
...'Kelak akan ada pelangi setelah hujan, akan ada kebahagiaan setelah tangis yang panjang.'...
...—Robin Wijaya—...
Bianca bersimpuh di atas sajadah dengan tangan menengadah, untaian doa ia panjatkan kepada yang kuasa. Tangisnya kembali luruh membasahi pipi dan mukena yang dirinya kenakan, harapan akan kesembuhan sang Ibu meluncur bebas dari bibirnya. Yang Bianca mau saat ini hanya itu, melihat senyuman hangat milik Dewi. Sudah tiga hari, Ibunya itu betah menutup mata.
Hujan mengguyur kota Surabaya sore ini, aroma petrichor menguar menusuk Indra penciumannya begitu ia melangkah keluar dari mushala. Desau angin membaur bersama hujan, Bianca mengeratkan jaket milik Arsen yang dirinya kenakan kala merasakan hawa dingin menyapu kulitnya.
Bianca menatap langit yang gelap, telapak tangan kanannya terulur dibiarkannya basah terkena air hujan. Ia jadi teringat quote yang sempat dirinya baca di Instagram beberapa waktu yang lalu. 'Kelak akan ada pelangi setelah hujan, akan ada kebahagiaan setelah tangis yang panjang.' Untuk kali ini Bianca mencoba memercayai quote itu, semoga saja setelah ini kondisi Ibunya membaik.
drrtt ... drrtt ... drrtt....
Bianca mengerutkan kening melihat caller ID di ponsel, kenapa Arsen meneleponnya? Perasaannya mendadak tidak enak, apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Ibunya? Ia memang bergantian menjaga Dewi dengan Arsen dan Bu Dya di rumah sakit. Ya, dosennya itu masih menemaninya di Surabaya. Lelaki itu sudah mengurus absen di kampus, oleh karena itu Bianca tidak khawatir perihal absensinya.
"Halo, Sen," sapa Bianca begitu menggeser ikon hijau.
"Bi, Ibu—"
"Ibu kenapa, Sen?" sela Bianca tidak sabaran seraya berjalan tergesa ke ruang ICU.
"Ibu kamu udah siuman," jawab Arsen, ia bisa merasakan jika lelaki itu sedang tersenyum sekarang. Bianca tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut sekaligus lega mendengar penuturan Arsen. Ia sangat bahagia, ternyata Tuhan mendengar doanya. Tuhan masih mengizinkan dirinya melihat senyuman hangat sang Ibu.
Bianca menghambur memeluk Arsen begitu sampai di depan ruang ICU menyalurkan rasa bahagianya yang tak terkira, Arsen mematung dengan gerakan tiba-tiba perempuan itu. Bianca yang sadar dengan tindakan refleknya kini langsung melepas pelukan, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bodoh, rutuk Bianca dalam hati.
Hening.
"Ibu, gimana?" tanya Bianca setelah diam cukup lama.
Arsen tersenyum. "Masih ditangani dokter spesialis di dalam."
Bianca manggut-manggut, perasaan karut-marut yang dirinya rasakan selama tiga hari terakhir sedikit lenyap, digantikan perasaan lega. Ia menatap sekitar, keningnya berkerut dalam. "Bu Dya, dimana?" tanya Bianca lagi.
"Tadi pulang ke rumah sebentar, nanti balik kesini lagi," terang Arsen.
__ADS_1
Tiba-tiba Arsen teringat jika Mamanya itu meneleponnya beberapa menit yang lalu, wanita paruh baya itu menitip salam kepada Bianca dan meminta Arsen menjaga perempuan itu. Bahkan Karin nyaris saja memaksa datang ke Surabaya saking khawatir kalau saja Arsen tidak melarangnya dengan keras. Ia masih ingat sekali percakapan dengan Mamanya di telepon.
"Arsen, kamu dimana sekarang?" tanya Karin diseberang.
"Aku tahu pasti Mama udah tahu kalau aku di Surabaya, Pak Rahmat lapor ke Mama, 'kan?" balas Arsen.
Karin menghela napas panjang. "Iya, Pak Rahmat lapor ke Mama. Kenapa kamu ke Surabaya? Kamu ajak kabur Bianca kesana? Mau kawin lari? Ya ampun Arsen, kalau kamu mau nikah cepat, bilang sama Mama. Mama bakalan siapin semuanya, ka—"
Alis Arsen bertaut bingung, ia buru-buru menyela. "Tunggu, Ma. Mama salah paham. Arsen nggak kawin lari."
"Terus kenapa kamu bawa Bianca kesana?" tanya Karin.
Arsen memijat pangkal hidungnya, kepalanya mendadak pening. Pasti sopir keluarganya -Pak Rahmat- tidak cerita jika ia dan Bianca pergi ke rumah sakit di Surabaya. "Arsen antar Bianca jenguk Ibunya yang kritis, Ma."
Karin baru saja teringat, Bianca berasal dari Surabaya. Ia lupa jika Bianca berasal dari kota itu. "Lho, gimana sekarang kondisi Mamanya Bianca? Masih kritis? Mama flight ke Surabaya sekarang, ya?" tanya Karin, Arsen bisa mendengar suara Mamanya yang diliputi rasa khawatir.
"Ini baru siuman, Ma. Mama nggak usah kesini, kondisi beliau udah mulai membaik," terang Arsen melarang Mamanya untuk datang ke Surabaya.
Karin menghela napas panjang di seberang. Ia teringat beberapa waktu lalu saat Bianca kerja di Queen Bakery, dirinya ingat raut wajah sendu perempuan itu saat menceritakan kondisi kesehatan Mamanya. "Oke Mama nggak kesana, tapi Mama titip salam ke Bianca. Dan kamu jaga Bianca disana, Arsen."
Arsen mengerjap, tersadar dari lamunannya. Ia menatap Bianca yang berjalan mondar-mandir di depannya, pasalnya dokter yang menangani Dewi belum juga keluar. "Bi, duduk. Aku pusing liat kamu mondar-mandir kayak gitu," perintah Arsen.
Bianca menurut, ia duduk di kursi tunggu sebelah Arsen. Walaupun dirinya sudah lega, tapi tetap saja ia merasa sedikit gelisah.
"Kamu dapat salam dari Mama," ucap Arsen.
Bianca menoleh menatap lelaki di sampingnya. "Mama? Bu Karin?" Arsen mengangguk menanggapi.
"Salam balik buat Bu Karin kalau gitu," balas Bianca seraya menampilkan senyuman tulus.
Pintu ruang ICU terbuka, Bianca dan Arsen kontan beranjak dari duduk. Keduanya menghampiri dokter spesialis yang keluar dari ruangan, Bianca meremas jari jemarinya gugup serta khawatir menjadi satu. "Gimana dok kondisi Ibu saya?" tanya Bianca dengan satu tarikan napas.
Lelaki paruh baya itu tersenyum. "Ibu anda kondisinya membaik dan sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan."
Bianca bernapas lega, ia tidak henti-hentinya bersyukur dalam hati. "Terima kasih, dok," kata Bianca.
__ADS_1
***
Bianca dan Arsen masuk ke dalam ruang perawatan Dewi, wanita paruh baya itu terbaring di brankar. Namun kali ini dengan mata terbuka dan senyuman hangat, tanpa ba-bi-bu Bianca memeluk sang Ibu.
"Makasih, Bu," ucap Bianca seraya melepas pelukan, "makasih udah bertahan buat Bianca."
Dewi tersenyum, jemarinya menyisir lembut surai milik anaknya. "Kalau Ibu nyerah, siapa yang jagain kamu, Bi. Maaf Ibu buat kamu khawatir," balasnya dengan suara serak.
Arsen menatap kedua wanita berbeda generasi itu dengan raut bahagia yang kentara, dan ia juga lega bisa melihat sorot mata Bianca yang tidak kosong dan kalut seperti tiga hari terakhir.
Menyadari jika sedang ditatap, Dewi mengalihkan atensinya ke arah lelaki di sebelah Bianca. Keningnya berkerut menatap penuh kebingungan. "Kamu siapa?" tanyanya.
Arsen tersenyum mulai memperkenalkan diri. "Saya Arsen, pa—"
Bianca dengan cepat memotong perkataan Arsen sebelum lelaki itu mengatakan yang tidak-tidak. "Ah iya, Bianca lupa. Kenalin Bu, ini Pak Arsen, dosen Bianca di kampus."
"Dosen?" tanya Dewi, ia menatap curiga ke arah Bianca. Jika hanya sebatas dosen dan mahasiswa, kenapa lelaki itu ikut menjenguknya ke Surabaya. Pasti ada apa-apa antara anaknya dan Arsen. "Nak Arsen, makasih sudah ikut jenguk dan antar Bianca ke Surabaya." Arsen tersenyum lalu mengangguk.
Tidak membutuhkan waktu lama, Arsen sudah sangat akrab dengan Dewi. Bianca menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya, dosennya itu bisa langsung akrab dengan Ibunya. Padahal yang Bianca tahu Ibunya itu cukup over protective, apa lagi jika menyangkut laki-laki yang berada disekitarnya.
Arsen beranjak dari duduknya teringat jika Bianca belum makan apa-apa siang tadi, namun ketika ia akan melangkah keluar Bianca menahan pergelangan tangannya.
"Mau kemana?" tanya Bianca.
"Mau beli makan buat kita, kamu tadi siang belum makan," jelas Arsen.
Bianca menarik Arsen agar duduk kembali. Ia tidak akan membiarkan si galak pergi ke kantin rumah sakit, tiga hari terakhir ini ia sudah cukup merepotkan Arsen. "Biar saya aja yang ke kantin rumah sakit, Bapak disini aja."
"Tapi—"
"Nak Arsen disini aja, biar Bianca yang beli," sela Dewi. Kalau sudah begini, Arsen tidak bisa menolak. Ia menatap kepergian Bianca, hingga perempuan itu hilang di balik pintu.
"Nak Arsen," panggil Dewi, wanita itu menggenggam tangan Arsen. "Ibu mau ngomong sama kamu."
"Ngomong apa ya, Bu?" tanya Arsen dengan alis bertaut.
__ADS_1
"Apa Ibu boleh minta satu permintaan sama kamu?" tanya Dewi sembari menatap penuh harap ke arah lelaki yang duduk di kursi samping brankarnya.