Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 24


__ADS_3

Arsen membeku di tempat, lidahnya terasa kelu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia menatap kepergian punggung mungil perempuan itu dalam diam, tangannya mengepal. Rasa khawatirnya menguap entah kemana, kali ini justru rasa jengkel menguasainya.


Ya, mungkin Arsen sudah kelewatan. Tidak seharusnya ia mengkhawatirkan Bianca dan tidak seharusnya ia mencampuri urusan perempuan itu. Jika Bianca menjadi korban Bara, itu bukan urusannya. Ingat, perempuan lemot itu bukan siapa-siapanya. Ia dan Bianca hanya sebatas dosen dan mahasiswi serta partner fake relationship tidak lebih.


Arsen bangkit dari duduknya lalu berjalan masuk ke dalam ruangan berpintu hitam-kamarnya- ia butuh mandi lalu tidur.


Arsen merebahkan dirinya di kasur, bayangan raut wajah tegas Bianca serta suara tajam perempuan itu membuat ia sulit tidur. Arsen berusaha untuk tidak peduli dan khawatir, namun tetap saja rasa khawatir kembali menyergap.


Drrtt ... drrtt ... drrttt....


Arsen berdecak sebal, tak urung tangan kanannya meraih benda pipih di atas nakas. Ia berdecih ketika melihat caller ID di layar ponsel, kenapa Edgar menghubunginya?


"Halo," sapa Arsen malas.


"Lo dimana sekarang, woy?"


"Gue di apartemen, kenapa?"


"Ini pacar gadungan lo jalan sama cowok lain di Kafe gue," terang Edgar heboh. Arsen memang sudah menceritakan kepada sahabatnya tentang Bianca yang jadi pacar pura-puranya.


"Ya terus kenapa?" balas Arsen santai, ia menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang. "Mau dia jalan sama cowok lain itu bukan urusan gue."


Klik! Arsen mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia meletakkan benda pipih itu di atas atas nakas, lalu kembali bergelung di bawah selimut.


Tiba-tiba Arsen teringat berkas yang dikirim Alex tentang kehidupan Bianca, ditambah lagi raut sembab serta penuh tangis sewaktu ia pergoki di taman kampus membuatnya bertambah gelisah sekaligus khawatir secara bersamaan. Kehidupan perempuan itu cukup rumit dan rapuh, ia tidak bisa membayangkan jika Bara menghancurkan Bianca.


Argh! Arsen benci dengan dirinya sendiri sekarang. Kenapa ia terlalu memikirkan Bianca yang bukan siapa-siapanya?


Persetan, Arsen beranjak dari kasurnya. Ia berjalan ke arah walk in closet untuk berganti pakaian. "Dasar mahasiswi merepotkan," gerutunya.


Setelah sudah siap, Arsen menyambar ponsel dan dompetnya lalu melangkah keluar dari apartemen.


***


Bianca tidak menyangka Bara akan membawanya ke Kafe Baper, Kafe yang mengingatkan Bianca dengan kejadian lalu dimana Arsen melabelinya sebagai pacar. Ah, bahkan disaat seperti ini dirinya masih memikirkan lelaki yang sempat membuatnya marah beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


"Bi?" Bara melambaikan tangan di depan wajah Bianca. "Lo nggak apa-apa? Nggak suka sama tempatnya?"


Bianca menggeleng dengan cepat. "Suka kok," ucapnya dengan senyum tipis.


Bara tersenyum lega. "Baguslah kalau lo suka."


Ada jeda cukup lama, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Bianca menyeruput minumannya dalam diam, ia menatap keluar kaca. Hingga pertanyaan Bara menyentaknya.


"Bi, kalau boleh tahu lo ngapain ke apartemen **** setiap selesai kuliah?" tanya Bara. Melihat perubahan air muka Bianca, ia langsung menambahkan. "Maaf pertanyaan gue terkesan terlalu kepo."


Bianca tersenyum kaku, bingung menjawab apa. "Gue kerja disana," jawabnya.


Bara mengernyit. "Kerja?"


Bianca mengangguk. Ia kembali menyeruput minumannya yang tersisa setengah guna meredakan rasa gugupnya. "Gue kerja sebagai babysitter," alibi Bianca. Benarkan? Dirinya tidak berbohong, ia menjadi babysitter bayi besar. Tidak lain dosennya sendiri.


Bara manggut-manggut. "I see."


Keduanya terlibat obrolan ringan setelah itu, Bianca tergelak mendengar cerita dari Bara. Tidak sadar jika sedari tadi ada yang memandangi mereka dari jauh.


Arsen masih bergeming di tempat memandangi Bianca yang asik mengobrol dengan Bara dari luar Kafe. Ia menggeram ketika melihat Bara yang entah sudah keberapa kalinya mengelus puncak kepala Bianca. Ia memasukkan kunci mobilnya kedalam saku, lalu berjalan masuk ke Kafe milik sahabatnya.


"Ehem, saya boleh duduk disini?" tanya Arsen dengan wajah datar seperti biasa.


Bianca mendelik terkejut, kenapa dosennya bisa ada disini? Apa jangan-jangan lelaki itu mengikutinya?


"Masih banyak kursi disana, Pak," tolak Bianca.


Arsen menaikkan sebelah alisnya. "Mana? Kursinya penuh." Tanpa menunggu persetujuan Bara dan Bianca, ia langsung duduk disamping Bianca. Untunglah, suasananya mendukung. Kafe Edgar cukup ramai malam ini. "Kalau bukan karena ramai dan kursinya penuh, saya tidak akan kesini mengganggu kencan kalian," lanjut Arsen menekan kata 'kecan'.


Bianca ingin membuka mulut, memperjelas jika ia dan Bara tidak berkencan seperti apa yang Arsen katakan. Namun ia mengatupkan kembali bibirnya kala Bara menyelanya.


"Ah, nggak apa-apa, Pak. Duduk disini aja," balas Bara dengan senyum paksa.


Suasana mendadak awkward. Bara dan Bianca mendadak diam membisu semenjak kehadiran Arsen. Hingga suara ponsel Bara memecah keheningan di meja itu. lelaki itu menatap ponsel terkejut, Alvin-sahabatnya- terlibat adu tonjok dengan grup Willy. Sahabatnya itu dilarikan ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kenapa, Bar?" tanya Bianca ketika melihat raut panik Bara yang kentara.


Bara mengalihkan tatapannya dari layar ponsel ke arah Bianca. "Maaf, Bi. Gue harus pergi sekarang. Ayo, gue antar ke indekos lo dulu."


Melihat Bara yang terburu-buru, Bianca menggeleng. "Nggak usah, gue bisa pulang sendiri. Lo pasti buru-buru banget."


"Nggak apa-apa gue antar dulu, gue nggak bakalan biarin lo pulang sendiri. Udah malam, Bi. Lagi pula gue udah ajak lo kesini, otomatis gue bertanggung jawab antar lo pulang," terang Bara.


"Santai. Gue bisa pulang sendiri, Bar," tukas Bianca. Ia sudah biasa pulang malam karena kerja part time.


Melihat perdebatan kedua orang di depannya, Arsen mengangkat suara. "Biar Bianca saya antar pulang." Bianca melotot, kepalanya langsung menoleh ke arah si galak.


"Saya lihat kamu ada urusan urgent," lanjut Arsen. "Saya tidak keberatan mengantar Bianca."


"Nggak apa-apa, Pak?" tanya Bara tidak enak. Arsen hanya mengangguk. "Makasih, Pak Arsen."


Bara beralih menatap Bianca, tangannya terangkat mengelus puncak kepala Bianca lembut. "Maaf ya, Bi. Gue harus pergi, lo pulang sama Pak Arsen aja. Gue nggak tenang kalau lo pulang sendiri." Arsen membuang muka, melihat tangan Bara bertengger di puncak kepala Bianca.


Justru gue ngerasa lebih nggak tenang kalau pulang sama si galak, batin Bianca dongkol. Ia tersenyum paksa. "Iya, Bar. Makasih, ya, traktirannya," balasnya. Bara mengangguk, setelah pamit ia berlalu keluar Kafe.


Setelah kepergian Bara, Bianca langsung memutar tubuhnya menghadap lelaki di sampingnya. "Kamu kenapa kesini?"


"Ini tempat umum, wajar aku ada disini," jawab Arsen enteng, tanpa menatap Bianca.


Bianca memicing curiga. "Kamu ... nggak ngikutin aku, 'kan?"


Arsen tersentak, lalu tersenyum tipis berusaha meredakan rasa terkejutnya. "Ngapain aku sekurang kerjaan itu?"


Bianca mendecih sebal. "Siapa tahu, 'kan. Wajar aku mikir gitu, kamu sebelumnya ngelarang aku dekat sama Bara. Terus kenapa kesini?"


Arsen mendengkus lalu menyeringai. "Sejak kapan kamu penasaran sama aku?"


"Aku nggak penasaran!" kata Bianca berang, dosennya itu selalu memutar kata-katanya. "Lupain aja, anggap aja aku nggak tanya apa-apa." Ia menatap keluar kaca, enggan menatap Arsen. Sedangkan lelaki itu justru tersenyum puas karena berhasil menggoda mahasiswinya.


"Arsen," panggil Bianca setelah diam cukup lama. Lelaki itu hanya berdeham.

__ADS_1


"Kenapa kamu ngelarang aku dekat sama Bara?" tanya Bianca sembari menatap lelaki disampingnya dengan wajah penasaran.


Arsen menghela napas panjang. "Kalau aku bilang Bara bukan orang yang baik, apa kamu percaya?"


__ADS_2