
Arsen terkejut menerima berkas tentang Bianca dari Alex, bola matanya mengikuti kata demi kata. Tidak henti-hentinya ia berdecak, kehidupan perempuan itu benar-benar kacau.
Bianca merupakan anak tunggal, perempuan itu hidup bersama Ibunya yang sedang sakit. Kedua orang tuanya sudah lama bercerai, sejak usia Bianca menginjak lima belas tahun. Alex tidak mencantumkan alasan bercerainya kedua orang tua Bianca, mungkin lelaki itu belum mengulik lebih jauh karena terbatas. Ayah Bianca seoarang pemabuk, dan saat ini tidak tahu ada dimana.
Arsen meraup wajahnya kasar, tidak menyangka jika kehidupan Bianca akan seberat ini. Dari perempuan itu ia belajar rasanya bersyukur.
Arsen beranjak dari duduknya kala iris mata gelap itu menangkap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak membutuhkan waktu lama ia sudah siap dengan setelan kemeja dan celana kain, tangannya menyambar tas di meja kerjanya lalu keluar kamar.
Hari ini Arsen memang menginap di kediaman Megantara mengingat Mamanya itu lagi-lagi memaksanya pulang, kali ini dengan ancaman akan dicoret dari kartu keluarga jika dirinya tidak pulang. Langkahnya terhenti di dapur, ia menatap Mamanya yang sibuk dengan peralatan memasak. Dirinya mengambil tempat duduk di kursi dekat pantry.
Walaupun keluarganya bisa dibilang kaya tujuh turunan, Mamanya itu tidak memperkerjakan juru masak. Karena wanita paruh baya itu bisa dibilang ahli dalam segala hal salah satunya memasak, maka dari itu dirinya ingin sekali memiliki istri seperti Mamanya. Karin merupakan role model-nya untuk mencari pasangan hidup.
"Ma, Papa mana?" tanya Arsen seraya celingukan mencari keberadaan pria paruh baya itu.
"Pagi tadi buru-buru flight ke Bandung, katanya masih ada yang harus diurus," jawab Karin, ia menyodorkan sepiring omellete kepada anak bungsunya.
"Jadi gimana? Udah dapat?" tanya Karin, wanita itu tersenyum, "jangan lupa ulang tahun Mama sebentar lagi. Kamu tahu kan resikonya, kamu harus menerima wanita pilihan Mama kalau kamu belum punya kekasih."
Arsen melahap habis omelette buatan Mamanya, enak seperti biasa. Ia mengangguk menanggapi sang Mama, "Arsen tahu resikonya."
Kemudian ia menyeringai, "dan itu nggak bakalan terjadi, Ma. Arsen udah punya calon," balasnya.
Karin melongo tidak percaya, "kamu serius?"
Arsen beranjak dari duduknya, ia mengecup pipi Mamanya sebelum berlalu ke garasi. "Arsen nggak pernah seserius ini," ucapnya lalu mengedipkan sebelah matanya.
***
Pagi ini mata kuliah pertama diisi oleh Arsen, Bianca yang biasanya selalu dongkol entah kenapa sudut pandangnya terhadap si galak sedikit berubah semenjak kejadian kemarin. Lebih tepatnya saat Arsen meng-iyakan permintaannya. Ternyata dosennya tidak seburuk itu.
"Bi," panggil Abel sembari menoel lengan Bianca dengan bolpoin.
"Gue ada gosip baru," lanjut Abel, sedangkan Bianca mendengkus. Mulai lagi, masih pagi sahabatnya itu sudah mengajaknya bergosip. Ia tidak heran jika Abel begitu update, mengingat perempuan itu mengikuti grup lambe turah kampus.
Melihat Bianca yang diam, Abel kembali melanjutkan. "Masa tadi pagi grup lambe turah kampus gempar," ucapnya hiperbola.
Bianca yang mulai penasaran, kali ini mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Abel. "Gempar?"
__ADS_1
Abel mengangguk cepat, "masa iya ada yang nyebarin foto Pak Arsen jalan sama cewek kemarin siang di restoran seafood."
Untung saja Bianca tidak sedang minum, jika perempuan itu sedang minum bisa dipastikan wajah Abel basah terkena semburan maut Bianca. "Foto?" tanya Bianca pelan nyaris berbisik. Badannya kaku, takut tertangkap basah.
Abel manggut-manggut, "gue jadi penasaran kayak gimana pacarnya Pak Arsen."
Alis Bianca bertaut, "lo nggak tahu cewek di foto itu?"
Abel menggeleng, "gue nggak tahu soalnya ceweknya munggungin. Lo kenapa ... gelisah gitu?"
Bianca mengerjap, ia mengulas senyum tipis. "Gue nggak gelisah, perasaan lo aja kali," balasnya, "lo masih punya foto Pak Arsen sama cewek itu, gue pengin lihat." Abel menyipitkan matanya tak urung menyerahkan benda pipih itu kepada Bianca.
Bianca bernapas lega, benar, fotonya disitu membelakangi kamera. Untung saja Dewi Fortuna berpihak kepadanya, ia mengembalikan ponsel Abel. "Yah ... ceweknya nggak kelihatan," ucapnya pura-pura kecewa.
"Bi," Abel menatap sahabatnya curiga, "tumben lo penasaran sama beritanya Pak Arsen, biasanya lo nggak peduli sama beritanya si galak."
Bianca diam, bingung mencari alibi. Iris matanya menangkap lelaki panjang umur yang baru saja dibicarakan memasuki kelas. Lagi-lagi entah sudah keberapa kalinya Bianca bernapas lega. "Bel, itu Pak Arsen udah datang."
"Selamat Pagi," sapa Arsen, lelaki itu meletakkan tasnya di meja depan. "Hari ini kita kuis."
Beberapa anak mendesah kesal, dosen galak itu tidak berhenti membuat kejutan untuk mahasiswanya, ralat, bukan kejutan lebih tepatnya penyiksaan. Baru kali ini, Bianca senang dengan adanya kuis. Karena kehidupan damai di kampusnya terselamatkan.
***
Kelas selesai tepat pukul sebelas, beberapa mahasiswa keluar dari kelas termasuk Bianca dan Abel. Kedua perempuan itu berjalan ke kantin fakultas. Bianca sedari tadi mencari alasan untuk kabur menemui Arsen, ia harus membicarakan perihal gosip itu secepatnya.
"Bel," panggil Bianca, "lo duluan ke kantinnya, gue mau balik ke kelas. Ada yang ketinggalan."
Abel manggut-manggut, "ya udah gue duluan, ya," ucapnya lalu masuk kedalam lift.
Bianca berlari ke kelasnya dengan raut panik, walaupun ia beberapa jam yang lalu merasa lega namun tetap saja ia takut jika anak kampus tahu. Langkahnya terhenti di depan pintu kelas yang terbuka, lelaki yang dicarinya masih duduk disana sibuk mengecek hasil kuis mahasiswinya.
"Pak Arsen," panggil Bianca ia berjalan mendekat ke arah si galak. Napasnya tidak beraturan, setelah napasnya teratur ia kembali membuka suara. "Ada gosip, Pak. Saya...."
Arsen menengadah menatap perempuan didepannya yang tampak gelisah, "saya tahu," jawabnya santai.
"Pak, saya harus gima—"
__ADS_1
"Justru jika kamu kesini bukannya nanti memperparah gosip?" tanya Arsen masih tenang. Bianca diam berusaha mencerna perkataan Arsen.
Satu detik...,
Dua detik...,
Tiga detik....
Ah, benar juga, pikir Bianca. Ia merutuk dalam hati, kenapa otaknya selalu berjalan lambat dari biasanya. "Ya sudah, Pak. Kalau begitu saya pamit."
Bianca berjalan dengan cepat, tetapi baru beberapa langkah si galak memanggilnya. "Bianca."
"Iya, Pak?" Perempuan itu berbalik menatap Arsen yang sedang membereskan laptopnya.
"Jangan lupa Minggu malam Senin ini, saya jemput kamu di indekos," kata Arsen mengingatkan.
Tidak mungkin Bianca membiarkan Arsen menjemputnya di indekos, itu sama saja menggali kuburan sendiri. Pasti kakak tingkat yang satu indekos dengannya geger karena dosen idola kampus datang menjemputnya.
"Jangan, Pak!" ujar Bianca suaranya naik satu oktaf. Arsen mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya kenapa.
"Indekos saya kebanyakan kating satu kampus," terang Bianca. "Jemput di depan gang aja." Arsen mengangguk kemudian berjalan keluar kelas.
***
"Hari Minggu bakery libur," kata Karin memberi tahu kepada seluruh pegawainya.
Bianca lega setidaknya ia tidak perlu izin pulang lebih awal. Air muka Vivi, Cia dan yang lainnya terlihat merekah seperti baru saja mendapat doorprize saking senangnya.
Seperti kemarin-kemarin, Bianca pulang terlambat. Ia membantu Karin membuat resep baru. Keduanya diam sibuk dengan adonan masing-masing, hingga suara Karin memecah keheningan.
"Bi, Minggu malam Senin kamu ada acara?"
Bianca tersenyum tidak enak, "maaf Bu Karin saya ada acara."
Karin menghela napas panjang, "sayang sekali."
Wanita paruh baya disampingnya bertanya lagi, kali ini cukup membuatnya nyaris menjatuhkan mixer. "Kamu sudah punya pacar, Bi?"
__ADS_1
Bianca bingung ingin menjawab apa, ia tidak punya pacar sungguhan. Kalau pacar pura-pura, ia punya. "Saya punya, Bu," jawab Bianca ragu.
Karin mendesah kecewa, padahal ia ingin mengenalkan Bianca dengan Arsen. Akhir-akhir ini dirinya merasa klik dengan perempuan itu. Tetapi sayang sekali, Bianca sudah punya kekasih.