
Bianca menelungkupkan kepala di lipatan tangan, wajahnya terlihat kusut. Ia kesal setengah mati dengan Arsen, kesempatan kerjanya kemarin terenggut karena ia tidak bisa datang. Iya, dosen setan itu sukses menyanderanya dengan tumpukan kuis hingga langit gelap. Alhasil dirinya tidak bisa mengunjungi perusahaan swasta yang ingin ia lamar.
Bianca menatap berkas CV yang tergeletak tidak jauh darinya, ia menghela napas panjang. Ia tadi selesai kuliah sudah mencoba datang ke perusahaan swasta itu, tetapi loker sudah di tutup. Yah, kesialan pertama di pagi ini.
"Bi," panggil seseorang dengan nada keras membuat Bianca spontan menegakkan duduknya. Ia menemukan Abel yang berlari ke arahnya dengan wajah panik, kenapa lagi nih?
Abel duduk didepan Bianca, keringat bercucuran di wajah napasnya sedikit tersengal. Tanpa ba-bi-bu ia langsung minum milkshake cokelat di hadapannya.
"Woy, itu minuman gue, Bel," sungut Bianca kesal. Datang-datang nyerobot minuman orang aja.
"Sorry, ntar gue ganti." Abel mencoba mengatur napasnya, wajahnya masih menunjukkan raut panik yang kentara.
"Lo kenapa sih, nyet?" tanya Bianca penasaran.
"Ini penting, Bi. Janji ya lo jangan nangis," kata Abel mengingatkan. Bianca menaikkan sebelah alis heran namun tak urung kepalanya mengangguk.
"Jadi apa?" tanya Bianca tidak sabar.
"Lo udah ketemu Marsha hari ini?" Bianca menggeleng, namun sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraan Abel, "gue dapat kabar kalau Marsha—"
"Gue udah tahu," potong Bianca, ia tidak ingin lagi mendengar pembicaraan Abel tentang mantan gebetannya dan Marsha.
"Lo tahu? Respon lo cuma gini aja? Marsha nusuk lo dari belakang, Bi. Dia teman masa kecil lo dan dia sikapnya najisun, tapi sikap lo cuma gini aja? Lo nggak berniat buat labrak dia?" Abel menatap sahabatnya berapi-api, ia tidak menyangka respon Bianca akan sesantai ini.
Bianca menengadah, menatap langit cerah siang itu. "Nggak ada gunanya gue marah-marah atau labrak dia, Bel. Lagian gue juga bukan siapa-siapanya Agam," ujarnya lirih.
Abel mengangguk, benar juga. Tapi ia masih tidak rela Marsha menyakiti Bianca. "Tapi Marsha keterlaluan, Bi. Di depan lo dia support kalau lo dekat sama Agam, tapi di belakang lo—"
"Gue tahu, Bel. Gue nggak akan labrak dia, tapi gue bakalan jauhin dia. Gelas pecah nggak bisa kembali utuh sempurna, gue juga sama. Mungkin gue udah maafin dia, tapi gue nggak akan bersikap sama lagi kayak dulu," sela Bianca lagi, ia menghela napas.
Abel tersenyum, "nah gitu dong."
__ADS_1
"Lo kemarin Minggu kemana? Gue ke kosan lo, tapi lo-nya nggak ada," tanya Abel.
Bianca mendengkus keras, ia jadi teringat kejadian kemarin dengan dosen killer itu. "Gue kemarin ke rumah si galak," ucapnya ketus.
Abel mengerjapkan mata, berusaha mencerna ucapan perempuan didepannya. "Hah? Gimana-gimana?" tanyanya memastikan.
"Gue kemarin ke rumah Pak Arsen Megantara," ucap Bianca kali ini lebih jelas. Abel tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"What the ... lo serius ke rumah si Galak? Minggu-minggu lo apel kesana? Pantesan lo biasa aja tahu Agam jadian sama Marsha, udah ada gantinya ternyata," tukas Abel.
Bianca melempar bekas tissue ke wajah Abel. "Apel-apel gundulmu," semprotnya kesal. "Gue kerja rodi disana, woy."
"Kemarin gue antar makalah hukuman dia, tapi gue telat. Lo tahu sendiri kan Jakarta macet, gue cuma telat empat menit, dia udah nyuruh gue koreksi kuis maba." Jeda sebentar, kemudian Bianca melanjutkan menumpahkan kekesalannya, "saking banyaknya gue disana sampai nyaris malam. Padahal kemarin gue ada rencana buat ngelamar kerja di perusahaan swasta, tapi gagal gara-gara si galak."
Abel tertawa kecil melihat raut kesal Bianca, "kayak lo nggak tahu aja, si Galak kan gila disiplin. Lo telat beberapa detik aja kena semprot atau hukuman."
"Tapi lo jangan terlalu benci sama Pak Arsen," lanjut Abel. "Benci kan berbanding lurus sama cinta, Bi. Kalau lo benci sama si galak, lo nanti—"
"Hahahaha, awas aja kalau lo sampai cinta sama dia. Kalau lo cinta sama dia, lo wajib traktir gue seminggu." Abel mengulurkan tangannya, tanpa ragu-ragu Bianca membalas uluran tangan sahabatnya. Ia sangat yakin, dirinya tidak akan menjilat ludahnya sendiri.
"Eh, gue kemarin dapat info loker di bakery dekat sini," kata Abel memberitahu, "lo mau?"
Bianca mengangguk cepat, ia butuh uang sekarang. Pekerjaan apa pun dirinya mau yang penting halal. "Gue mau."
"Sebentar." Abel mencari foto brosur loker di galeri ponselnya. Begitu menemukan yang dirinya cari, ia langsung menyodorkan benda pipih itu ke sahabatnya. "Ini."
Bianca melihat brosur loker di ponsel Abel. "Oh gue tahu tempat ini, Bakery baru sekitar sini kan?" Bakery baru yang sering di datangi Kenzy -teman kelas Bianca dan Abel. Kata perempuan itu roti disana juara.
"Ya udah kalau gitu gue langsung cabut, Bel," pamit Bianca, ia beranjak dari duduknya sembari menyampirkan tas di bahu.
"Lah, sekarang? Lo nggak ada kelas?" tanya Abel.
__ADS_1
Bianca menggeleng, "nggak ada. Gue duluan, Bel." Belum sempat Abel bicara, ia sudah melesat keluar meninggalkan Cafetaria kampus.
***
Bianca menatap toko roti di depannya, Queen Bakery. Untuk ukuran Bakery yang baru buka satu bulan, ini termasuk sangat ramai. Kursi di indoor sampai outdoor penuh, antrean kasir juga sangat panjang.
Bianca masuk membelah keramaian, ia menghampiri salah satu pegawai disana. "Mbak, permisi."
"Mau pesan apa, Mbak?" tanya perempuan itu dengan senyum hangat.
Bianca tersenyum melihat perempuan yang tampak lebih muda darinya, "anu mbak, saya mau ngelamar kerja disini. Apa lokernya masih buka?"
Raut perempuan itu tampak lega, "mau ngelamar kerja disini? Masih, Mbak. Ayo ikut saya."
Bianca mengikuti perempuan di depannya menaiki tangga ke lantai atas. Disana hanya ada dua pintu bercat putih.
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk," titah suara dari dalam.
"Tunggu disini sebentar, ya, Mbak." Bianca mengangguk.
Tak berselang lama, perempuan itu keluar. "Masuk, Mbak." Bianca melangkah masuk ke dalam. Disana ia melihat wanita paruh baya yang masih cantik walau ada kerutan disekitar bawah mata.
"Kamu bisa duduk," kata wanita itu dengan senyum lembut. "Saya urus ini dulu."
Sembari menunggu, ia menatap ke sekeliling. Tatapannya berhenti, kala matanya tertumbuk pada foto sedikit kecokelatan, menggambarkan jika itu foto lama. Bianca merasa familiar dengan foto anak laki-laki di rak pojok ruangan.
Tapi siapa?
Bianca mencoba mengingat-ingat namun tak kunjung menemukan jawaban siapa laki-laki di bingkai foto itu. Ah, sudahlah mungkin hanya perasaannya saja.
__ADS_1