Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Chapter 21


__ADS_3

Bianca tertawa mendengar candaan dari Bara, ia sampai tidak menyadari jika sudah berjam-jam mengobrol dengan lelaki itu. Di tengah obrolan, entah kenapa ada perasaan mengganjal. Ada sesuatu yang dirinya lupakan, tapi apa?


Melihat perempuan di depannya sedang melamun, Bara melambaikan tangan di depan wajah Bianca. "Bi?"


Bianca tersentak, "hah? Kenapa, Bar?"


"Lo kenapa? Kok ngelamun? Ada masalah?" tanya Bara bertubi-tubi.


Bianca menggeleng, "nggak apa-apa, cuma...." Tiba-tiba bayangan wajah horror Arsen serta perintah lelaki itu melintas di kepalanya, "astaga!"


Bara mengerutkan kening bingung, "lo kenapa, sih? Tadi ngelamun, terus sekarang tiba-tiba teriak."


Bianca melirik arloji di tangan kirinya, mendadak rautnya berganti panik. Duh, mati... mati... mati..., rutuknya dalam hati. Bagaimana ia bisa lupa dengan perintah si galak. "Gue lupa ke ruangannya Pak Arsen," ucapnya dengan gusar.


Bianca beranjak dari duduknya, namun tangannya dicekal Bara. "Tunggu, gue minta nomor lo."


Bianca menerima ponsel Bara, ia mengetik nomornya disana dengan tidak sabaran. "Udah," ucapnya seraya menyodorkan benda pipih itu. "Gue duluan, ya, Bar."


"Iya, Bi. Jangan lupa besok malam," ujar Bara mengingatkan, perempuan itu mengangkat ibu jarinya ke udara seolah mengatakan 'iya'.


Bianca berjalan cepat ke ruangan si galak, sepanjang jalan ia tidak berhenti merutuki kebodohannya. Sampai di depan pintu ruangan Arsen, ia merilekskan napasnya yang tidak beraturan. Exhale... inhale...., tangannya terangkat mengetuk pintu bercat cokelat di depan. Namun tidak ada sahutan, ia merogoh tasnya mencari ponsel.


Matanya membelalak kala mendapati satu notifikasi pesan satu jam yang lalu dari si iblis Arsen. Ia kembali mengetuk pintu ruangan dosennya, lagi-lagi tidak ada sahutan. Bianca ingin menghubungi Arsen, tetapi bisa dipastikan telinganya akan error terkena semprotan nyaring via telepon. Tapi kalau ia membuka ruangan Arsen, itu juga tidak sopan.


Bianca melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang lewat dan melihatnya. Tangan kanannya sudah bersiap memegang handle pintu, namun tepukan di bahu mengagetkannya. Ia langsung menoleh ke belakang.


"Gimana, Bi?" tanya Abel, "Pak Arsen nggak ngapa-apain lo, 'kan? Tadi waktu gue lagi duduk di taman sama Marsha, gue liat wajahnya si galak kayak pengin makan orang. Makannya gue kesini, barang kali lo kena semburan maut kayak tadi pagi."

__ADS_1


Bianca menelan salivanya susah payah, "sekarang si galak dimana?"


Duh gusti, ampunilah dosa-dosa hamba, batinnya, ini pasti ia kebanyakan dosa maka dari itu semesta menghadirkan si iblis Arsen untuk mengujinya. Tetapi rasanya ia ingin melambaikan tangan saking tidak kuatnya menghadapi sosok Arsen Megantara.


Abel mengedikkan bahu tanda ia tidak tahu, "mana gue tahu, terakhir gue liat dia jalan ke parkiran terus pergi. Kenapa?" tanyanya penasaran, tidak biasanya Bianca bertanya tentang Arsen. Boro-boro tanya, kalau ia sedang bergosip tentang lelaki itu Bianca memilih pergi. Namun akhir-akhir ini sahabatnya tampak berbeda.


Tidak salah lagi, si galak pasti pergi ke apartemen. "Bel, gue duluan, ya. Gue telat kerja, gue mau ke Queen Bakery," alibi Bianca.


"Oh iya, hati-hati, Bi," balas Abel, Bianca mengangguk lalu berlari meninggalkan sahabatnya.


Bianca berjalan ke halte terdekat, namun sudah ada seperempat jam tidak ada busway lewat. Hingga motor sport hitam yang sangat dirinya kenal berhenti di depannya.


Bara membuka kaca helm full facenya, "mau kemana? Ayo, gue antar."


Dewi fortuna berpihak kepadanya, raut Bianca mendadak cerah. "Anterin gue ke apartemen *****"


"Ya udah, naik," titah Bara sembari menoleh ke arah jok motor belakang.


Bara mengangguk, ia menarik kedua tangan Bianca lalu melingkarkan di pinggangnya. "Oke, gue ngebut. Tapi lo harus pegangan, gue nggak mau lo kenapa-kenapa," ucapnya. Bianca mengangguk kaku, apa pun itu tidak masalah yang terpenting ia sampai dengan cepat ke apartemen si galak.


***


"Makasih, Bar," ucap Bianca seraya menyerahkan helm putih kepada Bara. Berkat lelaki itu ia bisa sampai ke apartemen si galak tidak sampai setengah jam. "Ya udah, gue masuk," lanjutnya.


"Sama-sama. Ya udah kalau gitu, gue juga mau cabut," balas Bara disambut anggukan oleh perempuan itu.


Bianca berlari kecil, ia masuk ke dalam lift lalu menekan tombol lantai delapan belas dengan tidak sabar, siap-siap di bantai si iblis Arsen setelah ini.

__ADS_1


Ting!


Begitu lift terbuka, Bianca berjalan tergesa menyusuri lorong lantai delapan belas. Bibirnya komat-kamit mencari apartemen milik si galak. Langkah kakinya berhenti ketika menemukan yang dirinya cari. Bianca memasukan kode password yang pernah Arsen beritahu dan tadaa pintu hitam itu terbuka.


Bianca masuk ke dalam, ia menanggalkan sneakersnya lalu menggunakan sandal rumahan yang sudah disediakan. Suara televisi yang menyala di ruang tengah membuat jantungnya memompa lebih cepat, ia berjalan mendekat.


Ruang keluarga yang biasanya terasa hangat kini mendadak dingin. Arsen duduk di atas sofa dengan raut datar, namun Bianca bisa merasakan emosi lelaki itu.


"Pak Arsen," cicit Bianca, ia meletakkan tasnya di sofa lalu menyusul duduk disana.


Arsen masih menatap lurus ke arah televisi yang menampilkan hewan primata, ia pura-pura tidak menyadari kehadiran mahasiswi bandelnya. Seakan gambar orang utan di layar televisinya lebih menarik dari pada Bianca yang duduk di sebelahnya.


"Pak Arsen... saya minta maaf tadi terlambat masuk ke kelas Bapak. Tapi suer Pak, saya tadi habis nolongin anak orang yang di keroyok. Kasian, Pak. Saya nggak mungkin biarin dia mati karena di keroyok," terang Bianca panjang lebar dengan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf 'V', namun Arsen tetap diam tidak menggubris.


"Pak Arsen, saya juga minta maaf nggak menemui Bapak di ruangan, karena—"


Belum selesai Bianca berbicara, ia langsung menyela. Perkataan perempuan itu mengingatkannya kepada kejadian satu atau dua jam yang lalu. "Stop," selanya.


"Pertama, siapa yang menyuruh kamu duduk?" Bianca tersentak dari duduknya, ia kontan berdiri tegap.


"Kedua, kalau kamu terlambat lebih baik tidak usah masuk kelas saya sekalian. Saya tidak suka mahasiswi yang tidak disiplin, itu menunjukkan jika dia tidak serius untuk belajar," tegas Arsen, kali ini atensinya beralih ke arah mahasiswi bandelnya.


Bianca merinding kala matanya beradu dengan tatapan tajam dan dalam milik Arsen, "iya, Pak."


"Ketiga, saya tidak suka dengan mahasiswi yang tidak menjalankan perintah saya tapi justru asik berduaan dengan laki-laki," kata Arsen kali ini suaranya naik satu oktaf.


Hah?! Kok si iblis Arsen tahu?

__ADS_1


"Kok Bapak tahu?" tanya Bianca namun Arsen diam tidak menanggapinya.


Entah keberanian darimana, ide jail muncul di kepala Bianca. Dan ide itu dengan kurang ajar terhubung dengan mulutnya, "Bapak, cemburu, ya?"


__ADS_2