Halo, Pak Dosen!

Halo, Pak Dosen!
Episode 22


__ADS_3

Hah?! Apa tadi katanya? Cemburu?


Hahaha,mana mungkin seorang Arsen Megantara cemburu pada perempuan cebol, lemot nan menjengkelkan macam Bianca. Ia hanya ... hanya ..., tiba-tiba lidahnya terasa kelu. Hatinya kembali bergejolak, bayangan kejadian satu atau dua jam yang lalu kembali mengusiknya. Ia menatap tajam Bianca, amarahnya kembali memuncak tanpa sebab.


“Saya nggak cemburu,” elaknya dengan nada sedikit tinggi, “Mana mungkin saya cemburu dengan perempuan macam kamu!” Ia menatap jijik ke arah Bianca.


“Dari pada kamu tanya hal yang nggak bermutu lebih baik kamu bersihin seluruh ruangan apartemen saya kecuali ruangan itu,” lanjut Arsen lalu beranjak dari sofa, ia melangkah ke arah ruang kerjanya. “Yang bersih, jangan sampai ada debu atau noda yang menempel.” Selanjutnya lelaki itu masuk ke dalam disusul suara bantingan pintu.


Brak!


Bianca terlonjak di tempat. Niatnya yang ingin menjahili Arsen, kini ia mendapat semburan manis nan keji plus bonus bantingan pintu. Mengingat perintah serta tatapan jijik yang lelaki itu tujukan kepadanya seolah ia merupakan bakteri yang patut di musnahkan. Kalau tidak ingat jika Arsen itu dosennya, Bianca sangat ingin sekali menimpuk lelaki itu saking gondoknya.


“Dasar dosen laknat, sehari nggak marah kayaknya mulutnya langsung gatal,” dengus Bianca, ia melangkah ke arah dapur dengan hentakan kaki kesal.


Arsen mendudukkan diri di kursi kebesarannya, kepalanya menengadah menatap langit-langit ruang kerja sedangkan matanya tampak kosong. Perasaan bingung hinggap di hati, perkataan Bianca terngiang-ngiang di kepalanya.


Cemburu, ya?


Tidak mungkin, batin Arsen sembari menggeleng, tidak mungkin dirinya cemburu dengan Bianca. Sepasang matanya melirik ke arah laci meja kerja yang terbuka, ia mengambil secarik foto lama yang ia simpan beberapa tahun disana. Perempuan cantik dengan senyuman memikat, kulit putih pucat serta rambut panjang cokelat yang sangat ia rindukan. Bagaimana ia bisa cemburu dengan Bianca jika hatinya masih terbelenggu akan masa lalu?


Apa jangan-jangan ia khawatir dengan Bianca yang berhubungan dengan Bara?


Pasalnya Bara memiliki track record yang bisa dibilang buruk. Siapa sangka lelaki yang terlihat sempurna dengan segudang prestasi non-akademik ditambah lagi keluarganya menjadi salah satu penyumbang dana terbesar di kampus ternyata  pernah terlibat skandal yang cukup membuat gempar.


Berita skandal itu tidak sampai terdengar ke dosen fakultas lain dan seluruh mahasiswa kampus, hanya dosen FEB dan Fisip. Ketiga teman Bara serta lelaki itu menjadikan salah satu dosen muda FEB taruhan, sungguh Arsen tidak tahu jalan pikiran anak jaman sekarang. Bara dan antek-anteknya nyaris saja membuat


Fara-dosen muda FEB-mengundurkan diri.


Apa mungkin gara-gara itu Arsen uring-uringan, ia tidak ingin Bianca bernasib sama dipermainkan oleh Bara dkk seperti Fara. Ya, mungkin karena itu, batinnya meyakinkan. Berusaha menepis pikiran buruknya. Walaupun Bianca hobi sekali membuat tensi darahnya naik, sebagai dosen ia tidak bisa membiarkan mahasiswi


bandelnya itu terjerat skandal Bara si brengsek kelas kakap.


Suara ketukan pintu tiba-tiba menyentak Arsen dari lamunan. “Masuk,” ucapnya. Perempuan yang sempat menghiasi lamunannya masuk ke dalam dengan wajah lelah.

__ADS_1


“Pak....” panggil Bianca, penampilan perempuan itu kacau. Keringat di kening, bajunya juga


kusut.


“Jangan panggil Pak di luar kampus, apa kamu lupa?” tanya Arsen.


“Oh iya, Arsen,” ucap Bianca, “Ruangan udah bersih semua, aku udah masak buat makan malam.”


Arsen mengangguk, “ya udah ayo makan malam.” Ia beranjak dari duduknya lalu berjalan membuntuti Bianca dari belakang.


Ruang makan tampak hening, hanya ada suara dentingan sendok. Arsen berkali-kali mencuri pandang ke arah mahasiswi bandelnya. Ia ingin menanyakan perihal hubungan perempuan itu dengan Bara namun suaranya tertahan di tenggorokan. Mungkin belum waktunya ia memberitahu Bianca, apa lagi dengan sifat keras


kepala perempuan itu pasti mahasiswinya tidak akan percaya kepadanya.


Tiba-tiba Arsen teringat kejadian saat ia marah-marah tidak jelas ditambah membanting pintu dengan keras, rasa bersalah menghinggapi hatinya. Ia berdeham, “maaf,” gumamnya pelan.


Bianca mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa, Pak?”


Arsen menghela napas panjang, “maaf, aku tadi terlalu kasar.”


***


Suasana Cafe Zoe sebelah kampus sangat ramai mayoritas diisi oleh mahasiswa universitas jingga. Lelaki berbalut kaos putih dilapisi jaket denim berjalan masuk, matanya menyapu ke seluruh penjuru mencari ketiga sahabatnya. Melihat si cepak Alvin melambaikan tangan, ia tersenyum  lalu menghampiri sahabatnya.


“Woy, Bar,” sapa Davin begitu Bara mendaratkan pantatnya di kursi yang berhadapan dengannya.


“Lo kemarin kena keroyok grupnya si Willy?” tanya Vito langsung.


Bara mengangguk, ia menyeruput minuman yang dipesankan sahabatnya. “Sebelum ke kampus, grupnya Willy nyerang gue di jalan anggrek depan taman kota,” terang Bara.


“Wah parah, kapan nih kita ajak anak-anak yang lain?” tanya Alvin berapi-api, ia


tidak terima sahabatnya dikeroyok.

__ADS_1


Bara dengan cepat menggeleng, “nggak usah, lagian gue udah nggak apa-apa kok.” Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya ketika teringat Bianca menolongnya. “Sebenarnya selama di keroyok gue ditolong seseorang.”


Ketiga lelaki itu mengernyit lalu saling berpandangan, “siapa?”


“Bianca anak FEB,” balas Bara dengan cengiran lebar.


Kening Davin berkerut samar, ia seperti kenal dengan perempuan yang dibicarakan sahabatnya. “Bianca anak FEB,” gumamnya masih berusaha mengingat-ingat. “Dia temannya Marsha pacarnya Agam itu bukan? Bianca Almeera Anatasya?”


“Gue nggak tahu nama lengkapnya,” balas Bara sembari menatap keluar jendela.


“Cakep, nggak?” tanya Vito antusias, Bara mengangguk.


Davin menyodorkan ponselnya yang menunjukkan akun instagram Bianca kepada sahabatnya. “Ini bukan?”


Bara mendelik di tempat, “iya, itu,” sahutnya.


Vito dan Alvin merebut ponsel Davin, ia menatap perempuan mungil dengan paras ayu di layar ponsel. “Cakep, Bar,” celetuk Alvin


Vito masih menatap layar ponsel dengan kernyitan tidak percaya, “lo serius cewek kecil ini yang bantuin lo ngelawan grupnya Willy?


Bara mengangguk mantap. “Gue serius, dia yang ngelawan tiga antek-anteknya Willy tanpa bantuan gue.”


Davin berdecak kagum, seringaian tercetak di wajahnya. “Menarik,” ucapnya.


Alvin, Vito dan Bara paham dengan kata ‘menarik’ yang dilontarkan sahabatnya, games yang sudah lama tidak mereka mainkan akan dimainkan lagi. Davin menatap Bara lurus-lurus. “Gimana, Bar? Lo mau main lagi?” tanya lelaki itu.


“Gue bakalan nyerahin mobil ferrari gue,” lanjut Davin tersenyum culas.


“Gue nyerahin motor ducati kesayangan gue,”sahut Vito ikut-ikutan.


“Gue nyerahin mobil audi gue,” celetuk Alvin menambahi.


Bara menatap ketiga temannya secara bergantian, entah kenapa ada sedikit keraguan di dalam hatinya. Ia menimbang-nimbang sejenak, “kali ini gue kayaknya mundur.”

__ADS_1


Davin menatap sahabatnya tidak percaya, “serius, kita udah lama nggak main game ini Bar. Masa lo mundur sih.”


Bara terdiam, benar juga. Semenjak skandal setahun yang lalu, ia dan sahabatnya tidak bermain game ini. Lagi pula hadiah taruhan lumayan juga. “Oke, gue terima,” balas Bara tanpa keraguan.


__ADS_2