


Happy Reading ✨


Di tengah obrolannya dengan Fara, Arsen menerima panggilan mendesak dari Zafran. Papanya itu meminta dirinya ke kantor, pasalnya masalah resort di Bali berimbas di kantor pusat. Mau tidak mau Arsen menyudahi obrolannya dengan Fara, ia juga sudah mengirim pesan kepada Bianca jika ada urusan mendesak. Dan kali ini ia membiarkan mahasiswi bandelnya libur kerja.


Disinilah Arsen sekarang, berjibaku dengan berkas-berkas di meja kerja. Namun matanya tidak henti melirik benda pipih yang tergeletak tidak jauh darinya. Bianca, perempuan itu belum juga membalas pesannya.


Arsen berdecak, ia meraup wajahnya. Dirinya kembali berusaha fokus mempelajari berkas untuk meeting setelah ini, belum ada sepuluh menit iris hitam legamnya kembali tertumbuk ke arah ponsel.


Tanpa aba-aba Arsen menyambar ponsel hitam itu, ibu jarinya membuka aplikasi WhatsApp kemudian mengecek roomchat nya dengan Bianca. Namun tetap sama, tidak ada perubahan. Perempuan itu belum membalas pesannya. Arsen ingin menelepon Bianca, tetapi rasa gengsi menguasainya.


Tiba-tiba Arsen teringat, ia memasang GPS di ponsel Bianca. Dengan cepat dirinya mengecek keberadaan perempuan itu lewat benda pipih di tangannya. Kedua alisnya bertaut, mendapati lokasi Bianca lumayan jauh dari pusat kota.


Kenapa Bianca kesana? pikirnya. Entah kenapa rasa kalut menyelinap di hatinya.


Ketika Arsen berancang-ancang menelepon mahasiswi bandelnya, ketukan diikuti deritan pintu mengalihkan perhatiannya. Vano, sekretaris Papanya, berdiri di ambang pintu. Kemudian berjalan masuk mendekatinya. Lelaki berusia seperempat abad itu memberitahu dirinya agar segera pergi ke ruangan meeting.


Arsen menghela napas panjang, ia menyimpan ponsel lalu bangkit dari duduknya. Setelah masalah di kantor selesai dirinya akan menemui Bianca. Perasaannya tidak tenang.


***


"Bar, lo tahu tempat ini dari siapa?" tanya Bianca memecah keheningan.


Bianca dan Bara masih duduk di atas perahu ditemani pemandangan sunset di depan. Perempuan itu tidak henti-hentinya mengagumi keindahan matahari yang perlahan mulai hilang dari pandangan.


Bara tersenyum, matanya menerawang jauh. "Dari gue sendiri," jawabnya singkat.


"Karena waktu itu gue lagi ada masalah, gue jalan sama si Raly —motor Bara—nggak tentu arah. Akhirnya gue ketemu sama danau ini, sejak itu gue kalau ada masalah suka pergi kesini. Pemandangan sama atmosfir disini selalu sukses buat gue tenang," lanjut Bara masih dengan tersenyum, kemudian ia menoleh menatap Bianca yang juga sedang menatapnya. "Makanya gue ajak lo kesini, barangkali suasana hati lo membaik."


Bianca tidak berkedip menatap Bara. Walau matahari mulai tenggelam, cahaya mulai meremang, ia bisa melihat raut wajah sendu lelaki itu. Senyuman yang Bara layangkan untuknya tampak kaku, sorot mata yang biasanya hangat terasa dingin dan kosong. Jangan lupakan suara Bara menyiratkan kegetiran.


Hanya dengan mengamati lelaki di depannya, Bianca bisa menyadari jika Bara memiliki masalah cukup berat. Entah dorongan dari mana tangan kanannya terangkat menggenggam kedua tangan Bara yang dingin. "Kalau lo ada masalah, lo bisa cerita sama gue."


Bara tertegun mendengar perkataan Bianca, ia menatap manik mata perempuan itu. Iris cokelat almond Bianca memancarkan ketulusan, sudut bibirnya tertarik. Baru kali ini, ia melihat ketulusan di mata seseorang. Hatinya menghangat, jantungnya mendadak bergemuruh.


"Makasih, Bi," bisik Bara pelan. "Balik sekarang, yok." Bianca mengangguk, ia menengadah menatap langit yang sudah menggelap.


Bara mendayung pelan perahu yang ia tumpangi bersama Bianca, hingga berhenti di pinggir danau. Ia melangkah keluar lebih dulu, lalu menuntun perempuan itu.


Bara tidak berhenti menatap punggung mungil Bianca yang saat ini berjalan di depannya. Malam ini, perempuan itu berhasil merubah sudut pandangnya. Walau dirinya tidak memungkiri masih sedikit benci terhadap makhluk berjenis kelamin perempuan.

__ADS_1


"Bar," panggil Bianca, ia melambaikan tangannya ke arah Bara yang masih berdiri mematung di depan mobil.


"Hah ... iya, kenapa?" tanya Bara begitu tersadar dari lamunan.


"Sampai kapan lo berdiri disitu?" tanya Bianca balik.


"Sorry ... sorry ..., gue nggak fokus," terang Bara diikuti cengiran.


Disepanjang perjalanan, Bianca tidak berhenti memandang wajah Bara di balik kemudi. Bara yang menyadari hal itu melirik perempuan itu dengan ekor matanya, seringaian terbit di bibir. "Kalau liat gue biasa aja, dong. Gue tahu kalau gue ganteng," katanya berusaha menggoda Bianca.


Bianca memutar bola matanya jengah. "Cih, jangan over pede, Bar." Ia menegakkan duduknya, lalu menatap lelaki itu intens. "Bar, gue serius sama ucapan gue. Kalau lo ada masalah, lo bisa cerita sama gue. Lo nggak sendiri, mulai sekarang lo itu teman gue."


Teman, ya?


Bara tersenyum tipis. "Makasih, Bi. Tapi gue maunya lebih dari teman, gimana?"


Hening.


Bianca mengerjap, kemudian tertawa sumbang. "Hahaha, bercanda lo nggak lucu sumpah."


Bara menghela napas berat. "Gue nggak bercanda, Bi. Gue serius."


Bianca memukul pelan bahu lelaki di sampingnya. "Udah, bercandanya. Lo pasti ngantuk, omongan lo jadi ngelantur."


Menyadari jika suasananya berubah awkward, Bara berusaha mencairkan suasana. "Lo masih lapar, Bi?"


Bianca menyengir menampakkan gigi rapinya, ia mengangguk tanpa ragu. "Kok lo tahu?"


Bara tertawa kecil. "Ternyata perut lo karet ya, Bi. Baru aja makan bekal tadi, sekarang udah lapar."


Bibir Bianca mencebik. "Itu 'kan dua jam yang lalu, Bar. Sekarang beda lagi," ucapnya kesal.


"Sebagai ganti bekal lo, gue bakalan traktir. Ada kedai sate enak disekitar sini, lo suka sate, 'kan?" tanya Bara memastikan.


Bianca mengangguk semangat, matanya berbinar cerah. "Gue suka kok, apa lagi kalau gratis," balasnya tidak tahu diri.


Bara tergelak, perempuan disampingnya itu selalu bisa membuatnya tertawa. Ia melarikan tangan kirinya yang bebas ke puncak kepala Bianca, kemudian mengacaknya gemas. "Dasar, kalau masalah gratis semangat banget."


"Ya iyalah. Maklum anak kos, kalau ada yang gratis auto gercep," celetuk Bianca ringan.


Tak berselang lama, mobil milik Bara berhenti di depan kedai sate berukuran minimalis. Begitu keluar dari mobil, keduanya disambut aroma sedap menguar.


"Ayo, masuk," ajak Bara lalu merangkul Bianca, membawa perempuan itu masuk ke dalam kedai.

__ADS_1


Sembari menunggu Bara memesan makanan, Bianca melangkah lebih dalam mencari tempat duduk. Karena kedai tidak terlalu ramai, ia lebih leluasa memilih tempat duduk. Dirinya memilih kursi dekat kaca lebar yang mengarah langsung ke danau yang dirinya datangi bersama Bara. Perfect, kedai sate pilihan lelaki itu memiliki view yang sempurna.


Mendengar deritan kursi, Bianca menoleh mendapati Bara yang duduk di depannya. "Udah pesan?" Lelaki itu mengangguk menanggapi.


Di tengah perbincangan seru keduanya, tiba-tiba suara lembut seseorang menginterupsi. Bara dan Bianca kontan menoleh ke sumber suara.


"Bara," panggil wanita cantik itu.


Tubuh Bara menegang, sorot matanya berubah dingin. Ia menggenggam erat tangan Bianca di atas meja. "Bi, ayo pergi sekarang," ajaknya tanpa melepas pandangannya ke arah wanita itu.


"Bar, tapi—" Menyadari atmosfir tak nyaman, Bianca kembali mengatupkan bibirnya.


Melihat Bianca yang tak kunjung berdiri, Bara mendengkus. "Bianca," panggilnya geram kemudian berlalu keluar kedai, mengabaikan panggilan wanita itu.


Bianca tersentak, ia bangkit dari duduk. Jujur, dirinya tidak tega melihat wanita itu yang menangis sesenggukan sembari memanggil nama 'Bara'. Namun ia tidak ada pilihan lain selain berjalan membuntuti Bara keluar kedai. Dalam hatinya terus bertanya, siapa wanita itu? Dan apa hubungan Bara dengan wanita itu?


***


Arsen merapikan berkasnya di atas meja, ia melirik arloji di tangan kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Setelah meeting, ia kembali berjibaku dengan tumpukan berkas hingga langit gelap. Dirinya tidak sempat membuka ponsel mengecek keberadaan Bianca.


Arsen mengaktifkan ponselnya, tidak ada notifikasi apa pun dari Bianca. Ia menghela napas kasar, kenapa mahasiswi bandelnya mengabaikan pesan darinya. Ia mengecek keberadaan Bianca, keningnya mengerut.


Tanpa ba-bi-bu, Arsen beranjak. Dirinya menyimpan ponsel dan kunci mobil ke dalam saku lalu berjalan tergesa ke basement, ia perlu bertemu Bianca. Perasaannya tidak akan tenang jika tidak menemui perempuan itu terlebih dahulu.


Arsen menghentikan mobilnya di depan minimarket samping gang indekos Bianca, ia kembali melirik ke arah arlojinya. Seharusnya Bianca sudah sampai, Arsen merogoh saku jasnya mencari ponsel. Ibu jarinya bergerak lincah, alisnya bertaut melihat titik lokasi mahasiswi bandelnya. Ia tidak terlambat, beberapa menit lagi Bianca sampai.


Kira-kira dengan siapa Bianca pergi? Sebelum meeting siang tadi ia mendapati lokasi perempuan itu jauh dari pusat kota, dan malam-malam seperti ini juga masih di luar indekos. Semenjak Dewi memercayakan Bianca kepadanya, ia mulai mengawasi perempuan itu hingga diam-diam memasang GPS di ponsel Bianca.


Arsen mengernyit melihat pemandangan di depannya, perempuan yang dirinya cari beberapa saat lalu keluar dari mobil putih. Ia bergegas keluar dari mobil, kemudian berjalan mendekat ke arah Bianca yang sedang melambaikan tangan ke arah mobil yang bergerak menjauh.


"Bianca," panggil Arsen.


Bianca berbalik, matanya membelalak. Rasa kesal kembali menguasainya, kala teringat pesan yang lelaki itu kirim. Arsen mengingkari janji makan siang bersama, ditambah lagi mengingat laki-laki itu yang mengobrol berdua dengan Fara membuat dirinya entah kenapa semakin jengkel.


"Kamu ken—"


Arsen memegang kedua bahu Bianca, matanya menyusuri tiap jengkal tubuh perempuan itu dari kepala hingga ujung kaki. "Kamu dari mana? Kenapa pulang malam-malam? Kamu pergi sama siapa tadi? Kenapa nggak balas pesanku? Kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Arsen memberondong Bianca.


Bianca yang tadinya ingin menumpahkan kekesalannya kini diam menatap manik mata legam Arsen yang tampak khawatir. Tunggu, khawatir? Arsen khawatir kepadanya?


"Bianca?" panggil Arsen lagi ketika sadar jika Bianca tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Kamu baik-baik aja, 'kan?"


Bianca manggut-manggut, detik selanjutnya ia kembali dikejutkan dengan tindakan tiba-tiba Arsen yang mendekapnya erat. "Berhenti buat aku khawatir," bisik lelaki itu pelan.

__ADS_1


__ADS_2