Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 28


__ADS_3

Bianca diam, enggan membuka suara setelah Arsen mengancamnya dengan tidak manusiawi. Ia menyadari jika sedari tadi si galak terus mencuri pandang ke arahnya dengan senyuman menyebalkan, dirinya memilih acuh menatap keluar kaca mobil. Tentu saja ia masih merasa marah dengan si galak.


“Bi,” panggil Arsen. Bianca hanya berdeham menanggapi tanpa repot-repot menatap si galak.


“Bianca,” panggil Arsen lagi.


“Apa?” ketus Bianca, ia menatap lelaki di sampingnya dengan kesal.


Arsen melirik ke arah dashboard. “Aku bawain bekal, kamu tadi belum sempat sarapan, ‘kan?”


Bianca beralih menatap kotak bekal berukuran sedang berwarna hitam, ia kembali melirik ke arah Arsen dengan raut tidak menyangka jika dosennya itu cukup perhatian. Ternyata dibalik sifat menyebalkan Arsen, lelaki itu memiliki sisi manis yang tidak ia duga.


Tangan Bianca terulur mengambil kotak bekal, lalu membukanya. Senyuman Bianca mengembang melihat dua potong sandwich di dalam, ia mencomot lalu melahapnya. Enak, ia tidak menyangka jika Arsen bisa memasak.


“Makasih, Arsen,” kata Bianca dengan senyuman lebar.


Arsen mencuri pandang ke arah perempuan disampingnya, sejenak ia tertegun melihat senyuman tulus yang Bianca layangkan ke arahnya. Arsen berdeham, ia kembali memfokuskan pandangannya ke jalan di depan. “Jangan berpikir macam-macam,” ucap Arsen.


Bianca mengernyit tidak mengerti. “Maksud kamu?”


“Jangan geer, aku buat bekal itu nggak gratis,” balas Arsen tanpa menatap perempuan di samping.


Bianca menatap Arsen berang, ia menarik kata-katanya jika si galak cukup perhatian dan manis. Arsen tetaplah Arsen, lelaki di sampingnya tidak akan berubah. Sifat dan sikap menyebalkan sudah mendarah daging di tubuh lelaki itu.


“Terus kamu minta aku buat bayar?” tanya Bianca, Arsen dengan entengnya mengangguk.


Bianca merogoh tasnya mencari dompet yang dirinya simpan disana. “Berapa?”


Arsen melirik ke arah Bianca kemudian menyeringai. “Aku nggak butuh uang kamu,” katanya, ia menghentikan mobilnya ketika rambu-rambu jalan berwarna merah.


“Terus gimana aku bayarnya?” tanya Bianca. “Ini cuma sandwich, Arsen. Kenapa perhitungan banget, sih?”

__ADS_1


Kini Arsen menghadap ke arah Bianca sepenuhnya. Ia menggigit pipi dalamnya berusaha untuk tidak tersenyum melihat wajah kesal Bianca yang kentara. Entah kenapa mahasiswi bandelnya tampak lucu dengan bibir mengerucut sebal. “Aku nggak perhitungan,” balasnya.


Kalau nggak perhitungan terus itu namanya apa, Bambang, batin Bianca gemas, saking gemasnya ia ingin melempar Arsen ke kandang macan.


“Nilai kuis kamu harus dapat nilai A, kamu selalu langganan dapat C di matkulku, Bi,” terang Arsen, kemudian menginjak pedal gasnya begitu rambu-rambu jalan berubah warna hijau.


“Kamu bercanda?!” Bianca memilih menjadi pembantu Arsen daripada mendapat nilai A, pasalnya mendapat nilai A di mata kuliah lelaki itu merupakan suatu kemustahilan. Abel yang memiliki otak cemerlang saja hanya mendapat nilai B. Apa lagi dirinya yang memiliki otak pas-pasan.


“Siapa bilang aku bercanda?” Bianca menggeram, tahu begitu ia tidak makan sandwich buatan lelaki itu.


Range rover hitam milik Arsen memasuki kawasan kampus, Bianca menunduk mengantisipasi agar tidak ketahuan mahasiswa lain. Setelah mobil Arsen terparkir sempurna di parkiran dosen, Bianca langsung membuka pintu mobil bergegas keluar. Namun tangannya ditahan si galak, membuat dirinya menoleh ke samping kanan dimana Arsen berada.


“Tunggu,” celetuk Arsen. Lelaki itu mendekat tangannya terulur mengusap saus di bibir Bianca. “Kamu kalau makan kayak anak kecil.”


Bianca berdeham berusaha menetralkan degub jantungnya yang sudah dangdutan di dalam sana. Ia menepis tangan Arsen lalu buru-buru keluar dai mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun. Skinship dengan lelaki itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


***


Hari ini kesialan datang bertubi-tubi ke arahnya, Bianca menghela napas kasar. “Apa yang mau lo tahu?” tanyanya pasrah, ibarat sudah basah setengah, kenapa dirinya tidak basah kuyub sekalian.


Abel menyipitkan matanya curiga, ia melipat tangan di dada. “Semuanya.”


“Tapi lo jangan sebarin ke siapa-siapa, cukup gue, Pak Arsen, lo dan Tuhan yang tahu,” ucap Bianca mewanti-wanti.


Abel mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf ‘V’. “Suerr, janji deh gue nggak bakalan bocor,” kata Abel meyakinkan.


Bianca mulai menceritakan permasalahannya yang tidak memiliki biaya yang cukup untuk pengobatan ibunya sekaligus biaya kuliah, lalu Arsen datang menawarinya untuk menjadi pacar pura-pura hingga kejadian demi kejadian yang lain.


Abel tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, tanpa Bianca duga perempuan itu memeluknya erat.


“Kenapa lo nggak pernah cerita masa sulit lo sama gue?”

__ADS_1


Bianca tersenyum. “Gue nggak mau ngerepotin lo, Bel. Semenjak gue di Jakarta, lo udah banyak bantuin gue.”


Abel menoyor kepala sahabatnya dengan sadis. “Gue itu sahabat lo, gue nggak merasa keberatan atau merasa direpotin. Lain kali kalau ada apa-apa, cerita sama gue, jangan dipendam sendiri.” Kecurigaan Abel selama beberapa minggu terakhir akhirnya terjawab, ia menyadari sekarang jika beban Bianca cukup berat.


Terjadi hening cukup lama, kedua perempuan itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga bisikan Abel menghancurkan suasana sedih beberapa saat yang lalu.


“Lo udah ngapain aja sama Pak Arsen?” bisik Abel dengan senyuman menggoda.


Pletak.


Tanpa aba-aba Bianca menjitak puncak kepala sahabatnya. “Menurut lo?” tanyanya sinis.


Abel meringis, ia mengelus puncak kepalanya. “Kalau gue jadi lo, gue bakalan cari kesempatan buat peluk-peluk Pak Arsen.” Bianca yang mendengar itu memutar bola matanya jengah.


“Terus kalau lo sama Pak Arsen, Bara mau lo kemanain?” tanya Abel.


“Gue sama Pak Arsen cuma sebatas dosen sama mahasiswa plus partner fake relationshit, kalau Bara cuma temen biasa,” jelas Bianca.


Abel manggut-manggut. “Oh, iya. lo masih ingat kan kalau kita da janji sama Bara buat nonton dia tanding?”


Bianca mengangguk. “Gue belum bilang ke Arsen, nanti gue coba bilang ke dia.”


***


Drrtt ... drrtt ... drrtt....


Arsen yang sedang menonton televisi di ruang tengah merogoh ponselnya, ia mengecek benda pipih di tangannya. Tidak ada tanda-tanda pesan atau panggilan yang masuk, kedua alisnya bertaut bingung.


Manik mata hitam legamnya mendapati ponsel milik Bianca tergeletak di atas meja, sebelah alisnya terangkat. Arsen perlahan mengambil benda pipih itu setelah memastikan jika Bianca tidak ada disekitarnya, ia menyalakan ponsel itu. Matanya membola melihat pesan dari Bara.


Bara : Jangan lupa nonton gue tanding besok :)

__ADS_1


Arsen meraup wajahnya, Bianca ternyata masih dekat dengan Bara. Pantas saja tadi perempuan itu meminta libur besok, dan bodohnya ia setuju meliburkan Bianca. Ia memutar otak berusaha mencari cara agar Bianca tidak menemui Bara besok, detik berikutnya senyuman mengembang di bibirnya. Rencana di kepala sudah tersusun rapi, tinggal eksekusi besok.


__ADS_2